Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Farras Faizah

Memahami BPO dan MPO: Dua Skema Outsourcing dengan Tanggung Jawab Berbeda

Bisnis | 2026-11-04 09:31:38
Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi

Outsourcing menjadi salah satu strategi yang digunakan perusahaan untuk mendukung kelancaran operasional. Melalui skema ini, perusahaan dapat bekerja sama dengan penyedia jasa untuk memenuhi kebutuhan tertentu tanpa harus menangani seluruh proses secara mandiri. Namun, ada dua istilah yang kerap dianggap memiliki arti serupa, yaitu Business Process Outsourcing (BPO) dan Manpower Outsourcing (MPO).

Meski sama-sama berkaitan dengan alih daya, keduanya memiliki fokus layanan yang berbeda. BPO berorientasi pada pengelolaan suatu proses bisnis, sedangkan MPO lebih berfokus pada penyediaan tenaga kerja.

BPO berfokus pada pengelolaan proses bisnis. Dalam skema ini, perusahaan mempercayakan fungsi atau aktivitas tertentu kepada penyedia jasa. Pihak penyedia bertanggung jawab mengelola kebutuhan operasional, mulai dari penyediaan tim, sistem kerja, hingga pengawasan mutu layanan. Keberhasilan kerja sama umumnya diukur berdasarkan target dan hasil yang telah disepakati.

Sementara itu, MPO berfokus pada penyediaan sumber daya manusia. Penyedia jasa bertugas merekrut dan menempatkan tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan. Pekerja tersebut secara administratif berada di bawah perusahaan penyedia jasa, tetapi pelaksanaan pekerjaan sehari-harinya mengikuti arahan operasional dari perusahaan pengguna.

Apa Saja Perbedaan BPO dan MPO?

Ada beberapa aspek yang dapat digunakan untuk membedakan kedua skema outsourcing ini:

  • Fokus layanan: BPO mengelola proses atau fungsi bisnis tertentu, sementara MPO menyediakan tenaga kerja untuk mendukung aktivitas perusahaan.
  • Pengelolaan pekerjaan: BPO dikelola oleh penyedia jasa, termasuk pengaturan tim dan pengawasan kualitas. Pada MPO, perusahaan pengguna memberikan arahan terkait pekerjaan sehari-hari.
  • Indikator keberhasilan: BPO umumnya menggunakan Service Level Agreement (SLA) dan Key Performance Indicator (KPI) untuk mengukur hasil layanan. MPO lebih menekankan kesesuaian jumlah, kompetensi, dan kualifikasi tenaga kerja.
  • Pelaksanaan pekerjaan: BPO dapat dijalankan di lokasi penyedia jasa maupun lokasi klien, bergantung pada jenis layanan. MPO umumnya menempatkan pekerja langsung di lingkungan perusahaan pengguna.

Contoh Penerapan dalam Perusahaan

Untuk memahami perbedaannya, bayangkan sebuah perusahaan sedang membutuhkan dukungan layanan pelanggan. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui dua pendekatan.

Jika menggunakan BPO, perusahaan menyerahkan pengelolaan layanan pelanggan kepada vendor. Vendor akan menyediakan agen, supervisor, sistem pendukung, serta mekanisme evaluasi untuk memastikan layanan berjalan sesuai standar yang ditentukan.

Jika menggunakan MPO, perusahaan meminta penyedia jasa untuk menyediakan sejumlah staf layanan pelanggan. Para pekerja ditempatkan di kantor perusahaan, sementara pembagian tugas, jadwal, dan alur pekerjaan sehari-hari mengikuti kebutuhan operasional perusahaan tersebut.

Kedua pilihan tersebut dapat memenuhi kebutuhan tenaga layanan pelanggan. Perbedaannya terletak pada ruang lingkup pekerjaan yang dialihkan dan pihak yang bertanggung jawab mengelolanya.

Menentukan Skema Outsourcing yang Tepat

Pemilihan antara BPO dan MPO sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan pengelolaan internal perusahaan.

BPO dapat menjadi pilihan ketika perusahaan ingin:

  • Mengalihkan pengelolaan suatu fungsi bisnis kepada pihak yang lebih berpengalaman.
  • Memperoleh layanan dengan target dan standar kualitas yang terukur.
  • Mengurangi beban pengelolaan operasional secara langsung.
  • Mendapatkan dukungan untuk proses seperti contact center, penagihan, payroll, dan administrasi.

Di sisi lain, MPO lebih sesuai ketika perusahaan:

  • Membutuhkan tambahan tenaga kerja sesuai jumlah dan kualifikasi tertentu.
  • Ingin mengatur pembagian tugas serta aktivitas pekerjaan sehari-hari.
  • Memerlukan tenaga pendukung untuk kegiatan operasional, seperti petugas keamanan, cleaning service, pengemudi, dan staf administrasi.

Perusahaan juga tidak harus membatasi diri pada satu skema saja. BPO dan MPO dapat digunakan secara bersamaan sesuai kebutuhan masing-masing fungsi. Misalnya, perusahaan menggunakan MPO untuk memenuhi kebutuhan tenaga kebersihan dan keamanan, sekaligus memanfaatkan BPO untuk mengelola layanan pelanggan.

Jangan Salah Menentukan Kebutuhan

Kesalahan dalam memahami BPO dan MPO dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara layanan yang diterima dan ekspektasi perusahaan. Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain menyamakan kedua skema, tidak memahami pembagian tanggung jawab, serta memilih jenis layanan tanpa mempertimbangkan kebutuhan operasional.

Sebelum menjalin kerja sama, perusahaan perlu mengidentifikasi terlebih dahulu apakah kebutuhan utamanya adalah menyerahkan pengelolaan sebuah proses bisnis atau memperoleh

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image