Sekolah Mengajarkan Hidup Sehat, Tetapi Bagaimana Jika Udaranya tak Sehat?
Eduaksi | 2026-10-21 16:12:54
Pada 15 September 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan, Riau, memulangkan siswa yang sudah datang ke sekolah setelah kualitas udara berada dalam kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana pencemaran udara dapat mengubah kegiatan pendidikan dalam waktu singkat. Di sekolah, siswa diajarkan pentingnya menjaga kesehatan dan memahami bahaya pencemaran lingkungan. Namun, ketika udara di sekitar mereka justru berisiko bagi kesehatan, pelajaran tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih nyata: bagaimana nilai menjaga kesehatan diterapkan dalam keputusan penyelenggaraan pembelajaran?
Persoalan serupa kembali terlihat pada Oktober 2026. Di Kabupaten Pelalawan, kegiatan belajar pada 8-10 Oktober disesuaikan berdasarkan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Menurut pemberitaan Riau Pos, delapan kecamatan yang terdampak kualitas udara sangat tidak sehat hingga berbahaya sehingga diterapkan pembelajaran jarak jauh, sedangkan empat kecamatan dengan kategori tidak sehat melaksanakan tatap muka terbatas dengan pembatasan kegiatan luar ruangan. Di Pekanbaru, pemerintah kota memperpanjang pembelajaran jarak jauh pada 16-17 Oktober karena kualitas udara belum membaik. Setelah pemantauan menunjukkan perbaikan, pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan bagi siswa SD dan SMP mulai 19 Oktober, sedangkan PAUD dan TK masih menjalani pembelajaran jarak jauh.
Kehadiran siswa di ruang kelas belum tentu menunjukkan bahwa kegiatan belajar berlangsung dalam kondisi yang layak. Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, risiko gangguan kesehatan dapat memengaruhi kenyamanan dan kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran. Tinjauan ilmiah oleh Valls Roche dan rekan-rekannya (2024) menunjukkan adanya bukti hubungan antara pencemaran udara dengan dampak negatif terhadap kesehatan kognitif dan kemampuan belajar anak. Temuan tersebut tidak berarti setiap siswa yang terpapar asap karhutla pasti mengalami penurunan kemampuan belajar, tetapi memperkuat pentingnya memperhatikan kondisi lingkungan pendidikan. Dengan demikian, kelayakan pembelajaran perlu dinilai dari keadaan yang memungkinkan siswa belajar secara aman, bukan semata-mata terlaksananya kegiatan di kelas.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, Emile Durkheim memandang pendidikan sebagai proses sosial yang membentuk nilai, norma, dan kesadaran individu untuk hidup bermasyarakat. Melalui proses tersebut, peserta didik diperkenalkan pada tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap kepentingan bersama. Jika pemikiran ini dikaitkan dengan karhutla, nilai kepedulian yang diajarkan di sekolah semestinya tercermin pula dalam cara lembaga pendidikan merespons risiko yang dihadapi siswa. Sekolah dan dinas pendidikan, misalnya, perlu mempertimbangkan informasi kualitas udara serta arahan otoritas kesehatan sebelum menentukan apakah pembelajaran dapat dilaksanakan secara tatap muka atau perlu dialihkan sementara. Keputusan semacam ini menjadi salah satu cara menerapkan kepedulian terhadap kesehatan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ketika pembelajaran dialihkan ke rumah akibat kabut asap, persoalan lain dapat muncul karena tidak semua siswa memiliki kondisi belajar yang setara. Sebagian siswa memiliki ruang belajar yang nyaman, perlengkapan yang memadai, serta dukungan keluarga, sementara sebagian yang lain menghadapi keterbatasan tersebut. Jika pembelajaran dilakukan secara daring, akses perangkat dan internet juga dapat menjadi hambatan tambahan. Bahkan, rumah belum tentu sepenuhnya terbebas dari paparan asap apabila lingkungan tempat tinggal ikut terdampak karhutla. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebijakan pembelajaran yang sama belum tentu memberikan kesempatan belajar yang setara.
Ketimpangan tersebut dapat dipahami melalui pemikiran Pierre Bourdieu tentang peran modal dalam pendidikan. Modal ekonomi memungkinkan keluarga menyediakan fasilitas belajar yang lebih mendukung, sedangkan modal budaya mencakup pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang dapat memengaruhi cara keluarga membantu proses pembelajaran anak. Ketika kegiatan belajar dipindahkan ke rumah, perbedaan sumber daya tersebut dapat memengaruhi kemampuan siswa mengakses materi, mengikuti arahan guru, dan menyelesaikan tugas. Karena itu, dukungan pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa agar keterbatasan sumber daya keluarga tidak semakin memperlebar kesenjangan kesempatan belajar.
Menentukan bentuk pembelajaran di tengah karhutla memerlukan pertimbangan yang tidak selalu sederhana. Tatap muka memungkinkan interaksi langsung antara guru dan siswa, tetapi pelaksanaannya perlu memperhitungkan risiko paparan asap. Pembelajaran dari rumah dapat menjadi alternatif ketika kondisi udara memburuk. Namun, keputusan tersebut tidak seharusnya bersifat kaku, sebab kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu. Evaluasi berkala berdasarkan informasi otoritas terkait, kondisi kesehatan siswa, serta kesiapan sekolah dan keluarga menjadi penting agar keputusan pembelajaran tetap sesuai dengan keadaan.
Langkah penyesuaian perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dijalankan, bukan berhenti pada penerbitan aturan. Sekolah perlu berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan otoritas kesehatan untuk menentukan kegiatan dengan risiko kesehatan yang lebih terkendali. Jika tatap muka harus dihentikan sementara, pembelajaran dari rumah dapat dilaksanakan secara daring ataupun melalui bahan belajar cetak dengan arahan guru. Komunikasi dengan keluarga juga diperlukan untuk mengetahui hambatan yang dialami siswa dan menentukan bantuan yang sesuai. Tanpa tindak lanjut yang memadai keputusan yang terlihat baik secara administratif justru berisiko menyulitkan peserta didik dalam pelaksanaannya.
Kabut asap akibat karhutla memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak pernah sepenuhnya terpisah dari keadaan sosial dan lingkungan. Sekolah dapat mengubah jadwal, tempat, maupun cara belajar, tetapi penyesuaian tersebut perlu dinilai dari dampaknya terhadap keselamatan dan kesempatan belajar siswa. Pada akhirnya, pelajaran tentang hidup sehat akan lebih bermakna ketika kepedulian terhadap kesehatan juga tercermin dalam keputusan yang melindungi peserta didik saat lingkungan mereka menghadapi risiko.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
