Palestina juga Butuh Perhatian Dunia

Image
Fenti Fempirina K
Politik | Wednesday, 13 Apr 2022, 12:42 WIB
Gambar dari republika.co.id

Perhatian dunia masih tertuju pada konflik Rusia dan Ukraina. Tak sedikit kecaman dilayangkan terhadap Rusia yang dianggap telah melakukan kejahatan perang karena serangannya terhadap warga sipil di kota-kota Ukraina. Selain di Ukraina, kejahatan perang sesungguhnya telah berlangsung lama di belahan dunia lain. Di Palestina misalnya, serangan tentara Israel terhadap warga sipil terus terjadi bahkan semakin meningkat eskalasinya di Bulan Ramadan ini.

Sungguh miris, di Bulan yang mulia, pembunuhan, penyiksaan dan penangkapan terus mengancam warga Palestina. Israel bahkan membolehkan para pemukim untuk mengangkat senjata dan membunuh warga Palestina hanya karena dianggap tersangka. Tak hanya itu, Israel dilaporkan telah melakukan penyerangan terhadap sejumlah Masjid selama Bulan Ramadan. Hal ini disampaikan oleh Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtay selama rapat kabinet Otoritas Palestina di Kota Ramallah. Ia berharap agar Negara-Negara di dunia bisa meminta Israel menghentikan serangannya terhadap warga sipil Palestina (suara.com, 7/4/22)

Selama ini tak banyak suara yang membela warga Palestina. Ada, namun suara itu tak lebih banyak dari kebungkaman yang didengungkan. Dunia seolah diam dan berpangku tangan. Di sisi lain, hubungan Israel dan Negeri-negeri muslim makin mesra terjalin. Sebut saja Turki, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kosovo yang secara resmi telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel atas bantuan Amerika Serikat (viva.co.id, 19/1/22). Selain dengan enam negara tersebut, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid pernah menyatakan keinginannya menjalin kerjasama dengan Arab Saudi dan Indonesia (merdeka.com, 26/1/22).

Bukankah hubungan diplomatik yang dilakukan negara-negara tersebut adalah wujud pengakuan atas eksistensi Israel sebagai sebuah negara? Jika ditelusuri akar sejarahnya, jelaslah bahwa Zionis Israel adalah penjajah yang merenggut tanah milik kaum muslim di Palestina. Langkah diplomatik yang terjalin seolah bentuk pengabaian atas penderitaan warga Palestina.

Padahal jika mau bersatu, negeri-negeri muslim memiliki kemampuan untuk setidaknya memberikan political pressure pada Israel agar menghentikan agresinya kemudian hengkang dari tanah Palestina. Jika mereka menolak, pengerahan pasukan militer bisa menjadi opsi untuk membebaskan Palestina dari jerat penjajahan. Mesir, Turki, Iran, Pakistan, dan juga Indonesia memiliki kekuatan militer yang kuat dan diakui sendiri oleh Organisasi Global Firepower (GFP) (republika.co.id, 9/9/20).

Namun sayang, langkah-langkah tersebut belum ditempuh bahkan sulit diwujudkan. Mengingat adanya hubungan diplomasi dan politik-ekonomi antara negeri muslim dengan Israel maupun negara penyokongnya seperti Amerika Serikat. Dengan kata lain, umat Muslim saat ini tersandera oleh kepentingan negara-negara adidaya.

Sungguh kondisi ini semakin menunjukan pentingnya umat Islam memiliki kekuatan yang mandiri dan kokoh. Kekuatan yang mampu menjadi perisai yang melindungi umat Islam sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad)

Wallahu’alam

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Menjaring pahala lewat aksara

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Pastikan Dapur Dalam Keadaan Bersih, Lapas Purwokerto Lakukan Inspeksi Hygiene Sanitasi

Image

Opini tentang APBN 2022

Image

Menelaah lebih dalam mengenai Konsep dalam Bisnis Syar'iah

Image

Tambahan Pelunasan Utang Karena Ta'widh dalam Ekonomi Syariah apakah Termasuk Riba?

Image

Opini tentang APBN 2022

Image

Rori Perwira Jadi Calon Kuat Ketum Imarindo

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image