Hijab dan Rasa Malu: Perhiasan yang tak Terlihat
Agama | 2026-10-16 07:42:07
Hijab hari ini hadir di mana-mana. Di etalase toko, di lini masa media sosial, di panggung peragaan busana. Gaya, warna, dan cara memakainya terus berganti. Kita semakin fasih membicarakan bahan, model, dan tren.
Namun, ada satu hal yang jarang ikut dibicarakan, padahal ia adalah ruh dari hijab itu sendiri: rasa malu. Kain menutup apa yang terlihat. Rasa malu menjaga apa yang tidak terlihat, yaitu sikap, lisan, pandangan, dan niat.
Tanpa rasa malu, hijab bisa berhenti menjadi ibadah dan berubah menjadi sekadar busana. Dengan rasa malu, sehelai kain menjadi perhiasan yang sesungguhnya: perhiasan yang tidak dipamerkan, tetapi justru memancarkan kemuliaan.
Malu, Akhlak Utama dalam Islam
Dalam bahasa Arab, rasa malu disebut al-haya'. Kata ini seakar dengan al-hayah, yang berarti kehidupan. Para ulama memaknainya dengan indah: hati yang hidup adalah hati yang masih punya rasa malu. Semakin hidup hati seseorang, semakin kuat pula rasa malunya.
Rasulullah ﷺ menempatkan malu pada kedudukan yang sangat tinggi. Beliau bersabda, "Malu adalah bagian dari iman" (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain, beliau menegaskan, "Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan" (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan, malu disebut sebagai ciri khas akhlak Islam. "Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu" (HR. Ibnu Majah). Sebaliknya, hilangnya rasa malu menjadi tanda bahaya. Rasulullah ﷺ mengingatkan, "Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu" (HR. Bukhari). Kalimat ini bukan izin, melainkan peringatan: ketika malu hilang, tidak ada lagi yang menjadi rem bagi perbuatan.
Al-Qur'an pun mengabadikan sosok perempuan yang dikenang karena rasa malunya. Ketika putri Nabi Syu'aib datang menemui Nabi Musa, Allah menggambarkannya "berjalan dengan malu-malu" (QS. Al-Qashash: 25). Dari sekian banyak sifat yang bisa disebut, Al-Qur'an memilih rasa malu sebagai penandanya.
Pakaian Takwa, Pakaian yang Paling Baik
Allah berfirman, "Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa, itulah yang paling baik" (QS. Al-A'raf: 26).
Ayat ini menyebut dua lapis pakaian. Lapis pertama adalah pakaian lahir, yang menutup aurat dan memperindah penampilan. Lapis kedua adalah libasut taqwa, pakaian takwa, yang tidak terlihat oleh mata tetapi justru disebut paling baik. Sebagian ahli tafsir memaknai pakaian takwa sebagai amal saleh, rasa takut kepada Allah, dan rasa malu yang menjaga perilaku.
Di sinilah hijab menemukan maknanya yang utuh. Kain yang menutup kepala adalah lapis pertama. Rasa malu yang menjaga pandangan, tutur kata, dan cara bersikap adalah lapis kedua. Keduanya saling menguatkan. Hijab tanpa malu kehilangan ruhnya, sementara rasa malu yang tulus akan menuntun seseorang untuk menjaga penampilannya.
Allah juga memerintahkan perempuan beriman untuk "menundukkan pandangannya, menjaga kemaluannya, dan tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa terlihat" (QS. An-Nur: 31). Menariknya, perintah menundukkan pandangan disebut lebih dahulu sebelum perintah menutup perhiasan. Seolah ayat ini mengajarkan bahwa penjagaan dimulai dari dalam, baru kemudian tampak di luar.
Rasa Malu di Ruang Digital
Tantangan menjaga rasa malu hari ini tidak hanya terjadi di jalan atau di pasar. Ia terjadi di layar ponsel kita sendiri. Media sosial membuka panggung yang luas, dan setiap orang bisa menjadi pusat perhatian kapan saja.
Di ruang ini, muncul bentuk-bentuk tabarruj gaya baru. Tabarruj secara bahasa berarti menampakkan diri dan perhiasan untuk menarik perhatian. Dahulu, ia mungkin berupa cara berjalan atau berhias yang berlebihan di depan umum. Kini, ia bisa hadir lewat unggahan yang dirancang untuk mengundang pujian, pose yang menonjolkan diri, atau konten yang mengejar sorotan dengan cara apa pun.
Persoalannya bukan pada berfoto atau berbagi momen. Persoalannya ada pada niat dan batas. Beberapa pertanyaan sederhana bisa menjadi cermin sebelum menekan tombol unggah:
- Untuk siapa unggahan ini saya buat?
- Apakah saya nyaman jika orang tua atau guru saya melihatnya?
- Apakah ini menambah kebaikan, atau hanya mengundang pujian?
- Jika tidak ada yang menyukai, apakah saya tetap ingin mengunggahnya?
Rasa malu di ruang digital adalah kemampuan untuk menahan diri, bahkan ketika tidak ada yang melarang. Justru di ruang tanpa pengawasan itulah kualitas rasa malu seseorang benar-benar diuji.
Menumbuhkan Rasa Malu yang Sehat
Rasa malu dalam Islam bukanlah rasa minder atau takut tampil. Malu yang terpuji tidak membuat seseorang enggan belajar, bertanya, atau menyampaikan kebenaran. Ia adalah rasa segan kepada Allah yang membuat seseorang menjaga dirinya dengan sadar. Ada beberapa cara untuk merawatnya:
- Menghadirkan rasa diawasi Allah. Malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah, yang melihat kita di tempat ramai maupun saat sendiri.
- Memperbaiki niat setiap kali berhijab. Mengenakan hijab sebagai bentuk ketaatan, bukan semata mengikuti tren atau tuntutan lingkungan.
- Menjaga lisan. Rasa malu tampak dari cara berbicara: tidak berkata kasar, tidak membuka aib, dan tidak membicarakan hal yang tidak perlu.
- Menahan diri dari mencari pujian. Mengurangi kebiasaan memamerkan diri, baik secara langsung maupun di media sosial.
- Bergaul dengan orang-orang yang menjaga diri. Lingkungan yang baik akan menghidupkan rasa malu, sebagaimana lingkungan yang buruk dapat mematikannya.
- Memperbanyak doa. Memohon kepada Allah agar dikaruniai hati yang hidup dan akhlak yang terjaga.
Perhiasan yang Tak Pernah Usang
Tren hijab akan terus berganti. Warna yang hari ini digemari bisa terlupakan tahun depan. Model yang kini ramai bisa tergantikan oleh gaya baru. Namun, ada perhiasan yang tidak pernah usang dan tidak pernah keluar dari tren, yaitu rasa malu.
Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa dipamerkan, dan tidak tampak di foto. Tetapi orang dapat merasakannya: dari tutur kata yang terjaga, dari sikap yang santun, dari pandangan yang tertunduk, dan dari ketenangan yang terpancar.
Kesadaran ini juga mulai tumbuh di kalangan pelaku usaha fesyen muslim. Rahini Hijab, brand jilbab segi empat dari Prambanan, Yogyakarta, misalnya, merangkumnya dalam semboyan Beauty & Modesty: keindahan yang berjalan beriringan dengan kesantunan. Keindahan boleh diupayakan, tetapi kesantunan dan rasa malu tetap menjadi batasnya.
Di hari Jumat yang mulia ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hijab yang kita kenakan ditemani oleh rasa malu yang hidup? Sebab sehelai kain menutup tubuh, tetapi hanya rasa malu yang mampu menjaga hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
