Fenomena 'Si Paling' Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Eduaksi | 2022-06-03 18:50:09
Dalam kehidupan sehari-hari, kerap kali saya dengar beberapa orang di sekitar saya mulai mengucapkan kata 'Si Paling' sebagai sarana untuk menyampaikan hal tertentu pada orang lain.
Kadang-kadang perkembangan teknologi tidak hanya soal teknologi itu sendiri, namun juga soal manusia-nya. Dengan maraknya sosial media yang dapat dikatakan semakin banyak saja penggunanya, membuat semakin mudah penyebaran informasi dan hal-hal tertentu, seperti halnya kata atau julukan 'Si Paling' ini.
Awalnya pengguna sosial media menggunakan diksi ini untuk merepresentasikan seseorang yang terdepan dalam suatu hal. Mengutip dari celebrities. id Kata “si paling” awal mulanya sebagai kata untuk mendeskripsikan kalimat sarkas atau sebagai bahan ejekan. Contohnya ; Si Paling update berita, yang memiliki arti dia adalah seseorang yang tidak pernah ketinggalan berita. Terbaca biasa namun juga menjadi sarkas karena ditujukan pada seseorang dan situasi tertentu.
Sebenarnya tidak ada salahnya, namun makin kesini diksi tersebut digunakan ke hal yang lebih negatif. Awalnya sih, ya bercandaan, namun bisa jadi menimbulkan pertikaian. Juga menurut Mulyana (dalam Sari 2015 : 2), "bahasa gaul adalah sejumlah kata atau istilah yang mempunyai arti khusus, unik, menyimpang atau bahkan bertentangan dengan arti yang lazim ketika digunakan oleh orang – orang dari subkultur tertentu." Jadi efeknya sendiri atau bahasa-bahasa tersebut bisa jadi baik bisa juga menjadi penyimpanan dalam penggunaannya.
Berdasarkan pengalaman saya dan orang-orang sekitar saya yang telah mengalami fenomena 'Si Paling' ini merasa bahwa semua bisa jadi benar jika orang lain mengamini kata tersebut, tapi masalahnya kadang diri kita juga menjadi bertanya-tanya soal hal tersebut.
Menurut saya sah-sah saja berkomunikasi dengan bebas melalui social media, toh sudah diatur dalam Pasal 28 F UUD 1945 yang berbunyi,
“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia” Tapi kembali lagi bahwa kita juga harus tetap menanamkan soal tata krama dalam komunikasi setiap hari. Tidak semua yang lagi trend harus diikuti, apalagi jika tujuannya untuk mencela orang lain.
Saya juga setuju, kok, kalau kebebasan untuk mengekspresikan diri lewat perkataan dan tulisan tidak dapat dihindari, tapi baiknya juga saling menjaga satu sama lain dalam proses berkomunikasi.
Referensi :
1) https://www.celebrities.id/read/apa-arti-si-paling-si-paling-yang-jadi-plesetan-meme-di-sosmed-ini-dia-penjelasannya-X18N1R
2) https://www.amnesty.id/kebebasan-berekspresi/
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
