Jempol Lebih Cepat daripada Pikiran: Mengapa Kita Mudah Percaya Hoaks?
Gaya Hidup | 2026-10-15 19:45:53
Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp, berbagai berita dapat diterima hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga membawa masalah, yaitu penyebaran berita bohong atau hoaks yang semakin sulit dikendalikan.
Banyak orang langsung mempercayai informasi yang diterima tanpa memeriksa kebenarannya. Bahkan, tidak sedikit yang langsung membagikan informasi tersebut kepada teman atau keluarga. Padahal, informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar. Akibatnya, berita yang awalnya belum terbukti kebenarannya dapat menyebar luas dan menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Menurut Ganet Dirgantara dalam artikel ANTARA News berjudul Mencegah Berita Hoaks Melalui Literasi yang diterbitkan pada Jumat, 20 Juni 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks, berita bohong, dan informasi palsu yang beredar di situs web serta platform digital sepanjang 2024. Data tersebut menunjukkan bahwa penyebaran hoaks masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Menurut saya, salah satu alasan hoaks mudah menyebar adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat bereaksi terhadap informasi. Ketika membaca berita yang mengejutkan atau membuat marah, seseorang sering kali langsung ingin membagikannya tanpa mencari tahu apakah berita tersebut benar. Apalagi jika informasi itu dikirim oleh orang yang dikenal, seperti teman atau anggota keluarga, sehingga lebih mudah dipercaya.
Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan literasi digital. Mursyida dkk. (2023) dalam artikel jurnal Literasi Digital sebagai Upaya Menangkal Hoax di Lingkungan Masyarakat Indonesia menjelaskan pentingnya literasi digital untuk membantu masyarakat berpikir kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi. Artinya, kemampuan menggunakan media sosial perlu diimbangi dengan kemampuan menilai kebenaran informasi.
Dampak hoaks tidak bisa dianggap sepele. Informasi palsu tentang kesehatan dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan. Berita bohong mengenai seseorang juga dapat merusak nama baik, sedangkan hoaks tentang suatu peristiwa dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, kebiasaan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya perlu diubah.
Sebenarnya, mencegah penyebaran hoaks dapat dimulai dari hal sederhana. Sebelum membagikan berita, kita perlu memeriksa sumbernya, membaca isi berita secara lengkap, dan membandingkannya dengan pemberitaan dari media tepercaya. Jika informasi tersebut belum jelas kebenarannya, sebaiknya jangan langsung disebarkan.
Menurut saya, mahasiswa sebagai generasi yang dekat dengan teknologi seharusnya bisa menjadi contoh dalam menggunakan media sosial secara bijak. Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna yang aktif membagikan informasi, tetapi tidak peduli apakah informasi tersebut benar atau salah.
Pada akhirnya, kecepatan menyebarkan informasi bukanlah hal yang paling penting. Kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab justru lebih dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi digital. Kita memang tidak bisa mengendalikan semua berita yang beredar di media sosial, tetapi kita bisa mengendalikan informasi yang kita bagikan.
Daftar Pustaka
Dirgantara, G. (2025, 20 Juni). Mencegah berita hoaks melalui literasi. ANTARA News
Mursyida, A. K., dkk. (2023). Literasi digital sebagai upaya menangkal hoax di lingkungan masyarakat Indonesia. Jurnal Tonggak Pendidikan Dasar, 2(1), 32–43.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
