Pengamat Perkirakan Hoax Terkait Pilpres 2024 Akan Lebih Banyak Dibanding 2019

Image
Pewarta Berita Indonesia
Politik | Monday, 04 Jul 2022, 09:00 WIB
Ilustrasi

Kendati tahapan pendaftaran calon presiden (capres) beserta wakilnya masih akan berlangsung Oktober-November 2023 mendatang, namun hoax terkait capres dan partai politik (parpol) sudah mulai bermunculan.

Itu artinya, masyarakat akan mulai disuguhi berita-berita bohong, yang diperkirakan jumlahnya akan lebih banyak dibanding saat Pilpres 2019 lalu.

Sebagai informasi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat ada sebanyak 1.645 konten menyesatkan terkait Pilpres 2019 lalu. Hal itu terjadi selama kurun Agustus 2018-April 2019.

Sejumlah pengamat telah memperkirakan hal ini, salah satunya Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin.

Ujang mengungkapkan, ada beberapa alasan kuat kenapa hoax terkait Pilpres 2024 akan lebih besar dibanding 2019 lalu. Menurutnya, kecil kemungkinan elite politik hanya menggunakan cara terbuka untuk menjalankan agenda politiknya. Cara inilah yang berpotensi menimbulkan asumsi masyarakat yang dibumbui kabar-kabar bohong.

Ujang menjelaskan tidak adanya petahana membuat masing-masing calon nantinya melakukan upaya habis-habisan merebut kursi presiden.

Akan tetapi, cara yang mereka tempuh tak hanya adu argumentasi secara terbuka, namun juga menggunakan jalur tak langsung dengan menyebarkan hoaks.

"Saya melihatnya karena tidak ada incumbent, semua capres-cawapres memiliki potensi menang yang sama. Maka akan berjuang mati-matian untuk bisa menang, dalam tanda petik ya, curang-curangan, sekeras-kerasnya, termasuk dalam konteks menebar hoaks itu," kata Ujang seperti dilansir dari CekFAKTA.net, Minggu (26/6/2022).

Kedua, hoax bukan hanya menjadi senjata saat pilpres saja, namun sudah akan dipakai dalam konteks seleksi capres oleh parpol bersangkutan.Sehingga, diperkirakan hoax akan muncul lebih cepat dari agenda kontestasi. Hal itulah yang membuat Ujang merasa yakin jumlah hoax terkait Pilpres 2024 akan jauh lebih banyak dibanding sebelumnya.

Ketiga, lanjut Ujang, kurangnya komitmen dari elite politik untuk melawan hoax, meski mereka menandatangani pakta integritas, namun itu dipercaya tak cukup untuk menahan laju penyebaran berita hoaks.

Dari ketiga alasan di atas, kata dia, akan berkontribusi membuat publik kembali dijejali kabar-kabar bohong seputar penyelenggaraan pesta demokrasi 2024. Karena jeda waktu yang sangat panjang.

Ujang mengatakan, elite-elite politiklah yang membangun tim buzzer untuk memproduksi dan menyebarkan hoaks tersebut secara terstruktur, sistematis, dan masif.Pernyataan ini semakin kuat lantaran hoax selalu muncul setiap adanya argumentasi terbuka dari para elite politik ke muka publik.

"Buzzer itu kan dipelihara, diproduksi oleh elite-elite tertentu. Oleh karena itu yang paling penting itu membangun kesadaran di para elite itu," kata dia.

Melihat situasi yang demikian, Ujang berharap kesadaran masyarakat lah yang akan mampu membendung laju penyebaran berita palsu terkait pilpres. Hal itu dinilai penting demi menjaga marwah demokrasi.

Baca selengkapnya di Cek Fakta.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Kumpulan berita Indonesia terkini 2022, isu terhangat, trending topic, terpopuler dan viral hari ini di Indonesia dari Pewarta.co.id

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Peringatan HDKD ke -77, Bapas Muratara Adakan Giat Bersih-bersih Taman Makam Pahlawan

Image

Terus Mendunia, FEB UMP Gelar Konferensi Internasional ICBAEKe-3

Image

Link Download Twibbon HUT RI ke 77 2022 Premium dan Terpopuler

Image

Petugas Lapas Lubuklinggau Bersih-Bersih TMP Patria Lubuklinggu

Image

Dalam Rangka HDKD Ke-77 Tahun 2022, Lapas Batu Laksanakan Kegiatan Bersih-Bersih Tempat Ibadah

Image

MENYAMBUT HDKD KE- 77, LAPAS KLATEN MELAKUKAN BAKTI SOSIAL MEMBERSIHKAN RUMAH IBADAH

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image