Bahasa Inggris Menjadi Bahasa Ibu

Image
RESNASARI ANDINI
Gaya Hidup | Sunday, 31 Oct 2021, 23:23 WIB
Ilustrasi interaksi orang tua dan anak (Sumber : Edukasi Kompas)

Memiliki kemampuan fasih dalam berbahasa Inggris, saat ini menjadi kebutuhan setiap orang karena Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional. Hal ini akan mempermudah setiap orang dalam memahami informasi dari seluruh dunia.

Sebagian orang tua tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya sehingga hal itu dipersiapkan sedini mungkin, salah satunya dengan mengajarkan anaknya Bahasa Inggris. Kendati demikian, tak sedikit orang tua yang menjadikan Bahasa Inggris menjadi bahasa ibu untuk anaknya.

Siane Indriani dalam sebuah forum di Universitas Pelita Harapan berkata, bahwa 80% pertumbuhan otak anak usia dini lebih besar pada usia lahir sampai sebelum usia 8 tahun. Sisanya, sebanyak 20%, ditentukan selama sisa kehidupan mereka setelah masa kanak-kanak berlalu. Ada juga yang berpendapat bahwa anak pada usia golden age (0-5 tahun) dalam menyerap informasi seperti air yang langsung terserap pada sponge.

Hal ini dianggap positif bagi sebagian orang, apalagi ditambah dengan mentalitas yang sebagian orang Indonesia miliki, yaitu mental kolonial atau mental inlander dimana internalisasi inferioritas etnis atau budaya yang dirasakan oleh suatu kelompok yang pernah dijajah. Mental ini berkeyakinan bahwa nilai budaya penjajah lebih unggul daripada nilai yang dimilikinya sendiri. Sehingga orang tua yang berhasil menjadikan bahasa inggris menjadi bahasa ibu untuk anaknya dianggap orang tua hebat, orang tua yang berhasil patut diapresiasi. Namun, apakah ini menjadi tindakan yang baik pula?

Dampak yang terjadi bila anak menjadikan bahasa inggris menjadi bahasa ibu adalah sulitnya bersosialisasi. Mengapa demikian ? karena faktor lingkungan sekitar. Di Indonesia, mayoritas memiliki bahasa ibu yaitu bahasa daerah atau bahasa Indonesia bukan bahasa Inggris. Sehingga dalam interaksinya pun pasti menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Anak di usia dini tentu membutuhkan sebuah tempat atau lingkungan untuk bersosialisasi.

Hal ini terjadi kepada salah satu anak di Bandung, usianya sekitar 10 tahun. Saat ini, hidupnya menjadi eksklusif dia jadi membatasi untuk berinteraksi dengan orang lain karena bahasa ibu yang berbeda. Dirinya kurang mengerti dengan bahasa di sekitarnya sehingga sulit untuk dirinya memahami suatu informasi. Eksklusifitas ini tentu tidak baik untuk anak. Selain itu, di usia dini, banyak hal kecil yang bisa dijadikan pelajaran dari sekitarnya, namun karena keterbatasan dalam memahami bahasa, bisa menjadikan ini sebagai hambatan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Badiklat Jateng Finalisasi Dokumen Penjaminan Mutu BPSDM Hukum dan HAM

Image

Diguyur Hujan, Tak Menyurutkan Semangat Apel Pagi Lapas Terbuka Kelas IIB Nusakambangan

Image

Pembinaan Fisik, Mental, dan Disiplin Tingkatkan Kapasitas SDM Rutan Pasangkayu

Image

5 Tips Investasi yang Aman dan Menguntungkan bagi Pemula

Image

Penyuluhan Agama dari Kemenag ke Lapas Pagar Alam

Image

Hari Terakhir Public Expo, 12 UMKK Daftarkan Produknya di e-Katalog Kemenkumham

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image