Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hamdani

Memerlukan Sikap Tegas untuk Mengentaskan Kemungkaran, Mengapa?

Agama | Friday, 24 Sep 2021, 17:15 WIB
Ilustrasi gambar: ist

Diperlukan sebuah sikap nan tegas tanpa tedeng aling-aling kalau kata orang Jawa untuk melawan kemungkaran. Tentu saja sesuai kebutuhan dan terukur untuk mengentaskan kemungkaran.

Seorang muslim tidak hanya diwajibkan untuk berbuat kebajikan seperti ibadah shalat, dan kebaikan lainnya yang bersifat makruf. Tetapi juga berkewajiban mengentaskan kemungkaran dan kemaksiatan yang dimulai dari dirinya sendiri lalu melebar ke lingkungan sekitar.

Upaya mengentaskan kemungkaran dapat dilakukan dengan beragam cara. Sebagai langkah awal bisa dimulai dengan pendekatan persuasif yakni mengajak mereka yang terlanjur berbuat maksiat untuk kembali ke jalan cahaya. Cara ini lebih mengedepankan sikap lunak dan lemah lembut.

Sikap penuh hikmah dari Nabi Muhammad Saw saat beliau disakiti oleh kaum Tsaqif penduduk Thaif ketika berdakwah mengenalkan Islam. Tidak saja menolak dakwah Nabi bahkan mereka mengusir Rasullullah Saw bersama Zaid bin Haritsah dari Thaif.

Tidak sampai disitu saja, Rasulullah Saw sampai dihujani batu hingga wajahnya berlumuran darah, sampai orang tidak mengenalinya. Sangking banyaknya darah yang bercucuran.

Tapi apa sikap nabi? Beliau bukan malah membalas perlakuan buruk penduduk Thaif setimpal dengan perbuatan mereka. Justru sebaliknya, Rasul yang mulia bahkan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Keteladan lain yang dicontohkan Rasulullah. Seperti ditulis oleh Asma Nadia, dalam sebuah peristiwa, serombongan Yahudi mengunjungi Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan, "Kecelakaan bagimu (Muhammad)." Aisyah, yang berada di sisi beliau langsung membalas, "Kecelakaan dan laknat Allah bagi kalian."

Mendengar balasan istrinya, Rasulullah justru menjawab, "Tenang saja wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kasih sayang dalam setiap hal."

Namun dalam diri nabi juga tersimpan sikap tegas yang bergeming. Ketegasan beliau begitu kokoh, tak tergoyahkan sedikitpun mana hal itu diperlukan untuk membela Allah dan umatya.

Dikisahkan oleh Ibnu Sa'ad, Rasulullah pernah ditanya oleh sekelompok utusan, "Bagaimana menurutmu tentang zina karena kami gemar berzina? Bagaimana menurutmu tentang riba, seluruh harta kami berasal dari riba? Bagaimana pendapatmu tentang khamar, pendapatan kami dari khamar? Dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan salat?"

Setelah beliau menjelaskan secara rinci, maka sekelompok utusan itupun memeluk Islam. Namun setelah mengucapkan kalimat tauhid, mereka meminta kepada Rasullullah untuk tidak menghancurkan berhala-berhala yang dulu disembahnya. Jawaban beliau sangat tegas menolak.

Adapun zina, riba, dan khamar sudah jelas dan tegas, haram hukumnya dalam Islam. Sebagaimana firman Allah SWT yang terdapat didalam Al-Quran surat al-isra (ayat 32), al-baqarah (ayat 278), dan surat al-maidah (ayat 90). Begitupun tidak ada kebaikan bagi orang yang meninggalkan shalat.

Rasullullah Saw meski dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, namun jika terkait dengan perkara agama beliau memiliki prinsip tegas dan keras. Tidak ada toleransi dalam hal keimanan.

Tgk Ajmalul Hadi saat menyampaikan khutbah pada pelaksanaan shalat Jumat, 24 September 2021/17 Safar 1443 H, di Masjid Babul Maghfirah Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh, juga menekankan hal yang sama, bahwa melawan kemungkaran harus dengan sikap tegas.

Sikap tegas dapat berwujud dalam bentuk metode penyampaian dakwah bil lisan yakni dengan suara lantang dan menembus pendengaran, baik intonasinya maupun keras suaranya. Tidak bisa bahasa melawan nahi mungkar dengan lembek dan melempem.

"Jika tidak demikian, maka tidak ada yang ambil peduli, bahkan didengar pun tidak," kata Tgk Ajmalul Hadi.

(alm) Tgk Zulkarnaini

***

Bersabarlah

Dalam mengarungi kehidupan ini, setiap kita tidak terlepas dari menghadapi berbagai ujian dan musibah.

Kita diajarkan untuk senantiasa memiliki salah satu dari sifat mahmudah yaitu bersabar menghadapinya.

Sabar bererti tabah menghadapi suatu musibah, penderitaan atau kesempitan sambil berusaha mengatasinya dengan penuh pengharapan memohon pertolongan dan bertawakkal kepada Allah SWT.

Orang yang beriman senantiasa bersabar semasa menghadapi ujian dan menenerimanya sebagai takdir yang dikehendaki Allah serta berusaha mengatasinya dengan gigih dan memohon rahmat serta hidayah Allah.

Mereka yang tidak sabar menghadapi ujian Allah akan rugi dunia dan di akhirat dan tidak mendapat ganjaran pahala apapun dari Allah SWT.

Orang yang bersabar akan mendapat ganjaran yang tidak terkira banyaknya.

Firman Allah SWT,

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

Dr Yusuf al-Qaradhawi menyatakan:

Barangsiapa yang kehilangan kesabaran dalam masa kesusahan dan ujian, dia telah kehilangan segalanya; Kerana dia kehilangan kunci untuk merangkai ikatan, menyelesaikan masalah, dan menyembuhkan luka-luka dan musibah;

Itulah sebabnya mengapa Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya,

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik yaitu tanpa keluh kesah atau mengadu kepada makhluk." (QS. Al-Ma'arij Ayat 5).

Berusahalah kita menjadi orang yang bersabar.

Semoga bermanfaat! (*)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image