Sumpah Pemuda dan Realita Bahasa Indonesia

Image
Adichandra S
Sastra | Thursday, 28 Oct 2021, 12:32 WIB
Sumpah Pemuda Sebagai Refleksi Penggunaan Bahasa Indonesia (https://pixabay.com/id/photos/rinjani-indonesia-puncak-lombok-1155956)

Sebuah bait ke-3 Sumpah Pemuda berbunyi "Kami putra-putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia". Bahasa Indonesia menjadi pondasi ketiga bagi pemuda yang menjadi sorotan penting dalam menjalani kehidupan. Namun, bagaimana realita sesungguhnya tentang penggunaan Bahasa Indonesia?.

Lantas, apa sebenarnya pemuda itu?. Menurut UU 40 Tahun 2009, pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Hal ini menunjukkan, pemuda bisa disebut sebagai sosok rakyat Indonesia saat menginjak kelas 2 SMA.

Pada dasarnya, sumpah pemuda perlu menjadi sebuah momentum untuk mengingatkan pentingnya mempelajari Bahasa Indonesia sebagai dasar komunikasi penduduk Indonesia. Hal ini disebabkan, realita penggunaan Bahasa Indonesia saat ini bisa dibilang tengah memasuki fase kritis.

Saar ini, perkembangan teknologi telah merambah ke seluruh remaja Indonesia. Beragam musik dan video dari luar negeri kini mudah diakses melalui komputer hingga ponsel pintar. Di sisi lain, perkembangan teknologi yang masif membuat beberapa tenaga pengajar kewalahan dalam mengelola pendidikan Bahasa Indonesia yang sesuai untuk didalami kalangan remaja.

Sebagai gambaran, saat ini selera musik di kalangan remaja adalah lagu barat dan lagu Korea. Betapa banyak lagu-lagu dari idol Korean Pop (K-Pop) yang sering menempati peringkat teratas dalam trending YouTube. Selain itu, banyak ditemukan lagu-lagu barat yang memiliki jumlah penonton hingga puluhan juta akun YouTube.

Hal ini lambat laun membuat penggunaan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari kian meningkat. Menurut laman parekampunginggris.co, ada sejumlah bahasa gaul "ala anak Jaksel" yang populer digunakan seperti literally, basically, prefer, like, dan sebagainya.

Contoh lainnya, ada sejumlah kalangan remaja yang menggunakan kata Worth it dan recommended sebagai penunjuk sebuah produk layak dibeli. Hal ini membuat penggunaan bahasa Indonesia seolah "disusupi" oleh bahasa asing.

Apa yang harus dilakukan untuk menyikapi hal ini?. Menurut saya, tenaga pengajar dan orangtua perlu menanamkan berbahasa Indonesia yang intensif sejak dini kepada anak-anak hingga remaja. Di sisi lain, bagi kalangan remaja sepertinya perlu diterapkan interaksi Bahasa Indonesia yang baik dan benar selama proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Karutan Temanggung ikuti arahan Kadivpas Jateng tentang Kewaspadaan Keamanan dan Ketertiban

Image

Ketua DWP Rutan Temanggung Hadiri Pertemuan Rutin Persatuan Ibu-Ibu Pengayoman dan PIPAS Jateng

Image

Karutan Temanggung ikuti arahan Kadivpas Jateng tentang Kewaspadaan Keamanan dan Ketertiban

Image

Hadapi Indonesia Emas 2045, Begini Pesan Menko PMK Kepada Mahasiswa Baru UM Bandung

Image

Pamerkan Hasil Karya WBP, Rutan Demak Turut Ramaikan Car Free Day

Image

Mencerahkan! 414 Mahasiswa Baru Ramaikan Masta PMB UMS 2022 Gelombang 3

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image
-->