Menilik Status Polusi Perairan Kita, Penggemar Seafood Harus Tahu

Image
Holy Wahyuni
Edukasi | Friday, 05 Aug 2022, 11:46 WIB
Sumber: pixabay.com, ilustrasi kepiting di perairan pantai

Olahan makanan hasil laut atau yang lebih familiar kita kenal dengan seafood memiliki banyak penggemar di tengah masyaraka. Salah satu seafood yang sangat digemari adalah olahan kepiting, yang akan banyak kita ulas pada tulisan ini.

Mendengar kata kepiting, spontan dalam benak kita pasti sudah tergambar hidangan seafood yang dipadu dengan bumbu lezat. Memang menggiurkan, maka wajar konsumen kepiting bukan hanya di tingkat lokal, namun menembus pasar ekspor untuk kancah internasional.

Jawa Timur sendiri, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, menjadi salah satu provinsi yang memiliki tingkat produktivitas tangkapan kepiting cukup tinggi. Laju produksinya lebih dari 38,9%. Beberapa kapubaten/kota yang menjadi sentra tangkapan kepiting antara lain; Kabupaten Sidoarjo, Gresik, Probolinggo, Pasuruan, dan Kota Surabaya.

Namun, pernah tidak kita merenungkan, selain terdapat kandungan gizi, kandungan sampingan apa saja yang terdapat dalam kepiting tersebut. Serta pernahkah kita bertanya-tanya, apakah perairan kita cukup aman dari zat polutan berbahaya. Tentu saja selain menjadi penikmat kita juga perlu banyak menggali informasi terkait hal tersbut.

Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa kabupaten atau kota sentra kepiting di atas, juga memiliki tingkat industrialisasi yang pesat. Apa hubungannya? tentu saja ada. Salah satunya dari industri tersebut, dihasilkan sumber polutan yang bisa terbawa ke perairan jika industri memiliki kontrol limbah yang terbatas.

Salah satu zat polutan yang dapat mencemari perairan adalah logam berat. Beberapa logam berat meliputi; merkuri, timbal, tembaga, cadmium, kromium, dan lain sebagainya. Lantas, bagaimana cara mereka memasuki tubuh kepiting atau hewan laut lainnya kemudian masuk ke tubuh manusia? Proses ini juga yang penting untuk kita dalami.

Alur masuknya polutan pada kepiting

Berbagai sumber pencemaran berasal dari aktivitas antropogenik. Apa saja yang termasuk dalam aktivitas antropogenik? contohnya adalah pertambangan, peleburan logam, industri rumah tangga, dan beberapa jenis industri lainnya yang beresiko menghasilkan limbah mengandung polutan.

Selanjutnya limbah tersebut jika tidak disertai dengan kontrol penyaringan yang baik, akan membawa polutan larut ke dalam air dan kemudian mengendap di sedimen, salah satunya adalah logam berat. Pasalnya, logam berat ini bisa bersifat toksik, dan masuk ke dalam tubuh binatang laut, seperti kepiting.

Kepiting memiliki kebiasaan membenamkan dirinya di dasar perairan/sedimen. Jika kadar polutan logam berat secara terus menerus dalam jangka panjang mencemari air dan sedimen, maka logam berat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kepiting melalui tiga komponen, yaitu; melalui saluran pencernaan, permukaan tubuh, dan melalui insang.

Apakah jika sudah terperangkap dalam tubuh kepiting logam berat tersebut tidak bisa hilang? Memang, secara umum, logam berat yang masuk bisa bersifat sementara dalam ruang simpan, dan kepiting memiliki mekanisme pengeluaran yang disebut ekskresi dan defekasi. Dengan kata lain logam berat bisa jadi tidak terikat kuat di dalam sel kepiting dan dapat dieliminasi oleh tubuh.

Tetapi terdapat beberapa pengecualian untuk jenis logam berat seperti merkuri (Hg), tembaga (Cu), kadmium (Cd), kromium (Cr) dan timbal (Pb), yang mana mereka semua dapat terikat erat pada tempat-tempat tertentu, sehingga memungkinkan terakumulasi dalam jaringan apalagi jika paparan terjadi secara terus menerus. Ini yang kemudian perlu kita waspadai.

Bagaimana status polusi perairan kita?

Berdasarkan ulasan di atas, terdapat beberapa jenis logam berat yang sangat sukar tereliminasi dari tubuh kepiting, seperti merkuri, timbal, cadmium, kromium, dan tembaga. Nah, sehingga menjadi penting bagi kita untuk mengetahui dan mengkases monitoring status polusi di perairan kita. Seperti yang pernah saya kerjakan melalui aktivitas riset bersama tim pada tahun 2020 yang lalu. Harapannya dapat menjadi sebuah informasi penting sekaligus evaluasi bagi pihak yang terkait.

Tim riset kami, mengambil sampel kepiting dari tiga lokasi perairan pesisir Utara Jawa Timur, yakni di perairan Kabupaten Sidoarjo, Gresik, dan Probolinggo. Hasilnya, pengujian kadar logam berat merkuri di tiga perairan tersebut masih berada di bawah ambang batas baku mutu yakni 0,01 mgkg-1 dari ambang batas baku mutu 0,5 mgkg-1. Kendati demikian, hendaknya tetap menjadi kewaspadaan, terutama pada kontrol limbah agar kadar merkuri tidak beresiko mengalami peningkatan di kemudian hari.

Sementara itu, kabar buruknya, kadar tembaga, kadmium, timbal, dan kromium pada kepiting yang menjadi sampel kami, melebihi ambang batas baku mutu. Fakta ini sangat ironis jika dibiarkan tanpa tindak lanjut dari stake holders. Karena selain menandakan tingkat polusi perairan kita yang tinggi, ini juga bisa membahayakan kesehatan masyarakat yang mengonsumsi secara berlebihan.

Apa saja dampak kesehatan yang bisa terjadi? antara lain; teratogenik (bayi mengalami ketidaknormalan syaraf termasuk retardasi mental, autis, gangguan jalan, pendengaran, penciuman, bicara, dan menelan), refleks yang tidak normal (tremor), gagal ginjal, serta gangguan imunologis. Selain itu juga dapat menimbulkan efek karsinogenik. Ini menjadi PR bagi banyak pihak.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Kesekian Kali

Image

Puskesmas Terbaik DKI Jakarta Berdasarkan Review Terbaru

Image

Ruang Lingkup Morfologi

Image

Pengaruh k-pop terhadap remaja

Image

Prodi Hukum Bisinis Unismuh Makassar Siap Gelar Kuliah Perdana Awal Desember

Image

Video Kreatif Keren Tanpa Asap Rokok Lapas Perempuan Palembang Juara 1 pada HUT Yayasan Jantung Seha

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image