Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Assyifa Safitri 26011102813

Seni tanpa Makna

Agama | 2026-11-04 17:19:48

Di bawah temaram lampu meja yang lelah, secangkir kopi mendingin dalam sunyi. Kita berdiri di ambang zaman yang ganjil, di mana kesunyian manusia tidak lagi dirawat oleh tinta yang merembes di atas kertas, melainkan oleh baris kode yang bernapas dingin.Lihatlah bagaimana kanvas dan umpan sajak hari ini diciptakan.

Cukup dengan beberapa ketukan jari, sebuah mesin pencari warna-warna senja yang sempurna dan barisan rima yang tertata rapi. Tanpa jeda termenung, tanpa peluh yang meleleh di dahi, tanpa isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Semuanya instan, serba kilat, dan sepenuhnya hampa.Sebab seni, kekasihku, bukanlah tentang seberapa cepat sebuah goresan selesai di atas bidang kosong.

Seni adalah luka yang bernapas. Ia gemetar di tangan seorang pelukis saat menorehkan cat minyak pertama di atas kanvas tua, adalah jejak kopi yang tumpah karena larut dalam lamunan, adalah sajak yang terbata-bata karena penyairnya terlalu lama menanggung rindu.Mesin-mesin itu yang Anda panggil kecerdasan buatan.

Ketika kita mulai terbiasa meminta algoritma menuliskan rindu dan melukiskan sepi, saat itulah kita sedang membunuh perlahan-lahan menyaring kecil di dalam dada kita sendiri. Kita memilih jalan pintas menuju keindahan yang mati.Maka, biarlah jemari ini kembali berdarah oleh tinta pulpen yang macet. Biarkan kuas belepotan di atas meja, dan biarkan umpan-umpan puisi lahir dari retakan jiwa yang rapuh. Sebab di dalam ketidaksempurnaan tangan manusialah, keabadian seni yang sesungguhnya bersemayam.

memang tahu cara meniru guratan Van Gogh dan merangkai diksi Chairil Anwar. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana rasanya konektivitas di bawah hujan tengah malam, atau bagaimana remuknya dada ketika patah hati. Ia hanya memantulkan bayangan, bukan menghidupkan kenyataan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image