Asal Mula Alfabet Jawa

Image
Mei Panduwinata
Sastra | Saturday, 24 Apr 2021, 11:00 WIB

Secara historis, aksara Jawa dan beberapa aksara nusantara lainnya sebenarnya merupakan turunan dari aksara Pallawa yang digunakan sekitar abad ke 4 Masehi. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman, bentuk dan komposisi aksara Hanacaraka telah mengalami berbagai perubahan, sejauh yang kita kenal sekarang.

Aksara Jawa (sering disebut "Hanacaraka") adalah aksara jenis abugida yang berasal dari aksara Brahmi. Dari segi bentuk, aksara hanacaraka memiliki kemiripan dengan aksara Sunda dan Bali. Aksara Jawa sendiri merupakan varian aksara Kawi modern yang merupakan salah satu aksara Sansekerta yang dikembangkan oleh aksara Pallawa yang dikembangkan oleh Jawa.

Pada masa kejayaan Kerajaan Islam, dari Kesultanan Demak hingga Pajang, penulisan periode ini diwakili oleh Suluk Wijil dan Serat Aji Saka. Saat itu, barisan pangram Hanacaraka diperkenalkan untuk memudahkan pengikatan 20 konsonan yang digunakan dalam bahasa Jawa. Urutannya terdiri dari 4 baris, dan setiap baro terdiri dari 5 karakter yang mirip dengan puisi. Namun menurut legenda yang kita sebut dengan cerita Aji Saka, ada juga cerita tentang asal muasal aksara Hanacaraka.

Legenda Aji Saka Konon "Aksara Hanacaraka" lahir dari kisah seorang pemuda sakti bernama Aji Saka yang masuk ke kerajaan Medhangkamulan. Raja Dewata Cengkar yang ada di kerajaan itu sangat rakus dan suka makan daging manusia. Banyak orang takut dengan kebiasaan raja. Untuk menghentikan kebiasaan raja, Aji Saka pergi ke sana, Aji Saka memiliki dua orang pembantu yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Alkisah, Aji Saka pergi ke Kerajaan Medhangkamulan dan mengajak Dora untuk menemaninya. Pada saat yang sama, Sembada diperintahkan untuk tetap berada di Pulau Majethi karena harus menjaga kelenjar Aji Saka agar tidak jatuh ke tangan orang lain selain dirinya.

Setelah Aji Saka tiba di Kerajaan Medhangkamulan, ia segera mendatangi Prabu Dewata Cengkar dan menuntut penyitaan sebidang tanah sebesar sorbannya. Syarat ini adalah Aji Saka bersedia menjadi makanan raja selama ia memperoleh tanah yang diinginkannya. Akhirnya Raja Dewata Cengkat menyetujui permintaan Aji Saka. Ia menggunakan kain sorban Aji Saka untuk mengukur permukaan tanah, namun di luar dugaan, kain sorban tersebut semakin melebar hingga membuat Prabu Dewata Cengkar mondar-mandir hingga mencapai tebing di pantai selatan. Sayangnya Prabu Dewata Cengkar tidak bisa menyelamatkan diri dan tewas di tebing. Sejak saat itu, Aji Saka diangkat menjadi raja Kerajaan Medhangkamulan.

Kemudian, Asakasaka teringat akan warisannya di Pulau Majethi. Ia pun mengirim Dora untuk menerimanya dari Sembada. Setelah Dora sampai di Pulau Majethi, ia langsung meminta pusaka Aji Saka yang dijaga Sembada, namun rekannya tersebut tidak menginginkan pusaka tersebut karena teringat akan perintah Aji Saka. Di saat yang sama, Dora berkeras bahwa yang dilakukannya adalah perintah dari Aji Saka. Mereka bertengkar dan berkelahi. Sayangnya, mereka berdua meninggal, dan Aji Saka menyesali perbuatannya setelah mendengar bahwa kedua pembantunya telah terbunuh. Kemudian untuk memperingati, ia menyanyikan "Hanacaraka Rhyme" yang sarat makna:

Ha Na Ca Ra Ka

Ada sebuah cerita

Da Ta Sa Wa La

Dalam Argumen

Pa Dha Ja Ya Nya

Keduanya kuat

Ma Ga Ba Tha Nga

Akhirnya mereka semua mati

Arti filosofis dari naskah Hanacaraka dari cerita-cerita ini, kita dapat menyimpulkan bahwa "Aksara Hanacaraka" memiliki makna filosofis yang bijaksana. Makna filosofis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti "utusan", yaitu pembawa pesan kehidupan, yang muncul dalam bentuk nafas dan harus menggabungkan jiwa dengan tubuh manusia. Ini menjelaskan keberadaan pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.

Da-Ta-Sa-Wa-La artinya manusia tidak bisa menjadi "sawala" atau melarikan diri setelah membuat "data" atau bila disebut "data". Dalam kehidupan ini, manusia harus mau menjalankan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa-Dha-Ja-Ya-Ya-nya mewakili kombinasi materi pemberi kehidupan (sakral) dan materi pemberi kehidupan (keberadaan). Dalam pengertian filosofis, pemikiran setiap orang harus sejalan dengan apa yang dilakukannya.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarang Tuhan. Artinya kalaupun manusia diberi hak untuk meniru dan berusaha menguasai alam, manusia harus pasrah pada alam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Asal Mula Alfabet Jawa

Artikel Lainnya

Image

Bahagia, 50 Anak Yatim Terima Santunan di Akhir Ramadhan

Image

Misi Kemanusiaan Dirikan Rumah Baca Anak di Karawang

Image

Pagi Ini Sahur Terakhir Ramadhan 1442 H, Yuk Banyakin Berdoa & Istighfar

Image

Indonesia Bisa Mengambil Hikmah di Balik Kasus Covid-19 di India

Image

Generasi Milenial Pilar Utama Gerakan Filantropi

Image

Ngabuburit Ramadhan: Lifestyle Mahasiswa di Mesir

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image