Colombian Exchange: Sejarah Makanan, Hewan, Penyakit, dan Manusia

Image
Dinda Zahra Ghaisani Usdi
Sejarah | Friday, 30 Jul 2021, 18:42 WIB
Colombus mengucapkan selamat tinggal pada Ratu Isabella I (Sumber: Library of Congress)

Sulit membayangkan bagaimana jadinya bila makanan Italia tidak menggunakan tomat, makanan India tanpa cabai, atau makanan Irlandia tanpa kentang. Bahan-bahan makanan tersebut tentunya sudah familiar di telinga masyarakat dunia kini. Namun, sebenarnya sayur-mayur tersebut bukanlah tanaman asli benua Afro-Eurasia. Tumbuh-tumbuhan yang kita kenal sekarang, seperti kentang, ubi, singkong telah melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai di tanah yang kita tinggali ini. Adanya pertukaran antara kedua dunia, yakni Dunia Lama dan Dunia Baru, dalam berbagai hal telah mengubah seluruh tatanan kehidupan dan dapat dikatakan sebagai turning point dalam sejarah yang membawa dampak baik dan buruk bagi umat manusia. Pertukaran tersebut dikenal dengan Colombian Exchange.

Colombian exchange merujuk kepada pertukaran hewan, tumbuhan, penyakit, dan manusia antara Dunia Lama (Old World, yang merujuk pada belahan dunia Timur) dan Dunia Baru (New World, yang merujuk pada belahan dunia Barat) yang dimulai pada 1492 ketika Christoper Colombus melakukan pelayaran samudera. Datangnya Colombus di Amerika Utara memulai rangkaian peristiwa yang secara dramatis mengubah lingkungan, sistem ekonomi, dan budaya di seluruh dunia.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai dampak Colombian Exchange yang hingga kini masih dapat kita rasakan, kita perlu memahami asal-usul mengapa pertukaran tersebut terjadi. Semua dimulai pada tahun 1400-an ketika Pangeran Henry sang Navigator dari Portugis memelopori penjelajahan Portugal di Afrika dan Atlantik. Penjelajahan samudera dengan tujuan gold, glory, gospel yang mereka lakukan pun berhasil. Para pelaut Portugis bahkan berhasil melakukan pelayaran hingga ke Asia Tenggara. Spanyol, rival dari Portugis, tidak ingin ketinggalan untuk mencari keuntungan bagi kerajaannya. Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I dari Spanyol kemudian membiayai pelayaran untuk menemukan Asia kepada Christoper Colombus.

Colombus merupakan seorang navigator yang membuka jalan bagi eksplorasi, eksploitasi, dan kolonisasi Eropa di Amerika. Dialah yang disebut-sebut sebagai penemu Dunia Baru. Colombus, dibiayai oleh Kerajaan Spanyol, pergi berlayar ke arah barat bersama 3 kapal dan 87 krunya untuk menemukan Asia. Tekadnya untuk menemukan dataran Asia terinspirasi dari buku milik Marco Polo mengenai perjalanannya ke China. Pada Oktober 1492, Colombus tiba di San Salvador, yang kini dikenal dengan Kepulauan Bahamas. Kemudian ia menjelajahi garis pantai Kuba hingga sampai di Hispaniola. Meskipun tidak sampai di Asia, namun pelayaran yang dilakukan Christoper Colombus ke Amerika inilah yang memungkinkan terjadinya interaksi antara Dunia Lama dan Dunia Baru.

Colombus tiba di Amerika (Sumber: Architect of the Capitol)

Pada pelayaran pertamanya, Colombus sangat dibuat takjub dengan keasingan yang ia temui di Benua Amerika. Hal ini terlihat dalam catatan perjalannnya,

I saw neither sheep nor goats nor any other beast, but I have been here but a short time, half a day; yet if there were any I couldn't have failed to see them. There were dogs that never barked. All the trees were as different from ours as day from night, and so the fruits, the herbage, the rocks, and all things (Corby, 2003).

Rasa takjubnya terhadap flora dan fauna di Amerikalah yang akhirnya mendorong kesempatan bagi Colombus untuk melakukan pelayaran kedua dan dimulailah Colombian Exchange.

Colombian Exchange baru benar-benar dimulai pada pelayaran kedua Colombus, ketika dia kembali ke Espaola dengan tujuh belas kapal, 1.200 orang, dan benih-benih untuk menanam gandum, buncis, melon, bawang, lobak, salad hijau, anggur, dan tebu. Kemudian Colombus dan krunya membawa pulang atau mengekspor tumbuh-tumbuhan yang ada di Amerika ke Eropa (Corby, 2003). Melalui pertukaran ini, Afro-Eurasia yang mencakup Afrika, Eropa, dan Asia banyak mendapatkan tanaman-tanaman baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. Bahan makanan yang kita kenal saat ini, seperti ubi, alpukat, paprika, cabai, singkong, kacang, kentang, tomat, vanilla, labu, nanas, dan coklat merupakan tumbuhan yang berasal dari Dunia Baru. Makanan yang datang dari Dunia Baru juga membawa sebuah evolusi bagi makanan lokal di Dunia Lama yang masih dikonsumsi hinga kini, seperti makanan dari Italia dan Yunani yang kerap menggunakan tomat dalam makanannya, India dan Korea yang menggunakan cabai, Hungaria yang menggunakan paprika, serta Malaysia dan Thailand yang menggunakan cabai, kacang, serta nanas (Nunn & Qian, 2010). Makanan berkalori seperti kentang, ubi, jagung, dan singkong yang dibawa dari Dunia Baru menghasilkan peningkatan kalori dan nutrisi dibandingkan makanan pokok yang sebelumnya mereka makan (Nunn & Qian, 2010). Hal ini juga menyebabkan terjadinya peningkatan populasi dunia antara tahun 1650 dan 1850 (Corby, 2003). Melalui pertukaran ini pula, Amerika dikenalkan dengan anggur, bawang bombay, tebu, pisang, pir, zaitun, dan kopi.

Interaksi antara belahan dunia Timur dan Barat ini juga memperkenalkan hewan-hewan baru kepada Amerika. Kuda, anjing, babi, sapi, ayam, dan kambing tiba bersama Columbus pada pelayaran kedua pada tahun 1493 (Corby, 2003). Hewan-hewan ini, terutama babi, berkembang dengan pesat karena tidak adanya predator dan banyaknya lahan yang menyediakan makanan bagi mereka. Adanya kuda juga memberikan perubahan dalam kehidupan sosial suku-suku asli Amerika. Mereka banyak meninggalkan pertanian dan lebih memilih untuk berburu kerbau menggunakan kuda karena lebih membawa keuntungan (Corby, 2003). Akan tetapi, adanya hewan-hewan baru ini juga menjadi kabar buruk bagi masyarakat asli Amerika. Babi-babi yang dibawa dari Eropa dilepasliarkan sehingga mereka memakan tanaman milik orang-orang Amerika dan menjadi hama bagi lahan perkebunan disana.

Perpindahan spesies hewan dan tumbuhan ini tentunya membawa pengaruh terhadap lingkungan. Ekologi benua Amerika telah diubah sepenuhnya akibat kedatangan bangsa Eropa. Hewan-hewan asli, seperti domba dan bighorn sheep terpaksa harus bermigrasi ke pegunungan sebab tempat tinggalnya kini ditinggali oleh kuda dan hewan-hewan ternak. Tanaman asli Amerika juga banyak yang telah punah akibat tidak dibudidayakan dan lahannya digantikan dengan tanaman yang menghasilkan keuntungan seperti gula, kopi, pisang, dan gandum. Hasil positifnya adalah peningkatan produksi pangan yang sangat besar sehingga meningkatkan populasi manusia. Disisi lain, hasil negatifnya adalah perusakan stabilitas ekologi di tanah Amerika (Corby, 2003).

Selain berpengaruh dalam hal tumbuhan dan hewan, Colombian Exchange juga membuka jaringan migrasi dari Eropa ke Amerika. Gelombang migrasi pertama meunju Dunia Baru pada abad ke-16 dan 17 didorong oleh konflik agama di Eropa akibat adanya Reformasi Gereja. Hal ini terlihat ketika konflik agama di Inggris terjadi pada tahun 1630-an dan 1640-an, 20.000 emigran Protestan melakukan migrasi ke koloni Inggris di Dunia Baru (Eltis, 2002). Namun, migrasi ini tidak melulu bersifat sukarela. Banyak penduduk dari Afrika yang dijadikan budak di Amerika untuk berkebun menanam tanaman komersil seperti gula, kopi, dan tembakau. Banyaknya orang-orang Afrika di Amerika akhirnya mendorong terjadinya pernikahan antarras Eropa dan Afrika yang kemudian disebut sebagai Creole (Calloway, 1997).

Tidak hanya orang-orang Afrika saja yang merasakan dampak buruk dari Colombian Exchange ini, tetapi suku-suku asli Amerika juga merasakan hal yang sama. Perjumpaan Dunia Baru dan Dunia Lama juga membawa penyakit-penyakit tak diundang. Penyakit tersebut di antaranya cacar, campak, pes, tifus, malaria, dan influenza (Denevan, 1976). Penyakit ini merupakan sesuatu yang asing bagi imun tubuh orang-orang asli Amerika sehingga mereka sangatlah rentan tertular penyakit-penyakit tersebut. Penyakit-penyakit ini bahkan diestimasikan telah membunuh hingga 90% masyarakat asli Amerika (Nunn & Qian, 2010). Kematian pemimpin suku akibat penyakit tersebut juga kerap kali menyebabkan perpecahan hingga memicu peperangan. Akibat peperangan inilah, penyebaran penyakit menjadi lebih cepat dalam hal ini penyakit cacar, sebab penularan penyakit cacar adalah melalui kontak fisik. Perpecahan ini juga akhirnya sering dimanfaatkan oleh kolonialis untuk menguasai lahan disana (Crosby, 2003). Periode kematian paling besar diantara orang-orang asli Amerika terjadi pada seratus tahun pertama ketika mereka melakukan kontak dengan orang Eropa dan Afrika. Bahkan, di Meksiko dan Peru, lebih banyak orang-orang Eropa dan Afrika daripada orang-orang Indian Amerika.

Ilustrasi penyakit cacar yang diderita oleh suku asli Amerika (Sumber: Wikimedia)

Berbeda dengan Dunia Baru yang terpapar banyak penyakit dari Dunia Lama, Eropa hanya menerima satu penyakit, yakni sifilis. Penyakit ini muncul pertama kali di Eropa pada 1493. Lima tahun setelah Colombus kembali ke Eropa, sifilis menjadi suatu epidemi disana. Penyakit sifilis bahkan mencapai Hungaria dan Rusia pada 1497, Afrika, Timur Tengah, dan India pada 1498, China pada 1505, Australia pada 1515, dan Jepang pada 1569 (Crosby, 2003). Saat ini mungkin sifilis bukanlah suatu penyakit yang mematikan, namun pada akhir abad ke-15 dan awal abad 16 sifilis merupakan penyakit yang fatal dengan gejala yang parah. Seiring berjalannya waktu, penyakit tersebut berkembang dan gejalanya berubah menjadi lebih jinak. Pada abad ke-17, sifilis telah berkembang menjadi penyakit yang kita kenal sekarang (Crosby, 2003). Selain sifilis, secara tidak langsung Dunia Baru juga memberikan penyakit yang destruktif dan mematikan melalui tanamannya, yakni tembakau. Tembakau hingga kini masih banyak digunakan oleh masyarakat dunia sebagai bahan utama rokok, cerutu, bidis, serta kretek meskipun memiliki efek yang mematikan.

Colombian Exchange telah mengenalkan kepada kita beragam macam tumbuhan-tumbuhan baru yang tidak diketahui sebelumnya. Bahkan, tumbuhan tersebut menjadi bahan utama makanan khas suatu negara hingga kini. Makanan-makanan berkalori seperti kentang, ubi, dan singkong juga menyelamatkan masyarakat Afro-Eurasia dari kelaparan dan bahkan berhasil meningkatkan populasi di Eropa dan Afrika. Namun, tentu dalam setiap peristiwa sejarah selalu ada sisi koin yang berbeda. Colombian Exchange mungkin sangatlah memberikan dampak yang positif kepada Dunia Timur, tetapi bagi suku-suku asli benua Amerika, Colombian Exchange sangatlah merugikan mereka. Mereka kehilangan tempat tinggal, kehilangan saudara, diperbudak, hingga mengalami penurunan populasi akibat kedatangan bangsa Eropa. Besarnya dampak yang diakibatkan oleh Colombian Exchange ini telah membuktikan betapa berpengaruhnya pertemuan Dunia Barat dan Timur hingga akhirnya menciptakan dunia yang kita kenal saat ini.

Sumber:

Calloway, C. G. (1997). New Worlds for All, Indians, Europeans, and the Remaking of Early America. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Crosby, A. W. (2003). The Columbian Exchange. Westport: Praeger Publishers.

Eltis, D. (2002). Coerced and Free Migration: Global Perspectives. Stanford: Stanford Univesity.

Nunn, N., & Qian, N. (2010). The Columbian Exchange: History of Disease, Food, and Idea. Journal of Economic Perspectives, 163-188.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Semakin Banyak Anak Muda Aceh yang Melek Saham

Image

Cara Riset Kata Kunci Untuk Artikel Blog, Berikut Cara Mudahnya!

Image

Perlukah PPN Pendidikan?

Image

Garda Terdepan, Covid-19 Segera Padam

Image

Pembelajaran Di Saat Pandemi

Image

LAZ Harfa Salurkan Bantuan untuk Penyintas Banjir di Kabupaten Pandeglang

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image