Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mutia Isfah Ardilah

Pendidikan Bukan Sekadar Nilai: Belajar dari Pemikiran Ibn Qayyim Al-Jawziyyah

Parenting | 2026-10-22 09:36:28
Sumber Gambar: Ilustrasi AI

Di tengah tuntutan prestasi akademik yang semakin tinggi, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kembali kita renungkan: apakah pendidikan benar-benar berhasil ketika seorang anak memperoleh nilai yang baik, atau ketika ia tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu bertanggung jawab atas kehidupannya?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika keberhasilan pendidikan kerap diukur melalui angka-angka dalam rapor, peringkat kelas, dan prestasi akademik. Semua itu memang penting, tetapi tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan pendidikan secara utuh. Sebab, anak yang cerdas secara intelektual belum tentu memiliki kepekaan sosial, kematangan emosional, dan kesadaran moral yang baik.

Dalam pemikirannya Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, seorang ulama Muslim yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan dan pembinaan manusia, menemukan relevansinya. Gagasan pendidikannya mengingatkan kita bahwa belajar bukanlah sekadar proses mengumpulkan pengetahuan, melainkan perjalanan panjang untuk membentuk kepribadian.

Ketika Pendidikan Terlalu Sibuk Mengejar Angka

Tidak dapat disangkal bahwa kemampuan akademik sering menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan. Orang tua berharap anak memperoleh nilai tinggi, sekolah berusaha meningkatkan prestasi, sementara peserta didik menghadapi berbagai tuntutan untuk memenuhi standar keberhasilan yang telah ditentukan.

Namun, persoalannya muncul ketika angka menjadi tujuan utama, sedangkan proses pembentukan karakter justru berada di urutan berikutnya. Anak mungkin mampu menjawab soal ujian dengan baik, tetapi belum terbiasa berkata jujur ketika tidak bermain-main. Mereka mungkin memahami teori tentang kepedulian, namun belum tentu tergerak membantu teman yang membutuhkan.

Keadaan ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu berarti mampu melakukannya. Ada jarak antara pengetahuan dan perilaku yang tidak dapat dijembatani hanya dengan menambah materi pelajaran.

Dalam perspektif Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, pendidikan atau tarbiyah memiliki cakupan yang lebih luas daripada menyampaikan ilmu. Pendidikan merupakan proses memelihara, membimbing, dan mengembangkan potensi manusia agar tumbuh secara seimbang, baik dalam aspek intelektual, spiritual, moral, maupun jasmani.

Dengan demikian, keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya terlihat dari apa yang diketahui peserta didik, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan tersebut mempengaruhi cara mereka berpikir, berpikir, dan bertindak.

Anak Tidak Hanya Membutuhkan Pengajaran, tetapi Juga Keteladanan

Salah satu persoalan mendasar dalam karakter pendidikan adalah kecenderungan untuk mengandalkan nasihat. Anak diminta bersikap jujur, disiplin, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab. Namun, nasihat tersebut tidak selalu diikuti oleh contoh nyata dari lingkungan sekitar.

Padahal, anak belajar bukan hanya melalui apa yang didengar, melainkan juga melalui apa yang dilihat dan dialaminya setiap hari.

Pemikiran Ibnu Qayyim menempatkan keteladanan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Orang tua dan guru tidak cukup menjelaskan perilaku yang baik; mereka juga perlu menghadirkannya dalam kehidupan nyata. Pesan tentang kejujuran akan kehilangan kekuatan apabila anak hanya menonton dari orang dewasa yang dihormatinya. Demikian pula, ajakan untuk kebaikan akan terjamin apabila lingkungan pendidikan dipenuhi ucapan kasar dan perilaku yang berkepribadian.

Keteladanan pada akhirnya bukan sekadar metode mengajar, melainkan tanggung jawab moral seorang pendidik.

Selain keteladanan, pembiasaan juga memiliki peran besar. Karakter tidak terbentuk dalam satu kali pertemuan atau melalui satu nasihat yang mengesankan. Ia tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berulang-ulang, seperti membiasakan mengucapkan terima kasih, menjaga kebersihan, menyelesaikan tugas, mengakui kesalahan, dan membantu orang lain.

Kebaikan yang dilakukan secara konsisten perlahan-lahan dapat menjadi bagian dari kepribadian. Oleh karena itu, pendidikan membutuhkan karakter kesabaran, kesinambungan, dan lingkungan yang mendukung.

Mendidik Harus Memahami Tahap Perkembangan Anak

Setiap anak memiliki karakteristik, kebutuhan, dan kecepatan perkembangan yang berbeda-beda. Ada anak yang cepat memahami penjelasan, namun membutuhkan waktu lebih lama untuk mengendalikan emosi. Ada pula yang mampu menyelesaikan tugas akademik dengan baik, namun masih memerlukan pendampingan dalam membangun kemandirian.

Perbedaan tersebut seharusnya tidak langsung dianggap sebagai kekurangan. Justru, hal itu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pendekatan pendidikan yang tepat.

Ibnu Qayyim menekankan bahwa pendidikan berlangsung secara bertahap dan perlu disesuaikan dengan perkembangan individu. Pembinaan anak bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan secara instan, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan perhatian terhadap kondisi fisik, mental, spiritual, dan sosialnya.

Pandangan ini memberikan pelajaran penting bagi orang tua dan guru masa kini. Kita tidak dapat menuntut seluruh anak untuk menunjukkan kematangan yang sama pada waktu yang sama. Tuntutan yang tidak sesuai dengan kesiapan anak berisiko menimbulkan tekanan, sedangkan pendampingan yang tepat dapat membantu mereka berkembang sesuai potensinya.

Mendidik bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Sebaliknya, pendidikan membutuhkan batasan, aturan, dan disiplin. Namun, semuanya perlu diterapkan dengan mempertimbangkan usia, kemampuan, dan kebutuhan anak.

Disiplin yang mendidik seharusnya membantu anak memahami tindakannya, belajar memperbaiki kesalahan, serta melatih tanggung jawab. Bukan sekedar membuatnya takut terhadap hukuman.

Dari Memahami Kebaikan Menuju Melakukan Kebaikan

Pendidikan sering kali berhasil menjelaskan banyak hal, tetapi tidak selalu memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk menanamkannya. Mereka belajar tentang kepedulian, namun jarang dilibatkan dalam kegiatan sosial. Mereka mempelajari tanggung jawab, tetapi tidak selalu memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Dalam pemikiran Ibnu Qayyim, pembelajaran melalui praktik nyata atau learning by doing menjadi salah satu pendekatan penting. Nilai-nilai kebaikan perlu dihadirkan dalam pengalaman sehari-hari agar tidak berhenti sebagai konsep.

Anak dapat belajar tentang kepedulian dengan terlibat dalam kegiatan membantu sesama. Mereka dapat memahami tanggung jawab melalui tugas yang sesuai dengan kemampuannya. Kejujuran dapat ditanamkan dengan memberikan ruang bagi anak untuk mengakui kesalahannya tanpa langsung mempermalukannya.

Melalui pengalaman tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kesempatan untuk memahami makna yang dipelajarinya.

Pendekatan ini relevan diterapkan di sekolah maupun keluarga. Pembelajaran agama, misalnya, tidak berhenti pada kemampuan menghafal dalil atau menjelaskan pengertian akhlak terpuji. Pengetahuan tersebut perlu berkaitan dengan perilaku konkret, seperti menjaga amanah, menghormati orang tua, menghargai perbedaan, dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjelaskan kebaikan, tetapi juga terbiasa mengupayakannya.

Keluarga dan Sekolah Harus Berjalan Seiring

Pembentukan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Anak menghabiskan sebagian besar pengalaman hidupnya dalam berbagai lingkungan, terutama keluarga, pergaulan, dan masyarakat. Setiap lingkungan memberikan pengaruh terhadap cara anak memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.

Ibnu Qayyim memberikan perhatian besar terhadap peran orang tua dan lingkungan dalam menjaga serta mengembangkan potensi dasar anak. Oleh karena itu, pendidikan memerlukan keterlibatan bersama, bukan kerja terpisah antara keluarga dan sekolah.

Sekolah dapat menanamkan kedisiplinan, tetapi pembiasaan tersebut akan lebih kuat jika memperoleh dukungan di rumah. Guru dapat mengajarkan kesantunan, tetapi nilai itu akan lebih mudah dipahami ketika anak juga menyaksikannya dalam interaksi keluarga. Sebaliknya, kebiasaan baik yang telah dibangun di rumah perlu diperkuat oleh lingkungan sekolah yang kondusif.

Kolaborasi ini tidak berarti orang tua dan guru harus selalu memiliki cara yang sama dalam setiap persoalan. Yang lebih penting adalah adanya keselarasan nilai, komunikasi yang terbuka, dan kesediaan untuk memahami kebutuhan anak.

Di era digital, tanggung jawab tersebut menjadi semakin menantang. Anak-anak dihadapkan dengan beragam informasi, figur panutan, dan pola interaksi yang tidak semuanya dapat dikendalikan oleh orang tua maupun sekolah. Oleh karena itu, pendampingan tidak cukup dilakukan melalui larangan. Anak juga perlu dibekali kemampuan menilai informasi, memahami konsekuensi perilaku, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai yang diyakininya.

Mengembalikan Tujuan Pendidikan

Pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah mengajak kita untuk meninjau kembali tujuan pendidikan. Ilmu tetap penting, prestasi akademik tetap perlu diperjuangkan, dan penguasaan teknologi tetap harus dikembangkan. Namun seluruh pencapaian tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka pembentukan manusia yang utuh.

Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang mengabaikan kecerdasan demi moralitas, ataupun pendidikan yang mengejar kecerdasan dengan khususnya akhlak. Keduanya perlu dikembangkan secara terpadu agar pengetahuan dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat dari seberapa banyak materi yang dikuasai anak, melainkan juga dari bagaimana ia menggunakan pengetahuannya, memperlakukan sesamanya, mengendalikan dirinya sendiri, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Kita perlu kembali menyadari bahwa mendidik bukan sekedar mempersiapkan anak untuk menghadapi ujian, memperoleh ijazah, atau memasuki dunia kerja. Pendidikan juga merupakan ikhtiar mempersiapkan manusia agar mampu menjalani kehidupan dengan ilmu, iman, dan akhlak yang baik.

Sebab, pendidikan yang sesungguhnya tidak berhenti ketika pelajaran selesai atau ketika nilai rapor diumumkan. Pendidikan menemukan maknanya ketika apa yang dipelajari mulai hidup dalam perilaku, menjadi kebiasaan, dan akhirnya membentuk kepribadian.

Jika pendidikan hanya membuat anak semakin pintar, kami baru menyelesaikan sebagian dari tugas kami. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan ilmu sebagai jalan kebijaksanaan, dan menjadikan proses belajar sebagai jalan menuju kemuliaan akhlak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image