Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image muhamad ahwas

Permasalahan Petani di Masa Pandemi, Crowde Bisa Jadi Solusi

Bisnis | Friday, 08 Apr 2022, 08:56 WIB
Source Image : blog.crowde.co
Source Image : blog.crowde.co

Dalam waktu beberapa minggu, kehidupan di seluruh dunia telah berubah setelah COVID-19. Semua jenis industri telah dipaksa untuk mengubah cara kerjanya, termasuk sektor pertanian. Petani terbiasa beradaptasi dengan berbagai keadaan, baik itu kekeringan, banjir, atau serangan hama. Mengatasi rintangan yang tidak terduga tentu tidaklah mudah. Tantangan tersebut memperjelas bahwa lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan sistem pangan Indonesia. Berikut ini adalah berbagai masalah yang dihadapi petani selama masa pandemi yang mengakibatkan Crowde bermasalah. Simak, yuk!

Tenaga Kerja

Budidaya pertanian membutuhkan tenaga manusia. Baik itu untuk menanam, memanen, sampai menyortir hasil panen. Pembatasan aktivitas masyarakat (PSBB) menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi petani. Distribusi hasil panen membutuhkan mobilisasi dan tenaga kerja. Sehingga PSBB membuat jalur distribusi terbatas dan hasil panen hanya bisa dipasarkan secara lokal. Pengurangan tenaga kerja pun terjadi. Petani terpaksa tidak mempekerjakan buruh sebanyak biasanya, dan untuk proses distribusi pun hanya cukup dikerjakan oleh 1 -2 orang saja. Pendapatan petani dan buruhnya jelas ikut berkurang.

Putusnya Rantai Pasokan

Mengurangi jumlah karyawan di lokasi, untuk juga menjaga jarak aman, terjadi di semua jenis industri. Ini juga yang menjadi salah satu faktor terhambatnya rantai pasokan dari petani ke konsumen. Hasil produksi petani yang terganggu akhirnya mengakibatkan kenaikan harga bagi konsumen. Tidak hanya itu, hasil panen yang mudah rusak, seperti buah dan sayuran, rantai pasokan yang terganggu memiliki dampak yang lebih besar bagi petani. Hasil produksi mereka tidak mampu terserap maksimal dan akhirnya terbuang sia-sia. Akses ke modern trade atau marketplace juga tidak mereka miliki, yang padahal banyak konsumen memilih berbelanja di sana. Sehingga banyak petani yang jadi menderita.

Pergeseran Pasar dengan Cepat dan Daya Beli Turun

Berbagai kebijakan yang diterapkan saat pandemi seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah mengubah pola konsumsi pangan masyarakat. Selama gelombang awal pembelian panik (panic buying), konsumen membeli lebih sedikit produk segar dan membeli lebih banyak makanan olahan dan kaleng dengan masa simpan yang lebih lama. Kondisi itu menyebabkan turunnya daya beli terhadap bahan pangan yang akhirnya membuat petani semakin merugi. Selain itu, banyaknya tempat makan dan tempat-tempat lain (seperti hotel, sekolah) yang biasa membutuhkan bahan pangan sebagai bahan baku ditutup, membuat permintaan dan daya beli pun berkurang. Petani ditinggalkan pembeli sehingga banyak hasil panen yang tidak laku terjual dan profit menurun drastis. Mereka merugi karena tidak mendapat pemasukan yang maksimal.

Harga Pangan yang Terus Turun

Kami mengakui masyarakat juga menjerit karena harga pangan yang terus naik-turun. Namun, petani justru lebih menderita. Alasannya, di tengah pandemi para petani terpaksa harus menjual hasil panennya dengan harga yang lebih rendah dari biasanya. Itu artinya, keuntungan yang diperoleh petani juga semakin berkurang. Terbatasnya akses mobilisasi karena sejumlah kebijakan pemerintah membuat petani juga kesulitan mendistribusi hasil panen ke daerah-daerah lain, sehingga hanya bisa memasarkannya di pasar lokal. Pada akhirnya, itu membuat fluktuasi harga pangan menjadi semakin parah. Ketika keuntungan berkurang, petani juga menjadi semakin sulit untuk memulai budidayanya kembali. Para petani juga mengaku kesulitan membeli obat-obatan untuk penyakit tanaman dengan tepat waktu. Akibatnya, proses budidaya mereka jadi tidak maksimal.

Kesejahteraan Petani Terancam

Petani yang terus diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan, ternyata tidak membuat posisi mereka diuntungkan. Hal ini diperparah oleh kondisi saat ini dimana harga bahan pangan yang tidak stabil, diikuti akses distribusi yang terbatas, dan daya beli konsumen yang menurun, membuat mereka semakin berada di ujung tanduk. Bahkan, data menunjukkan pada bulan Mei lalu, Nilai Tukar Petani (NTP) berada di bawah angka 100, yang artinya petani mengalami defisit dimana pengeluaran lebih besar dari pemasukan.

Sumber Artikel Lengkapnya Klik : https://blog.crowde.co/masa-pandemi-buat-crowde-bermasalah/

Bantu share dari web blognya saja

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image