Saat Rumah Tangga Diterpa Badai

Image
Ummu Rochimah
Eduaksi | Friday, 15 Oct 2021, 10:58 WIB

Oleh : Ummu Rochimah

“Pertengkaran pasangan suami istri disebabkan karena terlalu sibuk membuktikan pentingnya pendapat sendiri dan mengabaikan kebutuhan pasangan yang ingin dimengerti dan dihargai.” (John Gray, Why Mars and Venus Collide)

Kehidupan dalam rumah tangga mustahil akan berjalan tanpa ada pertengkaran di dalamnya. Pertengkaran atau percekcokan antara suami dengan istri menandakan adannya dinamisasi kehidupan dalam keluarga tersebut. Hal ini mempertegas bahwa rumah tangga tersebut dibangun oleh laki-laki dan perempuan yang memiliki banyak perbedaan sifat dan karakter dalam menghadapi sebuah pertengkaran.

Saat Tornado Datang Carilah Parit dan Tiaraplah

Pertengkaran dalam rumah tangga sringkali terjadi karena kedua belah pihak, suami dan istri sama-sama bertahan menghadang tornado. Masing-masing tidak memahami cara berpikir pasangannya, atau berpikir bahwa pasangannya harus berpikir seperti dirinya.

Perempuan itu cenderung mengungkapkan pikiran, perasaan dan reaksinya dengan beragam nada emosional. Sedangkan laki-laki lebih berpikir untuk segera menyelesaikan masalah, mengekspresikan solusi dengan sikap datar dan menjaga jarak. Perbedaan karakter inilah yang apabila tidak dipahami dengan baik oleh masing-masing akan membuat suatu pertengkaran menjadi berkembang ke mana-mana.

Pertengkaran suami istri biasanya disebabkan karena adanya perbedaan pendapat dalam beberapa hal, seperti; permasalahan keuangan, pengaturan pekerjaan rumah tangga, pendidikan dan pengasuhan anak, dan lain-lain. Pertengkaran itu sebenarnya tidak selamanya buruk dalam hubungan suami istri. Karena saat bertengkar biasanya seseorang akan menampakkan sisi terburuk dalam dirinya, sehingga dari pertengkaran itu suami atau istri akan melihat sifat dan karakter keseluruhan dari masing-masing pasangan. Dari situ keduanya dapat mengambil pelajaran penting untuk mengenal dan memahami sifat pasangan.

Namun yang kadang terjadi dalam pertengkaran adalah, kehilangan fokus topik pertengkaran. Yang berkembang kemudian, saling menyerang pribadi masing-masing dan berkeras mempertahankan pendapatnya sendiri.

Inilah kesalahan yang sering terjadi dalam suatu pertengkaran sehingga berakibat menjadi semakin dahsyat. Umumnya setelah terlibat dalam pertengkaran, pasangan suami istri akan berada pada posisi yang serba salah. Keduanya merasa sudah bersalah kepada pasangannya. Ketika hal ini telah terjadi, maka tidak ada salahnya untuk keduanya memulai meminta maaf pada pasangan.Sehingga perjalanan cinta keduanya kembali menjadi harmonis.

Mengembalikan Keharmonisan

John Gray dalam bukunya Why Mars & Venus Collide, menuliskan ada dua cara untuk mengembalikan keharmonisan pasangan suami istri, yaitu : Obrolan Venus dan Rapat Mars.

Obrolan Venus yaitu memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengenali perasaannya dan mengapa dia merasa kesal, memberikan kesempatan untuk membicarakan perasaannya tanpa ada upaya untuk memecahkan masalah. Sedangkan Rapat Mars hanya digunakan untuk memecahkan masalah.

Dalam obrolan venus, istri bisa mengungkapkan perasaannya terhadap masalah yang sedang dihadapi, mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganggu perasaannya tanpa mengharapkan penyelesaian masalah saat itu juga. Maka pada saat itu suami diharapkan hanya mendengarkan saja.

Atau sepotong kalimat, "teruskan saja ceritanya." bisa diucapkan suami saat obrolan venus ini.

Kata-kata sederhana seperti itu akan memberi pengaruh besar bagi keberhasilan upaya harmonisasi suami istri.Karena dengan hanya mendengarkan saja tanpa perlu berkomentar apapun, sesungguhnya suami sudah memberikan dukungan kepada sang istri. Sementara biarkan permasalahan itu tanpa perlu terburu-buru ingin menyelesaikan saat itu juga.

Sebaiknya tunggulah hingga kurang lebih 12 jam dari pertengkaran untuk memutuskan melakukan rapat mars guna menyelesaikan pertengkaran. Gunanya adalah untuk memberi jeda agar terjadi obrolan venus terlebih dahulu. Sehingga saat rapat mars berlangsung sudah tidak melibatkan perasaan, sehingga pembicaraan menjadi lebih objektif.

Menuju Akhir yang Manis

Setelah melalui pertengkaran yang dahsyat dan mengambil waktu jeda untuk merenung dan mengatasi perasaan sendiri. Maka tiba saatnya untuk berbaikan.

Menginginkan dapat kembali berbaikan dengan mengharapkan pasangan terlebih dahulu meminta maaf adalah sesuatu yang tidak akan memberikan hasil yang baik. Ketika terjadi ganjalan dalam hubungan suami istri, hanya perlu salah satunya untuk memulai meminta maaf, tak perlu merasa terhina ketika harus memulai untuk meminta maaf. Dan jangan merasa menjadi orang yang lebih baik ketika memberikan maaf pada pasangan.

Manusia adalah makhluk tempatnya salah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang bisa lepas dari kesalahan, kecuali Nabi Muhammad s.a.w. Kesalahan yang kita perbuat sejatinya berdampak pada dua hal yaitu kesalahan pada diri kita sendiri dan kesalahan kepada orang lain. Semua mempunyai dampak yang sama besarnya. Akan tetapi dampak yang lebih terasa apabila kita berbuat kesalahan kepada orang lain.

Apabila kita berbuat kesalahan kepada diri kita sendiri, ditinjau dari sisi yang sangat sederhana hal ini adalah urusan kita dengan Allah. Sementara kesalahan kita kepada orang lain akan menambah pihak ketiga. Dan punya kecenderungan berdampak kepada diri kita secara psikologis. Apalagi bila kita masih sering bertemu dengan orang yang kita berlaku salah kepadanya.

Al Qur'an dan Sunnah mengajarkan bagaimana seorang muslim harus bersikap apabila melakukan kesalahan, baik terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Dan mengajarkan bagaimana kita bersikap apabila ada orang lain yang berbuat kesalahan kepada diri kita.

Dalam Al Qur’an surah Ali Imran : 133, Allah berfirman : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmudan kepada surga yang luasnya seluas langit dab bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk cepat menyadari kesalahan lalu memohon ampunan kepada Allah.

Meminta maaf adalah perilaku menyadari kesalahan, dan meminta maaf termasuk dalam salah satu dari tiga kata ajaib selain “tolong” dan “terima kasih”. Terlebih lagi kepada pasangan hidup, suami atau istri harus lebih sering meminta maaf dan memaafkan kesalahan-kesalahan pasangan baik diminta atau tanpa diminta.

Ucapkan kata maaf kepada pasangan

Perkara memaafkan adalah urusan hati, boleh jadi orang yang tersakiti sudah memaafkan kesalahan, tetapi akan menjadi lebih baik ketika kata maaf itu diucapkan, bukan hanya sebuah rasa penyesalan karena telah membuat sakit hati pasangan.

Mulailah dengan kata sederhana, “Saya minta maaf” atau “Maaf ya sayang..”

Ucapan sederhana berupa permintaan maaf dari pasangan, merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap hubungan antara suami dengan istri. Ucapan ini dapat meruntuhkan egoisme yang mungkin masih senang bertengger di dalam hati seseorang. Semakin sering kata maaf diucapkan kepada pasangan, akan membuat seseorang merasa lebih nyaman bersamanya. Jika perlu, buat lah suatu ritual saling memaafkan di antara keduanya, misalnya setiap hari sesaat menjelang tidur, genggamlah tangan pasangan dan katakanlah,”Maafkan aku ya...” tanpa perlu berpikir, “Apa salahku sehingga harus meminta maaf?” Belajar mengungkapkan perasaan secara verbal harus terus menerus dilatih dalam suatu hubungan suami istri, karena ini merupakan ketrampilan yang cukup penting dalam berhubungan.

Menulis Surat

Dalam beberapa kasus, ada pasangan yang tidak terbiasa untuk mengungkapkan secara verbal apa yang ia rasakan terhadap pasangan. Maka coba buatlah sepucuk surat yang berisi ungkapan perasaan. Tuliskan apa yang ingin diutarakan kepada pasangan.Dengan menuliskannya akan sedikit membantu melepaskan perasaan yang terluka. Tulisan ini bisa diberikan kepada pasangan untuk ia baca, Berikan kesempatan kepadanya untuk merenungi apa yang tertulis di sana.

Ketika suami atau istri menerima sepucuk surat dari pasangan, cobalah untuk berempati dengan menyediakan waktu membacanya dengan tenang. Resapi perasaan penulisnya. Dan biarkan hati yang menuntun langkah perbaikannya.

Tetapi ketika kedua pasangan tidak dapat menyepakati apa kesalahan yang terjadi, atau siapa yang bersalah, maka akan lebih baik dengan menyepakati saja bahwa apa yang sudah terjadi bukanlah hal yang mereka inginkan.Dan keduanya ingin berbaikan dan menjadi dekat kembali.

Luka emosi itu seperti luka fisik, seseorang tergores dapat disembuhkan. Kalau kita menunggu pasangan meminta maaf atas hal tertentu untuk membantu menyembuhkan luka kita, itu sama saja dengan menunda kesembuhan. Anak kecil perlu mendengar permintaan maaf, tapi orang dewasa bisa perlahan-lahan belajar melupakan sendiri, belajar cara membuka hati untuk mencapai suatu keharmonisan dalam suatu hubungan.

Inilah tips yang dapat menumbuhkan dan merawat cinta kasih antara suami istri sehingga kehidupan berumah tangga menjadi semakin indah.

“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Engkau tidak akan bisa meluruskannya dengan satu cara. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau melakukannya dalam keadaan ia tetap bengkok.” (Hadits riwayat Muslim)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Saat Rumah Tangga Diterpa Badai

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

PK Bapas Purwokerto Tindaklanjuti Usulan Pembebasan Bersyarat

Image

Pastikan Kondisi Aman, Petugas Rutan Jepara Rutin Lakukan Trolling

Image

Pembayaran Pajak Sarang Burung Walet Menuai Pro dan Kontra

Image

Mengenal Apa Itu Delik Pers. Apakah Hanya Berkutat Pada Kesalahan Pers?

Image

Kunjungi Rutan Jepara, Ustadz Abdurahman Berikan Tausiyah Kepada Ratusan WBP

Image

Gelar Yasinan Rutin, Kalapas Brebes : Intropeksi Diri Sarana Jadi Pribadi Baik

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image