Bahasa Indonesia Telah Berubah
Sastra | 2021-10-27 16:15:38âKami Putra dan Putri Indonesia menjunjung tinggi Bahasa persatuan, Bahasa Indonesiaâ
Itulah bunyi Alinea ketiga dari ikrar sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Setidaknya hal itu yang tercatat dalam sejarah Indonesia. Ikrar dan janji para pemuda pendiri bangsa Indonesia itu memiliki tujuan yang jelas. Yaitu menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Bangsa Indonesia.
Bahasa memiliki peran yang penting sebagai identitas suatu negara. Seperti Indonesia yang memiliki beragam bahasa daerah yang memperjelas identitas bangsa kita. Namun keberagaman bahasa itu mampu disatukan dengan satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia layaknya yang tertera dalam ikrar sumpah pemuda.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan wajib diterapkan dalam kegiatan kenegaraan kita.Selain itu, Bahasa Indonesia juga dijadikan bahasa pengantar di ruang lingkup pendidikan. Hal itu bertujuan agar keberadaan Bahasa Indonesia tetap terlihat diterapkan dan masih relevan di tengah masyarakat.
Apakah hal tersebut sudah berhasil? Apakah Bahasa Indonesia masih digunakan sebagai bahasa pengantar di masyarakat? Dewasa ini penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di masyarakat belum sepenuhnya digunakan dan terdapat pergesaran bahasa, terutama di kalangan remaja.
Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini sulit ditemukan dan cukup memprihatinkan. Pasalnya remaja zaman sekarang cenderung menggunakan bahasa yang dianggap âkekinianâ yang lebih kita kenal sebagai bahasa gaul. Dengan adanya media sosial juga mempengaruhi penggunaan bahasa remaja kita. Mereka menjadi tahu dan menggunakan ungkapan-ungkapan yang sedang menjadi tren di seluruh dunia.
Disadari atau tidak, interferensi bahasa gaul saat ini kerap muncul tidak hanya di pergaulan. Bahasa gaul terkadang muncul di situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak baik dan salah.
Apakah kita sadar pergesaran bahasa yang terjadi. Tanpa disadari kita menggunakan kata âudah, aja, emangâ padahal kata yang sebenarnnya adalah âsudah, saja, memangâ. Contoh lainnya âgimanaâ yang seharusnnya âbagaimanaâ, â gini, gituâ yang seharusnya âbegini, begituâ. âbener, sebel, senengâ yang seharusnya âbenar, sebal, senangâ dan masih banyak contoh lainnya.
Perlu diingat bahwa bahasa itu akan selalu berkembang setiap waktunya. Apabila hal semacam ini dibiarkan, lambat laun Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan terancam tersisihkan oleh Bahasa Indonesia yang tidak baik ini. Berbahasa erat kaitannya dengan budaya sebuah generasi. Jika generasi Indonesia semakin jauh dengan Bahasa Indonesia yang seharusnnya, mungkin keberadaan Bahasa Indonesia akan semakin berat dalam memikul bebannya sebagai bahasa nasional dan identitas bangsa Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.