Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Angga Prasetya

Semua Orang Bisa Bikin Konten, Tapi Tidak Semua Konten Punya Cerita

Teknologi | 2026-10-14 16:04:35

Ketika teknologi membuat produksi konten semakin mudah, kemampuan untuk memiliki sudut pandang justru semakin bernilai.

Hari ini bikin konten rasanya belum pernah semudah ini.

Kamera ada di saku hampir setiap orang. Template desain tinggal pilih. Video bisa diedit dari ponsel. Caption bisa dibantu AI. Bahkan foto dan video yang sebelumnya membutuhkan kamera, talent, lokasi, dan proses produksi panjang kini bisa dibuat hanya dalam beberapa perintah.

Secara teknis, hampir semua orang sekarang bisa menjadi kreator.

Tapi justru ketika semua orang bisa membuat konten, saya mulai sering bertanya satu hal.

Apakah semua konten itu benar-benar punya sesuatu untuk diceritakan?

Coba buka media sosial selama lima menit. Kita bisa melewati puluhan video, foto produk, promosi, tren, meme, sampai konten hasil AI tanpa benar-benar mengingat sebagian besar dari apa yang baru saja kita lihat.

Bukan karena semuanya jelek.

Mungkin justru karena semuanya sudah terlalu banyak.

DataReportal dalam laporan Digital 2026: Indonesia mencatat terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesiadan sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial pada akhir 2025. DataReportal – Global Digital Insights

Artinya, kita bukan sedang hidup di zaman kekurangan konten.

Kita sedang hidup di zaman ketika perhatian menjadi rebutan.

Ketika Membuat Konten Semakin Mudah

Saya tidak melihat kemudahan teknologi sebagai sesuatu yang buruk.

Justru sebaliknya.

Dulu untuk menghasilkan visual yang layak, seseorang mungkin membutuhkan kamera mahal, komputer kuat, kemampuan editing, dan proses belajar yang panjang. Sekarang hambatan itu semakin kecil.

UMKM bisa membuat materi promosinya sendiri. Mahasiswa bisa membangun personal branding hanya dari ponsel. Brand kecil bahkan bisa terlihat profesional tanpa mempunyai tim kreatif besar.

Masalahnya muncul ketika kemudahan membuat sesuatu berubah menjadi dorongan untuk terus memproduksi sesuatu.

Hari ini harus upload.

Besok harus upload lagi.

Harus ikut tren.

Harus masuk algoritma.

Harus cepat.

Akhirnya pertanyaannya bergeser dari “apa yang mau kita sampaikan?” menjadi “hari ini kita posting apa?”

Padahal keduanya berbeda.

Sprout Social dalam surveinya pada 2026 menemukan bahwa 66 persen konsumen mengaku semakin selektif terhadap konten yang mereka pilih untuk direspons dibandingkan satu tahun sebelumnya. Survei yang sama juga menemukan 56 persen responden sering atau sangat sering menemukan konten AI berkualitas rendah atau repetitif di media sosial. Sprout Social

Menurut saya, fenomena ini memberi satu sinyal sederhana.

Ketika produksi konten semakin mudah, audiens justru punya semakin banyak alasan untuk melewatinya.

Saya Belajar Ini dari Memotret Ruangan

Sebagai fotografer, dulu saya cukup percaya bahwa foto yang bagus berarti foto yang secara teknis benar.

Exposure aman.

Garis vertikal rapi.

Komposisi bagus.

Warna nyaman.

Detail tajam.

Dan memang semua itu penting.

Tapi setelah cukup sering memotret properti, saya mulai sadar bahwa foto yang technically correct belum tentu menjadi foto yang paling kuat.

Saya bisa memotret sebuah kamar dengan sangat rapi. Sofa terlihat, jendela terlihat, tempat tidur terlihat, interior terlihat.

Informasinya lengkap.

Tapi ada perbedaan antara foto yang sekadar mengatakan:

“Ini sebuah kamar.”

dengan foto yang membuat orang berpikir:

“Kayaknya enak ya tinggal di sini.”

Objeknya sama.

Kameranya sama.

Ruangannya sama.

Yang berubah adalah cara kita menceritakannya.

Sudut tertentu bisa menunjukkan bagaimana cahaya masuk dari jendela. Foto lain bisa memperlihatkan hubungan ruang tamu dengan pemandangan di luar. Detail kecil bisa membantu seseorang membayangkan pengalaman berada di ruangan tersebut.

Di situ saya mulai merasa bahwa pekerjaan visual sebenarnya bukan cuma soal menunjukkan sesuatu.

Kita sedang mencoba membuat orang merasakan sesuatu sebelum mereka mengalaminya secara langsung.

Dan menurut saya, prinsip yang sama berlaku pada konten.

Estetik Belum Tentu Punya Cerita

Media sosial membuat kita semakin terbiasa dengan kata “estetik”.

Feed harus senada.

Tone warna harus konsisten.

Video harus cinematic.

Font harus cocok.

Musik harus sesuai tren.

Tidak ada yang salah dengan semuanya.

Saya sendiri bekerja di dunia visual. Tentu saya percaya tampilan mempunyai peran besar dalam membentuk kesan pertama.

Tapi ada satu masalah ketika estetika menjadi tujuan akhirnya.

Kontennya cantik, tetapi bisa menjadi milik siapa saja.

Coba hapus logo dan nama brand dari sebuah konten.

Kalau kita sama sekali tidak bisa menebak siapa yang membuatnya, mungkin yang dibangun baru sebatas estetika, belum identitas.

Cerita memberikan identitas itu.

Cerita tidak harus selalu berarti narasi sedih, video satu menit dengan musik emosional, atau caption panjang.

Cerita bisa muncul dari alasan sebuah produk dibuat.

Bisa dari orang-orang di belakang sebuah bisnis.

Bisa dari proses yang biasanya tidak terlihat.

Bisa dari pengalaman pelanggan.

Bahkan bisa hanya dari cara sebuah brand melihat persoalan yang sama secara berbeda.

Itulah yang membuat sebuah konten terasa mempunyai pemilik.

Lalu Ada AI

Pembicaraan soal konten hari ini rasanya sulit dilepaskan dari AI.

Dan menurut saya, respons paling mudah adalah mengambil salah satu ekstrem.

Entah mengatakan AI akan menghancurkan kreativitas manusia, atau sebaliknya menganggap AI akan menyelesaikan hampir seluruh pekerjaan kreatif.

Saya tidak berada di keduanya.

Saya menggunakan teknologi dan saya melihat sendiri bagaimana AI bisa mempercepat proses kreatif.

AI bisa membantu mencari referensi, mengembangkan konsep, membuat alternatif visual, sampai mempercepat pekerjaan yang sebelumnya repetitif.

Yang menurut saya perlu dipertanyakan bukan:

“Apakah kita boleh menggunakan AI?”

Tetapi:

“Setelah menggunakan semua alat itu, apakah kita masih punya sesuatu yang benar-benar ingin kita katakan?”

Karena tools bisa sama.

Prompt bisa dipelajari.

Preset bisa disalin.

Tren bisa diikuti.

Tapi pengalaman hidup, sudut pandang, konteks, dan cara seseorang melihat dunia tidak bisa sepenuhnya dibuat seragam.

Bahkan riset Sprout Social menunjukkan 55 persen pengguna media sosial lebih mungkin mempercayai brand yang mempublikasikan konten buatan manusia dibandingkan konten buatan AI. Sprout Social

Buat saya, ini bukan tanda bahwa AI harus dijauhi.

Justru ini menunjukkan bahwa semakin canggih alat yang kita gunakan, unsur manusianya jangan sampai hilang.

Tidak Semua Konten Harus “Deep”

Di sisi lain, saya juga tidak ingin mengatakan bahwa semua konten harus punya makna kehidupan.

Konten promo ya boleh jualan.

Tutorial boleh langsung ke inti.

Meme boleh cuma lucu.

Video sepuluh detik juga tidak harus berubah menjadi film pendek.

Menurut saya storytelling jauh lebih sederhana dari itu.

Sebelum membuat konten, minimal kita tahu tiga hal:

Apa yang mau disampaikan?

Siapa yang kita ajak bicara?

Kenapa mereka perlu peduli?

Kalau tiga pertanyaan itu terjawab, konten sederhana pun bisa punya arah.

Sebaliknya, kamera mahal, talent profesional, produksi besar, dan editing sempurna belum tentu menyelamatkan konten yang sejak awal tidak tahu ingin mengatakan apa.

Kita Tidak Hanya Berebut Views

Salah satu kebiasaan kita ketika menilai konten adalah langsung melihat angka.

Berapa views?

Berapa likes?

Berapa followers yang masuk?

Angka tentu penting. Dalam pemasaran, semuanya bahkan bisa menjadi indikator yang perlu diukur.

Tapi semakin lama bekerja dengan konten, saya merasa ada satu pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

Setelah orang selesai melihat konten kita, apa yang mereka ingat?

Satu juta views terdengar mengesankan.

Tetapi kalau beberapa menit kemudian audiens bahkan tidak ingat siapa yang membuat konten tersebut, ada sesuatu yang menarik untuk dievaluasi.

Sebaliknya, kita mungkin pernah melihat sebuah brand yang hanya dari cara mengambil gambar, gaya bahasanya, atau cara bercerita saja kita sudah tahu siapa mereka bahkan sebelum melihat nama akunnya.

Menurut saya, di situlah identitas bekerja.

Karena pada akhirnya kita tidak hanya sedang berebut perhatian.

Kita sedang berebut ingatan.

Semua Orang Bisa Membuat Konten

Beberapa tahun ke depan mungkin proses membuat konten akan semakin mudah lagi.

Kamera akan semakin pintar.

AI akan semakin canggih.

Editing akan semakin otomatis.

Dan mungkin banyak hal yang hari ini membutuhkan waktu berjam-jam nantinya bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

Saya justru tidak takut dengan hal itu.

Karena semakin mudah alatnya digunakan oleh semua orang, semakin sulit alat tersebut menjadi satu-satunya pembeda.

Yang tersisa adalah bagaimana kita menggunakannya.

Jadi mungkin pertanyaan kreator dan brand ke depan bukan lagi:

“Konten apa yang sedang viral?”

tetapi:

“Apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan?”

Karena semua orang mungkin bisa memakai kamera yang sama, aplikasi yang sama, tren yang sama, bahkan AI yang sama.

Tetapi setiap orang tetap membawa pengalaman dan cara melihat dunia yang berbeda.

Teknologi bisa membantu kita membuat konten lebih cepat. Tapi alasan mengapa seseorang harus peduli terhadap konten itu, masih datang dari manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image