Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Asri Hartanti on Ahaa Channel

Memperingati Hari Ulang Tahun Indonesia yang ke-77 Apakah Cukup dengan Euforia Selebrasi Memeriahkan

Rembuk | Friday, 19 Aug 2022, 10:19 WIB

17 Agustus 2022 adalah hari ulang tahun negara Indonesia yang ke-77. Sebagai Warga Negara yang baik, tentu saja kita harus memeriahkan hari kemerdekaan ini dengan mengadakan berbagai macam acara seperti lomba-lomba makan kerupuk, tarik tambang, panjat pingan, dan lain-lain. Sedangkan untuk acara dengan lingkup yang lebih besar, setiap kecamatan atau kabupaten di Indonesia mengadakan karnaval yang diikuti oleh murid-murid sekolah, instansi-instansi yang terdapat di kecamatan atau kabupaten tersebut.

Sekilas memang tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Tidak ada yang salah dengan merayakan hari kemerdekaan sebuah negara. Tidak ada yang salah dengan euforia-euforia tersebut. Namun, tidakkah terlintas sebuah pemikiran bahwa negara ini tidak membutuhkan selebrasi-selebrasi seperti tersebut di atas? Mengingat betapa kritisnya kondisi negara ini secara ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan?

Secara ideologi, negara ini sedang mengalami yang namanya ketergoncangan sedemikian rupa, sehingga diperlukan adanya program-program untuk menegakkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Sementara kita tahu, Undang-Undang Dasar 1945, yang merupakan turunan dari pancasila, mengalami pelecehan di sana-sana. Dan ironisnya, pelakunya adalah pemerintah sendiri. Pasal 33 ayat 3 misalnya, yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sama sekali tidak diindahkan. Pemerintah ‘menjual’ Sumber Daya Alam dengan kamuflase investasi asing secara liar.

Secara politik, pertahanan dan keamanan, kondisi negara ini tidak kalah remuknya. Banyak beredar di media masa tentang berita Warga Negara Cina yang dengan leluasa masuk ke Indonesia bahkan di masa pandemi. Indonesia juga kelihatan tidak bernyali ketika negara-negara seperti Palestina mengalami kedzoliman luar biasa dari Israel. Kita hanya mengirimkan ucapan turut bersedih dan dukungan berupa do’a dan bahan makanan pokok untuk mendukung negara ini.

Lalu, yakinkah kita bahwa selebrasi-selebrasi untuk memeriahkan hari kemerdekaan negara ini adalah yang memang diperlukan bahkan dari generasi muda seperti anak-anak usia sekolah? Jawabannya tentu tidak. Negara ini membutuhkan pemikiran-pemikiran serius untuk mengatasi krisis multidimensi tersebut di atas, apalagi di hari uang tahunnya yang ke-77 ini.

Dalam negara yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, selebrasi-selebrasi semacam ini tidak mungkin membudaya dan dibudayakan. Negara ini akan lebih mengutamakan hal-hal yang sifatnya tidak simbolik atau sekedar memeriahkan suatu peringatan. Apalagi di situ, hal-hal yang dilarang dalam Islam akan terjadi, seperti berikhtilat. Di negara ini, rakyatnya terutama generasi muda akan sibuk dengan penelitian-penelitian, belajar, dan jihad mereka. Dan ini adalah sebaik-baiknya usaha untuk mengisi kemerdekaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image