Melihat Hari Pelajar Internasional Sebagai Pelajaran

Image
Bintang A. L.
Curhat | Thursday, 18 Nov 2021, 16:15 WIB

Kemarin saya membaca tulisan Yantina Debora di situs tirto[dot]id yang membahas sejarah Hari Pelajar Internasional 17 November. Saya sepakat bahwa untuk memperingati sebuah momen, perlu dikenali dulu kejadian yang melatarbelakanginya. Agar sebagai manusia, kita memiliki daya renung dari kontemplasi makna yang terjadi di masa itu. Yang kemudian diartikulasikan sebagai acuan dalam mengendalikan situasi dunia sekarang.

Penulis artikel menjelaskan bahwa dulu sebelum Perang Dunia II ada beberapa kejadian monumental di Eropa yang mengisahkan bagaimana lahirnya Hari Pelajar Internasional. Saya ingin mengutip satu peristiwa saja dari sana.

Bertahun-tahun setelah Adolf Hitler berkuasa di Jerman, ia mencaplok dengan agresif beberapa wilayah di luar perbatasan sebagai milik German Reich. Salah satunya Cekoslowakia yang ketika itu disebut protektoral Bohemia dan Moravia.

Di saat peringatan 21 tahun kemerdekaan Republik Cekoslowakia yang diadakan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Charles University di Praha (28 Oktober 1939), terjadi penghadangan secara brutal oleh pasukan Nazi yang mengakibatkan 15 mahasiswa terluka parah dan satu diantaranya meninggal akibat luka tembak.

Lalu ribuan rekanan mahasiswa melangsungkan prosesi pemakaman korban dengan seizin pemerintah protektorat dan diikuti dengan unjuk rasa menentang pasukan Nazi. Tetapi dibungkam dengan paksa oleh pasukan tersebut sehingga memicu terjadinya keributan dan kekerasan. Dengan inilah, seolah Nazi mendapat alasan untuk menutup semua universitas di Ceko demi melemahkan perlawanan balik para aktivis mahasiswa.

Ternyata kekerasan dan represi itu tidak cukup. Mereka juga menangkap lebih dari 1.200 mahasiswa untuk dikirim ke kamp konsentrasi Sachsenhausen. Di tanggal 17 November 1939, dieksekusilah tanpa proses pengadilan sembilan pengunjuk rasa yang terdiri dari seorang profesor dan delapan mahasiswa. Selang dua tahun dari peristiwa itu, diadakan International Students Council di London yang menghasilkan deklarasi untuk memperkenalkan tragedi tersebut sebagai Hari Mahasiswa International.

Lebih jauh, aksi demonstrasi di Ceko ini mampu menginspirasi revolusi sistem di Cekoslowakia dari sosialis menjadi demokrasi di tahun 17 November 1989. Pergantian sistem yang terjadi disebut ‘Velvet’ sebab transisi kekuasaan berlangsung relatif damai dan tanpa kekerasan.

Mari Berkaca Lagi

Jika dulu hegemoni ideologi oleh negara beradidaya dengan kekerasan fisik alias perang. Kita tahu kan lahirnya perang dunia I dan II memang untuk ajang perebutan kuasa agar leluasa mengeksploitasi energi. Di masa kini, hal itu tetap ada namun dengan rupa perang pemikiran dan kebijakan multilateral. Media biasa menyebutnya dengan neoimperialisme featuring neoliberalisme. Kalau begitu, bagaimana cara penyikapan mahasiswa?

Manusia yang menduduki kesempatan sekolah di perguruan tinggi bertanggung jawab mengontrol relasi antara rakyat dengan negara. Karena intelektualiasnya harus digunakan untuk menerjemahkan kualitas pelayanan pemerintah akan kebutuhan warganya. Apakah itu telah betul-betul berpihak pada kepentingan rakyat atau justru pada oligarki. Di sinilah sambungan vokal terjadi.

Mahasiswa dengan idealisme ideologinya sedang mengukur ketepatan pelaksanaan tugas pemimpin. Kalau ada yang salah, kritik dari masyarakat disuarakan secara lantang. Dan sudah semestinya mereka yang menjabat itu menggunakan telinganya untuk mendengarkan bukan mulutnya untuk membantah kekeliruan yang terjadi.

Itu jadinya ketika mahasiswa sedang ‘waras’. Kalau mereka sedang terlena kemapanan -karena perang pemikiran memang tak kasat mata- ya yang terjadi sensor kepekaannya sedang hibernasi. Kesengsaraan rakyat tidak terdeteksi. Ketimpangan hukum dianggap angin lalu padahal penguasa sedang mempertontonkan yang disebut ketajaman hukum hanya ke bawah, selebihnya tumpul ke atas.

Mengherankan, kondisi sekarang yang tidak baik-baik saja, tidak cukup membuka kewarasan mahasiswa untuk memaksa pemerintah agar berbenah. Banyak perjuangan mengkritik yang menemui ajal karena di tengah jalan terjadi ‘penyuapan’ kepada aktivis mahasiswa. Akhirnya mereka menyudahi perjuangan. Justru berbalik arah mengabdi pada kekuasaan, menceraikan rakyat.

Melalui peristiwa 98, mahasiswa berhasil menggulingkan orde baru dan mengawal reformasi. Kenapa mereka melakukan itu? Karena mereka mendengar ketidakbersan, mampu mendeteksi problem rakyat dan memperkirakan apa yang seharusnya dilakukan. Lalu, setelah itu muncul pekerjaan rumah. Bagaimana mengisi kemenangan itu agar kehidupan bernegara sungguh-sungguh tentram.

Para pejuang reformasi itu di tahun 2021 telah menduduki posisi di pemerintahan. Dan hasil kebijakan mereka ternyata sama saja (jika tidak boleh dikatakan lebih buruk). Oligarki tetap memimpin secara remote. Yang ada di tampuk kekuasaan hanya berperan sebagai stempel kepentingan yang berangkat dari sebutan petugas partai.

Mereka ini yang meratifikasi peraturan pemerintahan. Kita yang kena apesnya. Mereka mendeforestasi kalimantan, bahkan sampai papua. Kita yang terdampak kerakusan itu. Kalau kemarau, kebakaran hutan. Kalau musim hujan, longsor dan kebanjiran. Mereka yang keluarkan perpu tentang corona dengan dalih memitigasi pandemi. Ternyata dengan itulah mereka melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Sampai sini, saya tidak akan melanjutkan mendaftar kesalahan pemerintah. Bisa terlalu panjang.

Dengan semua ini, ayolah sadar wahai mahasiswa. Dengan pemikiran, kita koreksi pemerintah melalui berbagai kanal. Mumpung masih diberi kesempatan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Belum ada judul

Tambahan Beban Bagi Negara

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI GENERASI MILENIAL

Image

Mahasiswa PMM-UMM Membantu Pendidikan di TPQ Baitussalam Dusun Jetis, Desa Mulyoagung

Image

Hukum Kontrak dalam Muamalah Islam

Image

Elvano Snack Sediakan Cemilan Sehat dan Buka Lapangan Kerja

Image

Peluncuran E-Book, 'Berbeda, Berdialog dan Berjuang Bersama'

Image

Pengembangan metode bank syariah sebagai solusi utama pencegahan adanya riba dalam pelaksanaan kegia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image