Pentingnya Tasawuf dalam Membentuk Akhlak Mahasiswa di Era Digital
Agama | 2026-10-23 07:38:06Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Kemudahan mengakses informasi, berkomunikasi, dan memperoleh pengetahuan memberikan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui internet, mahasiswa dapat mempelajari berbagai bidang ilmu, berdiskusi dengan banyak orang, dan mengembangkan kemampuan diri tanpa terbatas ruang dan waktu. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana menjaga akhlak dan karakter di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada teknologi.
Saat ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Fenomena perundungan di media sosial, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, kebiasaan merendahkan orang lain dalam perdebatan, hingga kecenderungan mengejar pengakuan melalui dunia digital menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan pembentukan karakter yang baik.
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar mahasiswa di era digital bukanlah kurangnya akses terhadap pengetahuan, melainkan bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut secara bijaksana. Mahasiswa dapat memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan sikap menghargai sesama. Dalam konteks inilah tasawuf memiliki relevansi penting sebagai salah satu pendekatan dalam membina hati dan membentuk akhlak.
Tasawuf merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang menekankan penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, keikhlasan, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sementara itu, akhlak berkaitan dengan karakter dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya memiliki hubungan erat karena pembinaan batin dapat membantu seseorang mengembangkan kesadaran moral, sedangkan akhlak menjadi salah satu wujud nyata dari proses perbaikan diri tersebut.
Dalam kehidupan mahasiswa, hubungan antara tasawuf dan akhlak dapat dilihat dari cara seseorang menyikapi berbagai persoalan. Mahasiswa yang memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri akan berusaha menjaga kejujuran ketika mengerjakan tugas, menghormati pendapat teman, dan mengakui kesalahan ketika melakukan kekeliruan. Sikap tersebut bukan hanya menunjukkan pemahaman terhadap nilai-nilai moral, tetapi juga mencerminkan kesungguhan untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Salah satu nilai tasawuf yang relevan bagi mahasiswa adalah muhasabah, yaitu proses mengevaluasi diri terhadap perkataan, tindakan, dan niat. Melalui muhasabah, mahasiswa dapat menilai apakah perilakunya selama ini sudah sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini. Misalnya, ketika menyadari bahwa dirinya sering memberikan komentar kasar di media sosial, ia dapat mulai memperbaiki cara berkomunikasi dan belajar menghargai orang lain.
Muhasabah juga mengajarkan mahasiswa untuk tidak selalu sibuk mencari kesalahan orang lain. Dalam kehidupan akademik, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar karena setiap individu memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Mahasiswa perlu membangun kebiasaan berdiskusi secara sehat, menerima kritik, dan mengutamakan kebenaran daripada sekadar mempertahankan ego.
Selain muhasabah, keikhlasan juga menjadi nilai penting dalam pembentukan akhlak mahasiswa. Di era digital, seseorang dapat dengan mudah menampilkan aktivitas, pencapaian, dan kegiatan sosialnya melalui media sosial. Hal tersebut tidak selalu negatif karena dapat menjadi sarana berbagi informasi dan menginspirasi orang lain. Akan tetapi, mahasiswa perlu memahami pentingnya menjaga niat agar tidak menjadikan pujian dan pengakuan sebagai satu-satunya tujuan dalam melakukan kebaikan.
Menurut saya, keikhlasan dapat dilatih melalui tindakan sederhana, seperti membantu teman memahami materi perkuliahan tanpa mengharapkan imbalan, menjalankan tanggung jawab organisasi dengan sungguh-sungguh, serta tetap berbuat baik meskipun tidak memperoleh penghargaan. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa nilai kebaikan tidak semestinya bergantung pada seberapa banyak orang yang melihat atau memberikan pujian.
Tasawuf juga menekankan pentingnya mengendalikan hawa nafsu. Dalam konteks kehidupan digital, pengendalian diri dapat diwujudkan melalui kemampuan membatasi penggunaan media sosial, menghindari komentar yang menyakiti orang lain, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Mahasiswa perlu memahami bahwa tidak semua informasi harus langsung dibagikan dan tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Kemampuan mengendalikan diri menjadi penting karena aktivitas digital sering kali berlangsung dengan cepat. Seseorang dapat memberikan komentar ketika sedang marah tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Padahal, perkataan yang disampaikan melalui media sosial dapat menyebar luas dan meninggalkan dampak yang tidak mudah diperbaiki. Dengan membiasakan diri untuk berpikir sebelum bertindak, mahasiswa dapat menggunakan teknologi secara lebih bertanggung jawab.
Pentingnya pembinaan jiwa juga dapat dikaitkan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10, yang menjelaskan keberuntungan orang yang menyucikan jiwa dan kerugian orang yang mengotorinya. Ayat tersebut memberikan pengingat tentang pentingnya memperbaiki diri. Dalam konteks tasawuf, pesan ini dapat dijadikan landasan refleksi agar mahasiswa tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga memperhatikan kualitas batin dan perilakunya.
Meskipun demikian, tasawuf tidak seharusnya dipahami sebagai ajaran yang mengharuskan mahasiswa menjauh dari perkembangan teknologi atau kehidupan modern. Sebaliknya, nilai-nilai tasawuf dapat menjadi pedoman agar mahasiswa mampu menghadapi perkembangan zaman dengan lebih bijaksana. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk belajar, berwirausaha, berdiskusi, dan menyebarkan pengetahuan, selama penggunaannya disertai tanggung jawab moral.
Pembentukan akhlak mahasiswa juga tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Keluarga, perguruan tinggi, dan lingkungan masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan serta keteladanan. Perguruan tinggi, misalnya, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu mendukung terbentuknya mahasiswa yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.
Menurut saya, pendidikan akhlak akan lebih bermakna apabila diterapkan melalui kebiasaan nyata. Kejujuran perlu diwujudkan dalam pengerjaan tugas, tanggung jawab perlu terlihat dalam kegiatan organisasi, dan sikap menghargai sesama perlu diterapkan dalam diskusi maupun interaksi di media sosial. Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan tidak hanya menjadi pengetahuan yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga menjadi pedoman dalam mengambil keputusan.
Pada akhirnya, tasawuf memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan moral. Mahasiswa yang mampu menguasai teknologi tetapi tidak memiliki pengendalian diri berisiko menggunakan kemampuannya secara tidak bertanggung jawab. Sebaliknya, mahasiswa yang berusaha memperbaiki hati dan akhlaknya memiliki landasan yang lebih kuat untuk memanfaatkan pengetahuan demi kepentingan yang bermanfaat.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, prestasi, atau pengakuan di media sosial. Keberhasilan juga tercermin dari kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain. Tasawuf mengajak mahasiswa untuk terus memperbaiki diri dari dalam, sedangkan akhlak mengingatkan bahwa perbaikan tersebut perlu terlihat dalam tindakan nyata.
Pada akhirnya, mahasiswa yang berkualitas bukan hanya mahasiswa yang cerdas dalam berpikir, tetapi juga matang dalam bersikap. Di tengah dunia digital yang semakin maju, tasawuf dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga hati, mengendalikan diri, dan membentuk akhlak yang baik. Sebab, teknologi dapat membantu manusia berkembang, tetapi kebijaksanaan dan akhlaklah yang menentukan bagaimana perkembangan tersebut digunakan.
biodata:
nama: muhammad faiq izzuddin nazar
kampus: universitas kh mukhtar syafaat
fakultas: ekonomi bisnis dan bisnis islam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
