Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image thomi thomas

Mempertimbangkan Cancel Culture

Eduaksi | Saturday, 25 Jun 2022, 14:52 WIB
https://ultimagz.com/opini/praktik-cancel-culture/

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan video ulasan Rhenald Khasali mengenai cancel culture. Dalam video tersebut, saya menemukan beberapa poin menarik mengenai cancel culture. Pertama, cancel culture merupakan sebuah budaya yang mempunyai tujuan positif untuk mengatur tindakan seseorang agar selaras dengan norma yang berlaku. Kedua, cancel culture telah menembus ruang media sosial. Ketiga, cancel culture mulai dianggap sesuatu yang baik dan perlahan berkembang seperti jamur pada musim penghujan. Saya pribadi menerima nilai-nilai positif dari budaya cancel culture. Namun, saya juga mempertanyakaan sisi lain dari budaya semacam ini.

Budaya cancel culture secara umum merupakan sebuah sikap masyarakat untuk memberikan sanksi sosial terhadap seseorang akibat perbuatan yang dilakukannya. Sanksi sosial yang dihasilkan dalam budaya ini tidak main-main. Sanksi yang muncul bahkan dapat sampai ranah esensial seseorang. Sebagai contoh, seorang artis yang kedapatan melakukan tindakan tidak terpuji lalu mendapatkan perlakuan cancel culture berupa pelarangan tampil di media massa dalam waktu yang lama. Hal semacam ini tentunya memberikan efek jera luar biasa. Sayangnya, pada sisi lain kita harus mencermati sebaik-baiknya dan sedalam-dalamnya.

Hal yang saya cukup termenung mencermati budaya cancel culture ini adalah mengenai konsep nilai budaya yang diukurkan. Maksud saya begini, sudahkah nilai-nilai yang digunakan dalam membentuk budaya adalah nilai yang objektif dan tepat? Bagaimana seandainya sesuatu yang diukurkan adalah opini massa yang dianggap sebagai kebenaran? Bagaimana pula bila yang dihasilkan adalah budaya like dan dislike yang diberlakukan? Pernahkah kita sejenak mencermati hal ini?

Masyarakat kita yang mengadopsi budaya Timur secara kental tentunya secara sadar atau tidak sadar menerapkan hal demikian. Akan tetapi, kita harus benar-benar mempertimbangkan tata nilai yang diukurkan. Kita tentunya tidak bisa memberikan sanksi secara semena-mena dan semaunya. Lebih-lebih, ukuran yang ada tidak benar-benar ideal. Alih-alih langsung memberikan sanksi, sebaiknya menempuh lebih dahulu dialog dan komunkasi secara efektif. Penilaian dan sanksi yang hanya berlandas suka dan tidak suka atau penilaian karena memasang unsur benci, dengki, sebaiknya kita hindari dalam kasus-kasus sanski sosial bernama cancel culture.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image