Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Giyoto

Bicara Buah Hati di Bukit Obelix

Guru Menulis | Tuesday, 05 Jul 2022, 12:56 WIB

Bila kita tuliskan, tak cukup rasanya tinta dan kertas yang ada di hadapan ini. Selalu ada hal baru yang dimunculkan. Sore itu, sengaja Aku iseng tak memberi tahu akan ke mana Kami pergi. Deeba, panggilan anak perempuan kesayanganku. Anak tersebut lumayan lengket denganku, kadang kemanapun pergi dia pengin ikut. Motor matic gambot kesayangan ku siapkan di halaman. Pelan-pelan ku pacu menuju arah matahari terbit sambil nikmati udara sore nan hangat di bawah sinar mentari sore. Seperti biasa, peri kecilku minta naik motor di jok depan. Lengkap sudah syarat wajib berlalu lintas. Helm pun sudah sampai bunyi KLIK, bersepatu rapih, tak kelupaan jaket lengkap pun melekat.

"Ayah, Kita mau kemana to?" tanya gadis kecil.

Sengaja Aku pura-pura tak mendengarnya, Kami terus bergerak menuju tempat yang viral baru-baru ini. Foto-fotonya pun banyak muncul di medsos. Sepanjang jalan Kami bersenda gurau. Sore itu Kami hanya berdua karena Istri tercinta dan jagoanku ada acara sekolah sampai malam.

"Yah, kayaknya pernah lewat sini, ya?" tanya anak perempuan berambut pirang itu. Ketika jalan mulai menanjak dan berliku.

"Betul, Dek. Kita pernah lewat sini saat mudik lebaran." jawabku singkat.

Yup, jalan itu merupakan alternatif menuju desa kampung halamanku saat dilahirkan pertama kali di dunia. Kondisi jalan berliku dan menanjak menjadi tatangan tersendiri bagi pengendara. Sebelah kiri tebing, sebelah kanan jurang lumayan dalam.

Tak berapa lama, Kami sudah sampai di pertigaan jalan, belok ke arah kiri menuju tempat rahasia yang ku maksud.

Benar saja, setelah ku arahkan motorku ke jalan tersebut, langsung disambut tanjakan lebih dari 45 derajat kemiringan. Wuih, motor kesayanganku melalap tanjakan dengan tenang dan damai. Hampir tak terasa berat menanjak di jalan tersebut.

Penumpang kehormatan tiba-tiba bertanya"Ayah, kok gak sampai-sampai?"

"Sebentar lagi, Cantiknya Ayah." jawabku sambil terus memacu motor melibas jalan berliku.

Kurang lebih seperempat jam kami berjibaku menaiki bukit. Akhirnya sampai juga ke tempat rahasia yang sudah bukan rahasia lagi. Gadisku langsung membaca papan selamat datang yang terpampang di pintu masuk.

"Wah, asyiik! Kenapa ayah tidak ajak Mas sama Mama?" Deeba teriak kegirangan.

Selama ini, ia hanya mendengar cerita dan melihat berita di televisi maupun medsos. Deeba langsung berlari menuju pintu masuk pengunjung. Selepas membayar tiket masuk, Kami berdua berjalan masuk menikmati suguhan pemandangan ciamik perbukitan yang dikemas kekinian dan sangat menarik. Kalian tahu? Tempat ini berdekatan dengan Tebing Breksi dan Candi Ratu Boko serta Prambanan. Bukit gersang itu kini menjadi tempat kongkow dan santai segala umur. Tua muda anak remaja banyak berkunjung ke sana. Bukit itu kini diberi julukan Obelix Hills yang beralamat di Klumprit, Blok I & 2, Wukirharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55572.

"Yah, siapa yang membangun tempat ini?" tanya Deeba penasaran.

"Investor, Nak!" jawabku sambil nikmati pisang goreng dan kopi panasnya.

Deeba semakin penasaran, “Investor? Apalagi itu?”

“Nak, investor itu orang yang punya uang banyak lalu digunakan untuk membangun tempat usaha seperti warung, hotel, taman rekreasi, kolam renang dan lain-lain” jawabku.

“Maka kalau kelak kamu sudah bekerja, dapat uang banyak, bisa jadi investor.” Aku menambahkan.

Deeba nampak sumringah, sambal menikmati ayam goreng dan udang krispinya. Menikmati pemandangan dari bukit Obelix kurang lengkap jika belum minum kopinya. Aku pun memesan kopi dan mendoan sebagai temannya. Mentari sore sebentar lagi akan masuk ke peraduan. Terangnya siang akan berganti gelapnya malam. Kami pun segera berkemas pulang setelah puas berfoto ria.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image