Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image sri rachmawati

Pemuda dan Smartphone

Info Terkini | 2021-09-27 13:10:48

Miris! Indonesia yang dulu identik dengan budaya ketimuran, penuh sopan santun dan menjunjung rasa kebersamaan, sekarang sudah mulai terkikis. Gaya hedonis yang dianut Barat mereka jiplak habis dalam keseharian. Sifat indualistis (mementingkan diri sendiri) sangat menonjol pada kehidupan masyarakat. Hingga kepedulian terhadap orang lain sangatlah kurang.

Apa kabar dengan pemuda zaman now? Kondisinya sangat menyedihkan. Betapa tidak, tiap hari mereka hanya disibukkan dengan benda pipih yang ajaib. Dari bangun tidur hingga tidur lagi tak lepas dari benda tersebut. Adalah smartphone, yang sudah membuat para pemuda di negeri ini tergila-gila.

Untuk memiliki barang tersebut, tak jarang mereka lakukan dengan menipu orang tua ataupun melakukan perbuatan terlarang lainnya seperti mencuri, dsb. . Ya, demi barang tersebut mereka rela lakukan apapun meski harus melanggar norma agama maupun norma sosial.

Apa sih yang mereka lakukan dengan smartphone tersebut?

Banyak diantara para pemuda (sebagai calon penerus bangsa), yang menghabiskan waktu mereka untuk aktifitas yang miskin karya. Main game online, nonton film di you tube, tik tok-an, bikin konten menarik di you tube biar dapat subscriber dan bayaran yang tinggi. Akhirnya, konten yang recehan pun dibuat, hanya demi mendapatkan jumlah subscriber dan viewer yang banyak. Semua berlomba, bahkan mirisnya tak hanya yang muda, anak-anak kecil bahkan yang tua sekalipun ikut beradu nasib.

Tak jarang kewajiban utama mereka dalam pendidikan yakni belajar dengan penuh kesungguhan harus terkalahkan alias jadi malas belajar. Mereka lebih senang jogat-joget di layar smartphone dibanding membaca buku pelajaran ataupun mengerjakan tugas akademis yang lain. Di otak mereka hanya berpikir bagaimana dapat duit banyak. Alih-alih memikirkan masa depan seperti jadi dokter, insinyur, polisi, pilot, dsb, seperti halnya cita-cita yang dimiliki anak-anak zaman dulu. Sekarang pilihan menjadi you tuber sangat digandrungi. Sebab dengan modal sedikit, mereka bisa terkenal dan menghasilkan pundi-pundi uang. Kondisi masyarakat ataupun negerinya, tak pernah mereka pedulikan.

Sungguh dilematis memang, di satu sisi teknologi (seperti smartphone) diperlukan untuk memudahkan manusia. Namun disisi lain, teknologi malah berimbas negatif bagi manusia itu sendiri.

Padahal terkait dengan pemuda, mereka adalah aset bangsa. Mereka adalah generasi penerus bangsa. Baik buruknya masa depan bangsa akan sangat berganting pada kondisi para pemuda saat ini. Bayangkan bila mereka miskin ilmu dan miskin karya, bagaimana nasib bangsa ini kedepan? Bukan tak mungkin bangsa ini malah mundur bukannya maju.

Sistem kapitalis sekuler inilah menjadi biang penyebab hancurnya generasi muda. Sebab dalam sistem ini dieluk-elukkannya gaya hidup yang serba bebas (liberalisme). Antara lain, bebas beragama, besas berperilaku, bebas memiliki dan bebas berpendapat. Dan Senjata ampuhnya bahwa kebebasan itu hak asasi manusia.

Selain gaya hidup bebas, dalam sistem ini kebahagiaan selalu diukur dari banyaknya materi (harta). Sehingga orang berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Termasuk generasi muda terjebak di dalamnya, yakni bersikap profit orinented.

Kebebasan yang dijunjung tinggi, seringkali melabrak norma-norma yang ada. Bahkan norma agama pun mereka libas. Sebab keberadaan agama tak memiliki peran sedikit pun di ranah kehidupan publik dan bernegara. Akhirnya pemuda bersuka cita meluapkan kebebasannya. Bebas berselancar apapun di dunia maya dengan smartphone yang ada di genggaman. Yang penting happy!

Oleh sebab itu, penting kiranya menyadarkan mereka bahwa di pundaknyalah nasib bangsa ini bergantung. Generasi tua akan dilanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya kelak oleh generasi muda. Maka, bijaklah dalam penggunaan smartphone. Manfaatkanlah untuk hal-hal yang dapat melejitkan prestasi dan minimalisir ciptakan karya-karya sampah.

Yang harus mulai dipikirkan pemuda saat ini bukan hanya keuntungan pribadi semata-semata, akan tetapi berpikir bagaimana caranya agar negeri ini bisa bebas dari neoimprealisme (penjajahan gaya baru) dan neoliberalisme. Selama negeri ini terjajah (secara ekonomi, budaya, dsb), maka negeri ini sejatinya tak pernah merdeka. Sebab masih bergantung dan membebek pada negara lain.

Ayo, para pemuda! Bangkitlah! Ukir prestasimu setinggi langit! Bawalah negeri ini menjadi negara yang berdaulat!

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image