Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ria Fauzia Prasetyanti

Nasionalisme Sebagian dari Iman, Benarkah?

Eduaksi | Friday, 17 Jun 2022, 15:29 WIB

Di era modern seperti saat ini, derasnya arus globalisasi dapat dengan mudah masuk ke Indonesia. Didukung dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, kebudayaan lokal semakin tergerus oleh budaya asing yang secara leluasa hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, seharusnya kita senantiasa meningkatkan rasa nasionalisme agar tidak terpengaruh oleh budaya asing. Namun sebaliknya, kita malah terlena dengan segala kemudahan yang ada. Dengan kemudahan yang ada, budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya dan ideologi bangsa Indonesia mulai masuk dan memengaruhi masyarakat Indonesia, terutama generasi milenial pada saat ini. Dengan kata lain, Bangsa Indonesia telah dijajah oleh generasi mudanya dengan semakin memudarnya rasa nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.

Sebelumnya, apa sih nasionalisme itu? Nasionalisme merupakan suatu paham yang mengutamakan kecintaan terhadap tanah air, nasionalisme muncul sebagai reaksi terhadap penjajahan bangsa lain. Nasionalisme merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh warga negara, karena dengan adanya nasionalisme dapat memperkuat ketahanan bangsa dan diharapkan dapat memunculkan rasa persatuan dan kesatuan dalam sebuah bangsa dan negara. Sebagai generasi muda yang nantinya bertanggung jawab atas kemajuan bangsa, sudah sepatutnya kita memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Memudarnya jiwa nasionalisme, terutama pada generasi muda dapat mengancam kadaulatan sebuah bangsa, karena ketahanan bangsa menjadi lemah dan mudah ditembus oleh pihak luar.

Dalam ajaran agama islam mencintai tanah air atau nasionalisme merupakan hal yang harus dilakukan. Islam mengajarkan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman, oleh karena itu jika seseorang telah kehilangan rasa nasionalisme-nya maka seseorang tersebut telah kehilangan sebagian imannya. Salah satu bukti bahwa islam memerintahkan umatnya untuk memiliki rasa nasionalisme terdapat pada Q.S al-Baqarah ayat 126, yang berbunyi sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan yang sementara, kemudian Aku haruskan ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS al-Baqarah: 126).

Q.S al-Baqarah ayat 126 merupakan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS untuk negerinya. Selain diucapkan oleh Nabi Ibrahim, doa yang terdapat pada Q.S al-Baqarah ayat 126 juga diucapkan oleh semua nabi untuk negaranya masing-masing. Setiap nabi berdoa agar di negaranya terwujud keadilan, kemakmuran, dan rasa bangga. Ayat tersebut menjadi bukti bahwasanya para nabi sangat mencintai tanah air nya.

Melihat bagaimana islam mengutamakan rasa cinta tanah air, sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim menerapkan rasa cinta tanah air pada bangsa dan negara kita yaitu Indonesia. Nasionalisme bukan hanya sebagai wujud kecintaan dan kehormatan terhadap bangsa dan negara sendiri, tetapi juga simbol keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Oleh karena itu sebagai warga negara yang baik sekaligus sebagai muslim, kita wajib memiliki rasa nasonalisme yang tinggi. Nasionalisme dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencintai produl lokal Indonesia, mematuhi aturan yang berlaku, melestarikan budaya Indonesia, memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar, menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia, dll.

Penulis:

Ria Fauzia Prasetyanti (Mahasiswa Sastra Inggris, UNISSULA)

Dosen Pengampu: Dr. Ira Alia Maerani, S.H., M.H.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image