Begini Sistem Ekonomi Islam dalam Menghadapi Krisis

Image
Rahmatullah
Eduaksi | Saturday, 14 May 2022, 15:40 WIB
sumber: muamalatku.com

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di hampir semua negara yang menerapkan sistem kapitalis, termasuk Indonesia.

Krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, 1998, 2001, krisis finansial global 2008, hingga pandemi 2020.

Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient Time to Present Day, menguraikan sejarah kronologi secara komprehensif. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan bahwa secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Pondasi sistem keuangan konvensional telah terbukti gagal dalam menghadapi krisis keuangan global yang terjadi besar-besaran, hal ini telah diakui oleh tokoh yang terkemuka dibidang ekonomi, Alan Greenspan mantan ketua Federal Reserve AS. Namun lain halnya dengan pengamatan yang telah dilakukan oleh Hasan dan Dridi (2010) yang menunjukan bahwa Lembaga Keuangan Islam relative lebih stabil pada saat terjadi krisis keuangan global.

Ada beberapa pandangan terhadap penyebab krisis keuangan global, yang pertama adalah pendapat dari Mirakhor dan Krichene (2009) yang memberikan dua penjelasan dari sisi konvensional dan penjelasan alternatif.

Adapun penjelasan secara konvensional adalah:

- Tingginya Likuiditas.

- Laju percepatan keuangan yang sangat cepat sehingga menimbulkan instrument keuangan yang rumit, buram, dan sulit dipahami.

- Masalah informasi yang disebabkan tidak adanya transparansi di pasar modal.

- Tidak ada kebijakan yang mengawasi dalam pengambilan resiko berlebih.

- Kesalahan dalam manajemen resiko dan akutansi.Adanya kerjasama antara lembaga keuangan, agen properti, perusahaan asuransi dan agen kredit, yang menyebabkan perkiraan resiko yang terlalu rendah.

- Adapun penjelasan secara Alternatif adalah bahwa krisis adalah sebuah atribut dalam sistem keuangan kapitalisme yang dimana sistem tersebut rapuh yang menyebabkan ketidakstabilan.

Pandangan selanjutnya dari Ahmed (2009) yang menyimpulkan bahwa penyebab utama krisis adalah manajemen resiko yang salah, terlalu bebasnya pasar tanpa regulasi, berubahnya sistem deposit untuk investasi secara bertahap berubah menjadi pengumpulan dana dari pasar melalui sekuritas, sehingga menyebabkan naiknya nilai surat hutang, yang mana dapat menimbulkan resiko penyebab krisis.

Ebrahim (2008) menganggap bahwa akar dari krisis adalah kegagalan pasar. Sedangkan Shiddiqi (2008) berpendapat bahwa penyebab krisis adalah lebih kepada rusaknya moral, daripada kegagalan pasar.

Chapra (2008) menyalahkan hutang yang berlebih dan tidak bijak sebagai penyebab terbesar dalam krisis keuangan global. Beliau mengidentifikasi 3 faktor yaitu:

- Disiplin pasar yang tidak memadai dalam sistem keuangan.

- Menimbulkan kebingungan pada pasar dengan memberikan jumlah kredit yang tidak asli.

- Konsep “Too Big To Fail” yang dimana bank sentral lebih memilih meminjamkan dana kepada bank bank besar daripada membiarkan mereka bangkrut.

Utsmani (2009) mengidentifikasi 4 jenis transaksi yang menyebabkan krisis:

- Berubahnya fungsi uang dari alat ukur dan alat tukar menjadi komoditas yang dapat diperjual belikan.

- Penggunaan instrument buatan secara belebihan.

- Jual beli hutang.

- Penjualan saham yang tidak normal sehingga membuat spekulasi yang berbahaya.

Utsmani, Shiddiqi, Al-Suwailem, dan Lewis, sepakat bahwa terdapat tiga elemen mendasar penyebab krisis, yaitu:Riba, Gharar, dan Maysir.

Untuk pelajaran dan langkah-langkah yang harus dilakukan guna mencegah terjadinya krisis adalah sebagai berikut:

- Membuat regulasi dan pengawasan yang kuat dan komperhensif.

- Mengadopsi sistemprofit dan loss sharing.

- Lebih aktifnya lembaga zakat dan sektor kebajikan lainya.

Kesimpulannya

Para peneliti mengemukakan bahwa kesalahan dan kelemahan sistem yang digunakan dalam ekonomi konvensional adalah penyebab krisis keuangan global.

Oleh karena itu, sistem keuangan Islam dapat mengatasi kelemahan sistem tersebut dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah untuk mengatasi dan mencegah krisis keuangan global adalah dengan menanamkan sistem profit and loss sharing dimana resiko akan menjadi tanggung jawab bersama, serta mendirikan sebuah lembaga pengawas yang kuat dan menyeluruh untuk mengontrol sistem tersebut berjaan dengan baik, dan juga meningkatkan kinerja lembaga zakat dan waqaf serta mengintegrasikannya ke dalam sebuah sistem keuangan untuk mengatasi kebutuhan finansial masyarakat yang kurang mampu.

Dapat diketahui bahwa kontribusi sistem ekonomi Islam dalam menyelesaikan krisis keuangan global adalah dapat menganalisis kelemahan sistem ekonomi konvensional serta dapat mengukur tingkat perekonomian dari sudut pandang ekonomi Islam, sehingga dapat mengusulkan beberapa program sebagai alternatif dalam menangani krisis tersebut.

Wallahu a'lam

Sumber: muamalatku.com

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Magister Sains Ekonomi Islam Universitas Airlangga

Awas Riba dalam Tukar Uang

Cara Menghindari Denda di Bank Syariah

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ekspresikan Dengan Buku

Image

Menjadi Bangsa yang Terdidik

Image

Sepucuk Malam

Image

Mp3 Juice: Converter Paling Gampang 2022 Hanya Masukkan Link

Image

Peradaban Buku

Image

Waspada Saat Libur, Kalapas Kelas I Palembang Periksa Kesiapan Petugas Pengamanan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image