Islam itu Mengajarkan Kesederhanaan dan Keseimbangan hidup

Image
Ade Sudaryat
Agama | Friday, 06 May 2022, 04:24 WIB

Saya membaca sebuah stiker quote yang nampaknya sebuah guyonan, plesetan dari ilmu fisika tapi kalau didalami benar juga maknanya. “Menurut ilmu fisika, tekanan berbanding lurus dengan gaya. Jadi kalau kamu merasa hidupmu banyak tekanan, mungkin karena kamu kebanyakan gaya.”

Gaya dalam ilmu fisika berarti tarikan atau dorongan yang dapat menggerakkan benda bebas atau benda yang tidak terikat, tidak ada kaitannya dengan gaya hidup (life style). Namun sekali lagi, quote plesetan tersebut maknanya benar jika gaya yang dimaksud adalah gaya hidup (life style).

Banyak orang yang tertekan kehidupannya, tak bisa menjalani kehidupan sederhana karena mengikuti trend gaya hidup. Kehidupan dikejar-kejar dengan keinginan untuk sejajar dengan gaya hidup yang lagi trend tanpa lagi memperhatikan kemampuan diri untuk meraihnya, terutama kemampuan financial.

Karena keinginan mengejar gaya hidup ini banyak orang yang melanggar hukum demi meraih gaya hidup, tak terkecuali demi disebut mengikuti trend gaya hidup di hari raya, terutama hari raya idul fitri. Tak sedikit orang yang memaknai idul fitri hanya sebatas menampilkan trend busana yang dipakai dan memamerkan kesuksekan. Diakui atau tidak, idul fitri di sekitar kita sering menjadi ajang catwalk raksasa, ajang peragaan busana tahunan yang dikemas dalam balutan hari nan suci, hari kemenangan.

Memang tidak salah kita menyambut hari nan suci dengan penuh kegembiraan, yang salah itu berlebihan dan memaksakan diri dalam merayakannya. Saya yakin, banyak orang yang kebingungan dan harus kembali menabung dari nol, karena uangnya habis dipakai bergaya di hari raya, padahal hakikat dari perayaan hari raya idul fitri itu sangat sederhana.

Dalam merayakannya Rasulullah saw menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat id yang diawali dengan mandi dan sarapan sebelum berangkat ke tempat shalat, dan memakai pakaian terbaik yang kita miliki. Setelah selesai shalat dan mendengarkan khutbah, kemudian berdo’a atau mengucapkan tahniah (ucapan selamat), taqabbalallahu minna wa minkum.

Karenanya, hal yang terasa mahal itu bukan idul fitrinya, tapi memaksakan diri bergaya di idul fitri. Sama halnya dengan kehidupan kita. Kehidupan itu sederhana, yang membuat kehidupan itu terasa mahal adalah gaya hidup berlebihan, mengejar kenginan tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

Kehidupan yang serba gampang dan senang pamer dalam segala hal seperti sekarang ini sering menyebabkan orang tak dapat lagi mengontrol diri. Sikap berlebihan dan suka pamer yang berujung kepada keinginan terkenal sering hinggap dalam berbagai perbuatan dan berbagai aspek kehidupan.

Gaya hidup yang selalu booming dan selalu berganti-ganti dalam kehidupan modern seperti sekarang ini sering membuat orang bersikap berlebihan. Selain dalam hal sandang, pangan, dan papan, gaya hidup yang menerpa hampir seluruh orang pada saat ini adalah gaya hidup memiliki akun media sosial. Kini hampir semua orang memiliki akun media sosial.

Setelah kita memiliki akun media sosial, keinginan untuk selalu eksis mendorong semua pemilik akun untuk selalu meng-update statusnya. Masalah apapun ditulis di akun media sosial, bahkan masalah pribadi yang seharusnya hanya diketahui dirinya sendiri ditulis di akun media sosial.

Setiap saat, akun media sosial menjadi teman setia. Pagi, siang, dan malam smartphone selalu di tangan. Bangun tidur di pagi hari yang seharusnya bergegas ke jamban, mengambil air wudhu, malah duduk terlebih dahulu memainkan smartphone, melihat akun media sosial.

Demikian pula, selepas shalat bukannya berdo’a, namun membuka akun media sosial. Tak sedikit kaum pria yang asyik dengan smarthpone-nya ketika tengah melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Padahal ketika khatib tengah berkhutbah pada pelaksanaan ibadah shalat Jum’at, jangankan memainkan smartphone, membaca al Qur’an dan zikir lainnya pun harus dihentikan.

Banyak orang yang begitu bangga karena banyak follower-nya di dunia maya, padahal mereka belum pernah bertemu dengan para follower tersebut. Mereka merasa bangga memiliki banyak teman di dunia maya, ironisnya mereka sudah lama tak kenal dengan tetangga dan saudaranya di dunia nyata.

Demi popularitas dan dianggap eksis, kini banyak orang yang berlebihan dalam menggunakan media sosial, malahan tak sedikit yang melakukan berbagai hal nyeleneh demi popularitas dan banyak pengikutnya, salah satunya dengan melakukan prank. Tak sedikit yang berani melanggar norma adat, hukum, bahkan agama demi popularitas. Kini kecanduan menggunakan media sosial menjadi ancaman baru setelah kecanduan rokok dan narkoba.

Lebih dari itu, kini penggunaan media sosial telah melenceng dari tujuan awal penemuan media sosial. Dahulu, para penemu media sosial berusaha keras menciptakan aplikasi tersebut untuk mempertemukan orang-orang yang jauh agar dapat bersilaturahmi, mempererat kembali tali persaudaraan. Kini tak sedikit orang yang menjadikan media sosial sebagai media untuk bergosip ria dan mem-bully orang, menciptakan aktivitas kebencian kepada orang lain (hater).

Secara psikologis, berlebihan dalam menggunakan media sosial akan sangat mempengaruhi kesehatan jiwa para penggunanya. Psikolog Mark D. Griffiths dalam papernya yang berjudul Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned menulis bahwa penggunaan media sosial bisa menimbulkan masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, kesepian, dan kecanduan (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Mark D. Griffiths menambahkan, kebiasaan untuk selalu memeriksa media sosial setiap saat telah membuat kita "takut ketinggalan" atau biasa disebut FOMO (Fear Of Missing Out). Dan gangguan mental akibat penyalahgunaan media sosial setiap tahun terus meningkat, khususnya remaja dan anak- anak muda.

Banyak orang yang tak sadar, kini kehidupannya telah menjadi “hamba” media sosial. Ritme kehidupannya bukan lagi mengatur media sosial, tapi malah sebaliknya, ritme kehidupannya dikendalikan dan diatur media sosial.

Sebagai agama yang tawazun (seimbang), Islam mementingkan kehidupan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk taat beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan kepentingan dunia.

Setelah kita melaksanakan ibadah shalat, kita diperintahkan berzikir secara lisan dan perbuatan. berzikir secara lisan adalah melafalkan berbagai do’a sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Sementara zikir secara perbuatan adalah bertebaran di muka bumi untuk mencari bekal hidup/harta sebagai pendukung ibadah kepada Allah swt.

Islam melarang umatnya berlebihan dalam segala hal. Sebelum melaksanakan ibadah shalat malam, kita dianjurkan tidur terlebih dahulu. Anjuran ini sebagai wujud keseimbangan ajaran Islam dalam memenuhi hak-hak kemanusiaan sebelum memenuhi kewajiban ibadah kepada Allah.

Ibadah shaum baik shaum sunat maupun wajib merupakan ibadah yang baik, namun ajaran Islam melarang seseorang melakukan ibadah shaum berlebihan, misalnya shaum tanpa berbuka sama sekali. Lagi-lagi disini Allah menghargai hak-hak hamba-Nya untuk memenuhi kebutuhan sisi kemanusiaan, yakni makan, minum, dan bersenang-senang.

Dalam segala aspek kehidupan, ajaran Islam sangat menekankan keseimbangan. Tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Al-Qur’an menegaskan, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Dalam Al-Qur’an, kata “berlebihan” diistilahkan dengan “sarafa”. Kata ini dengan berbagai turunannya disebutkan sebanyak 20 kali dalam 18 surat, Q. S. Thaha : 127; Q. S. al Mu’min : 28 , 34 dan 43; Q. S. Yasin :19; Q. S. Yunus : 12 dan 83; Q. S. al Anbiya : 9; Q. S. asy-Syu’ara :151 ; Q.S. az Zukhruf :5 ; Q. S. ad Dukhan : 31 ; Q. S. az Zariyat :34; Q. S. al An’am :141 ; Q. S. al A’raf : 31 ; Q. S. al Furqan : 67 ; Q. S. al Isra : 33 ; Q. S. al Maidah : 32 ; Q. S. an Nisa : 6 ; Q. S. Ali Imran :147 ; Q. S. az Zumar : 53.

Masalah yang disorot dengan kata “sarafa” ini hampir seluruh aspek kehidupan, aqidah, ibadah, sosial, hukum, dan ekonomi. Satu akibat yang sama dari sikap berlebihan ini, yakni Allah tak menyukai orang-orang berlebihan dalam segala aspek kehidupan.

Islam sudah menggariskan jangan berlebihan dalam aktivitas apapun, meskipun aktivitas tersebut halal hukumnya. Sederhana atau pertengahan alias tawazun merupakan perbuatan yang baik.

Jangankan penggunaan media sosial, sandang, pangan, papan, sedekah, memberikan wasiat yang berupa harta, menasihati seseorang, bahkan beribadah mahdhah sekalipun, Islam menganjurkan untuk tetap sederhana, dan tawazun. Tak boleh kekurangan, juga tak boleh berlebihan.

Ilustrasi : uang dan gaya hidup (sumber gambar : https://republika.co.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Pastikan Dapur Dalam Keadaan Bersih, Lapas Purwokerto Lakukan Inspeksi Hygiene Sanitasi

Image

Opini tentang APBN 2022

Image

Menelaah lebih dalam mengenai Konsep dalam Bisnis Syar'iah

Image

Tambahan Pelunasan Utang Karena Ta'widh dalam Ekonomi Syariah apakah Termasuk Riba?

Image

Opini tentang APBN 2022

Image

Rori Perwira Jadi Calon Kuat Ketum Imarindo

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image