Ketika Validasi di Media Sosial Menentukan Harga Diri
Gaya Hidup | 2026-10-15 18:54:57Ketika Validasi di Media Sosial Menentukan Harga Diri
Oleh: Esa Syalis Oktavia
Pernahkah kita mengunggah foto, lalu beberapa kali membuka kembali aplikasi hanya untuk memeriksa jumlah suka dan komentar yang masuk? Atau merasa kecewa ketika unggahan yang sudah dipersiapkan dengan baik ternyata tidak mendapat banyak respons? Kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya ada pertanyaan yang patut direnungkan: sejauh mana kita membiarkan penilaian orang lain di media sosial memengaruhi cara kita memandang diri sendiri?
Media sosial awalnya menjadi ruang untuk berbagi cerita, menjaga hubungan, dan menemukan informasi. Kita dapat mengetahui kabar teman, menunjukkan karya, hingga bertemu dengan orang yang memiliki minat serupa. Akan tetapi, ketika jumlah suka, komentar, dan pengikut mulai dijadikan ukuran keberhasilan, aktivitas berbagi berisiko berubah menjadi pencarian pengakuan.
Masalahnya bukan terletak pada keinginan untuk mendapatkan respons. Sebagai manusia, kita wajar ingin dihargai dan diterima. Persoalan muncul ketika respons digital menjadi penentu utama apakah kita merasa cukup baik, menarik, atau layak mendapat perhatian.
Ketika Angka Menjadi Ukuran Diri
Di media sosial, perhatian sering ditampilkan melalui angka yang mudah dilihat. Sebuah unggahan memiliki jumlah suka, komentar, tayangan, dan pengikut. Angka-angka tersebut membuat respons orang lain terasa konkret, seolah-olah dapat digunakan untuk mengukur kualitas diri.
Unggahan yang ramai mendapatkan respons mungkin membuat seseorang merasa dihargai. Sebaliknya, unggahan yang sepi dapat memunculkan pertanyaan tentang penampilan, kemampuan, atau penerimaan orang lain. Jika pola ini terus berulang, seseorang berisiko menggantungkan rasa percaya dirinya pada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Padahal, jumlah respons tidak selalu menggambarkan kualitas seseorang ataupun nilai dari apa yang dibagikannya. Sebuah foto dapat memperoleh banyak perhatian karena waktu unggah, topik yang sedang populer, atau jangkauan algoritma. Sementara itu, karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh belum tentu langsung mendapatkan banyak penonton.
Artinya, popularitas sebuah unggahan tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai harga diri. Ketika kita lupa membedakan keduanya, angka di layar dapat terasa lebih penting daripada pengalaman dan pencapaian nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Terjebak dalam Perbandingan Sosial
Selain mencari pengakuan, media sosial juga memudahkan kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita melihat teman yang telah memperoleh pekerjaan, seseorang yang berlibur ke tempat menarik, atau orang lain yang tampak selalu percaya diri. Tanpa disadari, kehidupan yang kita jalani mulai dinilai berdasarkan apa yang terlihat di layar.
Penelitian Kaitlyn Burnell dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Affect Science pada 2024 mengamati pengalaman perbandingan sosial di media sosial pada 94 remaja selama 14 hari. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika peserta membandingkan dirinya dengan orang yang dianggap memiliki kehidupan lebih baik, mereka melaporkan penilaian diri yang lebih rendah pada saat tersebut. Namun, hubungan ini tidak muncul secara seragam dalam semua bentuk perbandingan.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa dampak perbandingan sosial tidak bisa disamaratakan. Meski demikian, penelitian ini juga mengingatkan bahwa apa yang kita lihat di media sosial dapat memengaruhi cara kita menilai diri sendiri, setidaknya dalam situasi tertentu.
Kita sering melihat hasil akhir kehidupan orang lain tanpa mengetahui proses di baliknya. Foto kelulusan tidak selalu memperlihatkan perjuangan selama kuliah. Unggahan tentang pekerjaan baru tidak menceritakan seluruh proses mencari kerja. Potret kebahagiaan juga tidak menggambarkan setiap masalah yang mungkin sedang dihadapi seseorang.
Ketika kehidupan orang lain yang terlihat sempurna dijadikan standar, kehidupan sendiri bisa terasa kurang berharga. Kita lupa bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian pengalaman, bukan keseluruhan cerita seseorang.
Bukan Berarti Media Sosial Harus Ditinggalkan
Melihat persoalan tersebut, menyalahkan media sosial sepenuhnya bukanlah jawaban yang tepat. Platform digital juga dapat menjadi ruang untuk memperoleh dukungan, membangun komunitas, mempelajari hal baru, dan mengekspresikan diri.
American Psychological Association (APA), dalam Health Advisory on Social Media Use in Adolescence yang diterbitkan pada 2023, menjelaskan bahwa media sosial dapat memberikan manfaat sosial bagi remaja, tetapi penggunaannya juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan. APA menekankan pentingnya literasi media sosial serta penyesuaian penggunaan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan pengguna.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa lama kita menggunakan media sosial, melainkan juga bagaimana kita menggunakannya dan apa yang kita rasakan setelahnya. Apakah kita mendapatkan informasi dan hubungan yang bermanfaat, atau justru terus merasa tidak cukup baik setelah melihat kehidupan orang lain?
Kita dapat mulai dengan mengevaluasi kebiasaan sendiri. Misalnya, memperhatikan apakah suasana hati berubah setelah memeriksa jumlah suka, apakah kita merasa harus mengikuti tren agar diterima, atau apakah kita mengunggah sesuatu hanya karena takut tertinggal dari orang lain.
Jika media sosial mulai membuat kita terlalu sering membandingkan diri, kita dapat mengatur ulang akun yang diikuti, membatasi notifikasi, atau mengambil jeda ketika merasa lelah. Langkah-langkah sederhana ini bukan berarti kita lemah menghadapi teknologi. Justru, kita sedang belajar menggunakan teknologi secara lebih sadar.
Belajar Menghargai Diri di Luar Layar
Upaya membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial juga perlu disertai kebiasaan menghargai pencapaian di luar ruang digital. Menyelesaikan pekerjaan, mempelajari keterampilan baru, menjaga hubungan dengan keluarga, atau berani mencoba sesuatu yang sebelumnya ditakuti merupakan hal-hal yang tetap berarti meskipun tidak pernah diunggah.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua pengalaman harus menjadi konten. Ada momen yang cukup dinikmati sendiri, ada pencapaian yang tidak perlu diumumkan, dan ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan pembuktian kepada siapa pun.
Bagi orang tua dan lembaga pendidikan, literasi digital perlu mencakup lebih dari sekadar kemampuan menggunakan aplikasi atau mengenali berita palsu. Anak muda juga perlu diajak memahami bagaimana konten yang dilihat, perbandingan sosial, dan pencarian pengakuan dapat memengaruhi pengalaman mereka di dunia digital. Pembicaraan ini sebaiknya dilakukan tanpa menghakimi, agar mereka merasa aman untuk menceritakan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Sementara itu, perusahaan teknologi juga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan bagaimana fitur platform memengaruhi pengalaman penggunanya. Transparansi, perlindungan privasi, serta kemudahan mengatur notifikasi dan rekomendasi konten merupakan bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Pada akhirnya, jumlah suka bukan ukuran lengkap tentang siapa diri kita. Komentar positif memang menyenangkan, tetapi ketiadaan komentar tidak membuat seseorang kehilangan nilai. Pengakuan dari orang lain dapat menjadi bentuk dukungan, tetapi seharusnya tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menghargai diri sendiri.
Media sosial akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tantangannya adalah memastikan bahwa kita tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan, bukan membiarkan angka di layar menentukan bagaimana kita menilai kehidupan sendiri.
Kita boleh menikmati perhatian, membagikan pencapaian, dan merasa senang ketika mendapat respons positif. Namun, kita juga perlu memiliki batas yang jelas antara keinginan untuk diterima dan kebutuhan untuk terus membuktikan diri. Sebab, harga diri yang sehat tidak semestinya bergantung pada seberapa banyak orang menekan tombol suka, melainkan pada kemampuan kita menghargai diri sendiri, termasuk ketika tidak ada siapa pun yang sedang melihat.
Daftar pustaka
1. American Psychological Association. (2023). Health Advisory on Social Media Use in Adolescence.
2. Burnell, K., Trekels, J., Prinstein, M. J., & Telzer, E. H. (2024). Adolescents' Social Comparison on Social Media: Links with Momentary Self-Evaluations. Affect Science, 5, 295–299.
3. Taylor, J., & Armes, G. (2024). Social comparison on Instagram, and its relationship with self-esteem and body-esteem. Discover Psychology, 4, Article 126.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
