Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Zhaharil Fikri

Karakter Bersahabat Tidak Lahir dari Nasihat, tetapi dari Kebiasaan

Pendidikan dan Literasi | 2026-10-13 14:48:02
Ilustrasi

Oleh: M. Zhaharil Fikri

Pendidikan karakter sering kali dibicarakan dalam berbagai forum pendidikan. Sekolah dan madrasah menyusun program, guru menyampaikan nasihat, dan peserta didik mempelajari nilai-nilai kebaikan. Namun, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: apakah karakter cukup dibentuk melalui nasihat, atau harus ditumbuhkan melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari?

Menurut saya, karakter tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan. Karakter harus dihidupkan dalam perilaku nyata. Anak mungkin mampu menjelaskan arti menghormati orang lain, tetapi pemahaman itu belum tentu tercermin dalam cara berbicara, menyapa teman, meminta maaf, atau menyelesaikan perbedaan.

Di sinilah pembiasaan sederhana memiliki arti penting dalam pendidikan.

Salam: Sederhana dalam Ucapan, Besar dalam Makna

Mengucapkan salam merupakan salah satu kebiasaan sederhana yang dapat menjadi pintu masuk pendidikan karakter di madrasah. Salam bukan sekadar ungkapan ketika bertemu, melainkan sarana membangun penghormatan, keramahan, kepedulian, dan hubungan sosial yang positif.

Ketika peserta didik terbiasa mengucapkan salam kepada guru, teman, dan warga madrasah, mereka sedang berlatih mengakui keberadaan orang lain. Mereka belajar bahwa setiap perjumpaan dapat dimulai dengan sikap hormat dan niat baik.

Kebiasaan ini memang tidak serta-merta menyelesaikan semua persoalan perilaku siswa. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan disertai keteladanan, salam dapat menjadi bagian dari budaya yang mendukung tumbuhnya karakter bersahabat.

Pendidikan karakter membutuhkan proses. Nilai yang baik perlu diperkenalkan, dicontohkan, dilatih, dan dievaluasi secara berkelanjutan.

Guru Harus Menjadi Teladan

Pembiasaan tidak akan berjalan kuat apabila hanya dibebankan kepada peserta didik. Guru memiliki peran penting sebagai teladan.

Sulit mengharapkan anak membiasakan salam apabila orang dewasa di sekitarnya tidak menunjukkan kebiasaan yang sama. Sebaliknya, ketika guru menyapa dengan ramah, mengucapkan salam terlebih dahulu, mendengarkan siswa dengan baik, dan menghargai perbedaan, peserta didik memperoleh contoh nyata tentang bagaimana nilai karakter diterapkan.

Keteladanan juga perlu hadir dalam situasi yang tidak selalu mudah. Ketika siswa melakukan kesalahan, guru dapat menegur tanpa merendahkan. Ketika terjadi perselisihan, guru dapat mengarahkan penyelesaian melalui dialog. Ketika siswa meminta maaf, guru dapat membantu mereka memahami arti tanggung jawab dan memperbaiki hubungan.

Dengan demikian, pendidikan karakter tidak berhenti pada slogan yang ditempel di dinding. Ia hadir dalam interaksi sehari-hari di kelas, halaman madrasah, ruang guru, dan lingkungan belajar lainnya.

Membentuk Budaya, Bukan Sekadar Menggugurkan Program

Salah satu tantangan pendidikan karakter adalah kecenderungan menjadikannya kegiatan administratif. Program dilaksanakan, dokumentasi dikumpulkan, dan laporan diselesaikan, tetapi perubahan perilaku belum selalu menjadi perhatian utama.

Karena itu, madrasah perlu melihat pembiasaan karakter sebagai proses jangka panjang, bukan kegiatan sesaat.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, tetapkan kebiasaan sederhana yang jelas dan mudah dipraktikkan, seperti mengucapkan salam ketika bertemu dan memasuki ruang belajar.

Kedua, pastikan guru dan tenaga kependidikan memberikan teladan yang konsisten. Budaya madrasah dibentuk oleh perilaku seluruh warga, bukan hanya oleh aturan bagi siswa.

Ketiga, jelaskan makna di balik kebiasaan tersebut. Peserta didik perlu memahami bahwa salam mengandung penghormatan dan harapan akan kebaikan, bukan sekadar ucapan yang harus dihafalkan.

Keempat, lakukan evaluasi melalui pengamatan perilaku dan dialog dengan siswa. Evaluasi bukan untuk mempermalukan anak yang belum terbiasa, melainkan untuk membantu mereka berkembang.

Kelima, bangun lingkungan yang mendukung sikap bersahabat. Pembiasaan salam perlu berjalan bersama perilaku saling menghormati, kepedulian, kemampuan meminta maaf, dan kesediaan menyelesaikan konflik secara damai.

Dari Kebiasaan Menuju Budaya Bersahabat

Madrasah tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan karakter kepada keluarga. Sebaliknya, keluarga juga tidak dapat menganggap pembentukan karakter sepenuhnya menjadi urusan sekolah. Keduanya perlu saling menguatkan.

Ketika kebiasaan baik yang ditanamkan di madrasah memperoleh dukungan di rumah, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempraktikkannya. Konsistensi antara nasihat dan tindakan dari orang dewasa akan membantu anak memahami bahwa nilai karakter memang penting dalam kehidupan, bukan hanya ketika berada di sekolah.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan karakter tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak nasihat yang disampaikan atau program yang dilaksanakan. Kita juga perlu memperhatikan perubahan dalam cara peserta didik memperlakukan orang lain.

Apakah mereka semakin menghargai teman? Apakah mereka berani mengakui kesalahan? Apakah mereka mampu meminta maaf dan menerima perbedaan? Pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari refleksi pendidikan karakter.

Salam mungkin hanya terdiri atas beberapa kata. Akan tetapi, jika dibiasakan dengan pemahaman, keteladanan, dan konsistensi, ia dapat menjadi salah satu langkah kecil untuk membangun lingkungan belajar yang lebih ramah dan bersahabat.

M. Zhaharil Fikri adalah Pendidik • Kepala Madrasah • Penulis • Peneliti Pendidikan • Penggerak Inovasi Madrasah

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image