Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nurfikria

Hari Santri: Menjaga Tradisi, Menyiapkan Santri di Era Digital

Eduaksi | 2026-10-19 11:58:29

Setiap tanggal 22 Oktober, Hari Santri menjadi momentum untuk mengingat peran pesantren dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan masyarakat Indonesia. Corak pendidikannya beragam: ada yang menitikberatkan kitab-kitab klasik, ada yang memadukan pendidikan diniyah dengan pendidikan formal, ada pula yang mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan santrinya. Keragaman ini merupakan bagian dari kekayaan pendidikan Islam yang perlu dijaga.

Besarnya peran pesantren dilihat dari data Kementerian Agama per September 2025. Seperti diberitakan ANTARA, terdapat 42.391 pesantren dengan 1.605.445 santri yang tersebar di 34 provinsi. Jumlah pesantren juga dilaporkan meningkat lebih dari 11 ribu dalam enam tahun hingga 2025. Perkembangan ini menjadi alasan untuk terus memperhatikan pendidikan pesantren, termasuk bagaimana kurikulumnya dirancang dan dikembangkan.

Kurikulum tidak cukup dipahami sebagai daftar mata pelajaran atau jadwal kegiatan harian. Di dalamnya terdapat tujuan yang ingin dicapai, materi, metode, pengalaman pendidikan yang diperoleh santri, serta evaluasi untuk melihat ketercapaiannya. Oleh karena itu, pertanyaan pentingnya bukanlah seberapa banyak pelajaran yang diberikan, melainkan apakah seluruh proses pendidikan membantu santri tumbuh sesuai dengan tujuan pesantren. Setiap pesantren memiliki tradisi, sumber daya, dan karakteristik santri yang berbeda-beda. Pengembangan kurikulum tidak berarti menyeragamkan semuanya, melainkan mendorong setiap lembaga mengevaluasi kurikulumnya secara kontekstual tanpa kehilangan identitas dan nilai yang menjadi pijakannya.

Salah satu konteks yang patut diperhatikan adalah perubahan cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Internet, media sosial, dan kecerdasan buatan membuka ruang baru bagi kegiatan belajar sekaligus dakwah. Pesan keagamaan dapat menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat. Namun, kemudahan itu membawa tanggung jawab: keagamaan perlu memeriksa kebenaran dan sumbernya, sedangkan penyampaiannya perlu mempertimbangkan mengukur isi, adab, dan dampaknya bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, santri berperan dalam dakwah digital. Bekal ilmu dari pesantren dapat menjadi landasan untuk menyampaikan pesan Islam melalui tulisan, video, maupun rekaman kajian. Namun, kemampuan membuat konten yang menarik tidak dengan sendirinya menjamin keakuratan pesan. Dakwah memerlukan pemahaman keilmuan, kehati-hatian dalam mengutip dalil, kemampuan membedakan informasi yang dapat dipercaya, serta kesadaran bahwa setiap pesan yang disebarkan dapat mempengaruhi orang lain.

Oleh karena itu, pengembangan kurikulum pesantren dapat mempertimbangkan pendidikan literasi digital dan keterampilan komunikasi sebagai bagian dari kebutuhan santri, sesuai dengan tujuan dan kemampuan masing-masing lembaga. Santri tidak hanya perlu mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami batas penggunaannya, memeriksa sumber informasi, dan menyampaikan ilmu dengan tanggung jawab. Nilai tabayyun, amanah, kejujuran, dan adab dapat menjadi landasan etis dalam menghadapi ruang digital.

Hal serupa terjadi ketika santri memanfaatkan kecerdasan buatan untuk belajar. Teknologi ini dapat membantu memperoleh pemahaman awal atau menyusun pertanyaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan proses memahami dan memeriksa pengetahuan. Santri tetap perlu merujuk sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjelaskan apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, teknologi menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti usaha menuntut ilmu.

Menjawab tantangan zaman juga tidak berarti setiap pesantren harus memiliki fasilitas digital yang sama. Pembaruan tidak selalu dimulai dengan perangkat atau program baru. Peningkatan metode diskusi, pembiasaan membaca secara kritis, kesempatan bertanya, dan evaluasi yang menilai pemahaman serta ilmu dapat menjadi bagian dari kurikulum pengembangan.

Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya kesempatan untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk merefleksikan arah pendidikan pesantren. Apakah tujuan, materi, metode, dan evaluasi sudah saling mendukung? Apakah santri memperoleh bekal yang mampu untuk berperan di tengah masyarakat, termasuk ketika ilmu dan dakwah hadir dalam ruang digital yang bergerak cepat?

Pesantren tidak harus meninggalkan tradisi keilmuannya untuk menjawab perubahan zaman. Tradisi itu justru dapat menjadi pijakan untuk menentukan perubahan yang diperlukan. Kurikulum yang baik bukanlah kurikulum yang sekedar tampak modern, melainkan kurikulum yang memiliki arah pendidikan yang jelas, sesuai dengan kebutuhan santri, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan beradab, mampu mengamalkan ilmunya, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam menyampaikan nilai-nilai Islam secara bijak dan bertanggung jawab di tengah yang terus berubah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image