Berhitunglah dengan Kalkulator Akhirat
Agama | 2022-06-14 10:02:20
Semua orang pasti tahu sebuah mesin yang digunakan untuk perhitungan atau menghitung. Ya, kalkulator. Sebuah benda yang diciptakan di era modern ini yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan olah angka.
Kalkulator sering digunakan oleh orang dari bermacam profesi. Sebab kalkulator itu juga diciptakan sesuai dengan kebutuhan profesi. Misalnya kalkulator yang digunakan oleh pedagang pasti berbeda dengan kalkulator yang digunakan oleh orang yang bekerja di bidang teknik sipil, statistik, atau akuntan.
Dalam bahasa agama perhitungan itu disebut hisab. Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah atau menentukan masuknya bulan Ramadhan.
Sebagai umat Islam sering kata hisab dipasangkan dengan yaumul (hari) sehingga menjadi yaumul hisab. Yaumul Hisab adalah hari penghitungan. Dimana ada peristiwa penghitungan amal baik manusia semasa hidup di hadapan Allah SWT. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya semasa hidup di dunia hingga kemudian mendapat balasan yang setimpal.
Mari perhatikan ayat 18 dalam surat Ar-Ra'd. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhan, mereka (disediakan) balasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki semua yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu. Orang-orang itu mendapat hisab (perhitungan) yang buruk dan tempat kediaman mereka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman." (QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 18).
Nah sampai di sini kita bisa paham bahwa yang namanya perhitungan pasti ada dan terjadi, baik dalam kehidupan dunia lebih-lebih di akhirat kelak.
Salah satu contoh aplikasi kalkulator akhirat yaitu perumpaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada tiap tangkai ada seratu biji (1×7×100). Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.
Tulisan ini mencoba memberi pandangan model pemikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini yang mengabaikan perhitungan akhirat yang mestinya lebih diutamakan.
Manusia di zaman sekarang baik secara pemikiran ataupun tindakan, mereka kian individualistis. Kehidupan yang dikenal dengan nafsi-nafsi (elo elo, gue gue). mulai membudaya nyaris mengalahkan semangat hidup berjamaah dan saling tolong menolong (ta'awun) antar sesama.
Hubungan antar manusia tidak lagi didasari pada ukhuwah islamiah atau ukhuwah insaniyah tetapi semua berlandas bisnis yang orientasinya adalah keuntungan duniawi.
Padahal kehidupan dunia hanyalah bersifat sementara. Bahkan hubungan antar manusia dalam konteks sosial pun bersifat kepentingan.
Artinya sepanjang orang yang diperlukan itu penting dalam menunjang kesuksesan dunia, maka sepanjang itu pula relasi akan berlangsung. Hubungan yang sangat pragmatis.
Itulah yang disebut habis manis sepah dibuang. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini.
"...kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfal 8: Ayat 67)
Bagi orang yang cerdas tentu saja dia akan memilih keuntungan dalam jangka panjang. Mengutamakan hasil yang dipetik untuk selamanya daripada bersifat sementara bahkan fatamorgana. Hasil jangka panjang dan selamanya (kekal) itulah kehidupan akhirat.
Di akhirat yang berlaku di sana adalah amal baik (pahala) yang di dahulu didapatnya saat dalam kehidupan dunia. Di akhirat tidak lagi berlaku uang, harta, apalagi jabatan. "Maaliki yaumiddin" artinya Dia lah pemilik (raja) di hari pembalasan. Kelak Allah SWT semata penguasa tunggal.
Maka sebab itu janganlah kita tertipu oleh kehidupan dunia hingga terlupakan akhirat. Silahkan mencari nikmat dunia. Namun ingat, satu masa kita pasti akan mati kemudian gerbang kehidupan yang kekal abadi baru dimulai. Kematian adalah pintu menuju akhirat.
Allah SWT menggambarkan kehidupan dunia seperti dijelaskan dalam ayat 24 QS. Yunus di bawah ini.
"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak.
Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir."(QS. Yunus 10: Ayat 24).
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata:
"Yang menakjubkan bahwasanya siapa yang mencari kehidupan akhirat maka kehidupan dunianya menjadi baik pula untuknya, sedangkan siapa yang mencari kehidupan dunia maka dunia dan akhiratnya akan terlantar."
Lantas mengapa cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari kita masih hitung-hitungan dengan perhitungan dunia bukan kalkulasi akhirat? (*)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
