Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Risa Wulandari

Diam Bukan Berarti Tidak Mampu: Mengatasi Rasa Takut Berpendapat di Kelas

Eduaksi | 2026-10-12 11:49:53
Sumber : Gambar Ilustrasi

Abstrak

Keberanian menyampaikan pendapat merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting bagi mahasiswa, khususnya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki keberanian untuk berbicara di hadapan dosen maupun teman-temannya. Sebagian mahasiswa memilih diam karena takut salah, kurang percaya diri, malu menjadi pusat perhatian, atau khawatir mendapatkan penilaian negatif dari orang lain. Padahal, sikap diam tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak memahami materi atau tidak memiliki kemampuan.

Artikel ini bertujuan untuk membahas faktor-faktor yang menyebabkan mahasiswa takut menyampaikan pendapat, dampaknya terhadap proses pembelajaran, serta cara mengatasi rasa takut tersebut. Melalui pembahasan ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami bahwa keberanian berbicara bukanlah kemampuan yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang dapat dikembangkan melalui latihan, dukungan lingkungan, dan kemauan untuk mencoba.

Kata Kunci: Public Speaking, Percaya Diri, Keberanian Berpendapat, Komunikasi, Mahasiswa.

1. Pendahuluan

Pernahkah kita berada dalam situasi ketika dosen memberikan pertanyaan di kelas, sebenarnya kita mengetahui jawabannya, tetapi justru memilih diam? Di dalam pikiran, kita sudah menyusun berbagai jawaban. Namun, ketika mendapatkan kesempatan untuk berbicara, tiba-tiba muncul rasa takut, gugup, dan khawatir apabila jawaban yang disampaikan ternyata salah.

Fenomena tersebut cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang sebenarnya memiliki pemahaman terhadap materi pembelajaran, tetapi kesulitan mengungkapkan pemikirannya secara langsung. Akibatnya, mereka lebih memilih mendengarkan daripada terlibat aktif dalam diskusi.

Dalam dunia pendidikan, kemampuan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami teori, tetapi juga diharapkan mampu berpikir kritis, berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan gagasan secara terbuka.

Menurut McCroskey (1977), communicationapprehension merupakan kondisi ketika seseorang mengalami ketakutan atau kecemasan yang berkaitan dengan komunikasi, baik secara langsung maupun dalam situasi tertentu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa rasa takut berbicara merupakan fenomena yang dapat terjadi dalam proses komunikasi, termasuk ketika mahasiswa harus menyampaikan pendapat di kelas.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa diam bukan berarti tidak mampu. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan keberanian, kesempatan, dan lingkungan yang mendukung agar mampu menyampaikan pemikirannya dengan baik.

2. Mengapa Mahasiswa Takut Berpendapat di Kelas?

Rasa takut menyampaikan pendapat tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi keberanian seseorang ketika berbicara di hadapan orang lain.

a. Takut memberikan jawaban yang salah

Salah satu alasan mahasiswa enggan berbicara adalah kekhawatiran apabila pendapat yang disampaikan tidak sesuai dengan materi pembelajaran. Mereka merasa bahwa jawaban yang salah dapat membuat dirinya terlihat kurang memahami pelajaran.

Padahal, proses belajar tidak selalu tentang memberikan jawaban yang benar. Kesalahan juga dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh pemahaman baru.

b. Kurangnya rasa percaya diri

Sebagian mahasiswa sering meragukan kemampuan dirinya sendiri. Mereka merasa bahwa pendapat teman-temannya lebih baik atau lebih layak untuk didengarkan.

Menurut Bandura (1997), keyakinan seseorang terhadap kemampuannya atau self-efficacy memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana individu menghadapi suatu tantangan.

Dalam konteks pembelajaran, mahasiswa yang kurang yakin terhadap kemampuannya mungkin lebih sulit mengambil inisiatif untuk berbicara meskipun sebenarnya memiliki gagasan yang ingin disampaikan.

c. Takut mendapatkan penilaian negatif

Komentar, tanggapan, atau reaksi orang lain terkadang menjadi sesuatu yang terlalu dipikirkan. Kekhawatiran akan ditertawakan, dikritik, atau dianggap tidak pintar dapat membuat mahasiswa mengurungkan niat untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan.

d. Kurangnya kebiasaan berbicara di depan umum

Kemampuan berbicara membutuhkan latihan. Mahasiswa yang jarang terlibat dalam diskusi atau presentasi mungkin merasa gugup ketika harus menyampaikan pendapat secara spontan.

Hal tersebut bukan berarti mereka tidak memiliki kemampuan, melainkan masih membutuhkan pengalaman untuk mengembangkan keterampilan komunikasinya.

3. Dampak Terlalu Sering Diam dalam Proses Pembelajaran

Diam saat pembelajaran berlangsung sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Ada mahasiswa yang lebih nyaman mendengarkan, mengamati, dan memahami materi terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan.

Namun, apabila sikap diam terus terjadi karena rasa takut, mahasiswa dapat kehilangan beberapa kesempatan penting.

Pertama, mahasiswa menjadi kurang terbiasa mengembangkan kemampuan komunikasi. Padahal, keterampilan berbicara diperlukan bukan hanya ketika presentasi di kelas, tetapi juga saat wawancara kerja, mengikuti organisasi, dan memasuki dunia profesional.

Kedua, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Pertanyaan yang tidak disampaikan mungkin membuat kebingungan terhadap suatu materi terus berlanjut.

Ketiga, rasa takut yang selalu dihindari dapat membuat seseorang semakin sulit membangun keberanian untuk mencoba.

Penelitian Rocca (2010) menjelaskan bahwa partisipasi mahasiswa dalam kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik individu, perilaku pengajar, dan suasana pembelajaran.

Artinya, keberanian mahasiswa dalam berpendapat bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga perlu didukung oleh lingkungan kelas yang memberikan ruang untuk berdiskusi secara nyaman.

4. Cara Mengatasi Rasa Takut Berpendapat di Kelas

Mengatasi rasa takut berbicara tidak harus dimulai dengan menjadi seseorang yang langsung berani tampil di hadapan banyak orang. Keberanian dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

1. Mulailah dari hal kecil

Tidak perlu langsung memberikan pendapat panjang. Cobalah memulai dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana, menjawab pertanyaan singkat, atau memberikan tanggapan terhadap materi yang sedang dibahas.

Keberanian kecil yang terus dilatih dapat membantu seseorang menjadi lebih terbiasa berbicara di depan orang lain.

2. Persiapkan materi sebelum perkuliahan

Salah satu cara mengurangi rasa gugup adalah memahami topik yang akan dibahas. Membaca materi sebelum kelas dimulai dapat membantu mahasiswa menyusun pertanyaan maupun pendapat dengan lebih terarah.

3. Jangan menuntut diri untuk selalu benar

Berpendapat bukan berarti harus mengetahui semua jawaban. Dalam kegiatan diskusi, setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan sudut pandang yang berbeda.

Daripada terlalu memikirkan kemungkinan salah, cobalah melihat kegiatan berbicara sebagai bagian dari proses belajar.

4. Berlatih berbicara secara bertahap

Latihan dapat dimulai dengan menyampaikan pendapat kepada teman, berdiskusi dalam kelompok kecil, hingga mencoba berbicara di hadapan seluruh kelas.

Bodie (2010) menjelaskan bahwa kecemasan berbicara di depan umum merupakan fenomena yang melibatkan berbagai aspek psikologis dan komunikasi. Oleh karena itu, latihan serta pengembangan keterampilan berbicara dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi kecemasan tersebut.

5. Berhenti membandingkan kemampuan diri dengan orang lain

Setiap mahasiswa memiliki proses perkembangan yang berbeda. Ada yang mudah berbicara secara spontan, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk menyusun pemikirannya.

Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena teman lain terlihat lebih aktif dalam diskusi. Hal terpenting adalah adanya kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

6. Ciptakan lingkungan kelas yang saling menghargai

Keberanian berpendapat juga membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar. Dosen dan mahasiswa dapat menciptakan suasana diskusi yang terbuka dengan menghargai setiap pertanyaan, tidak merendahkan jawaban orang lain, dan memberikan tanggapan secara membangun.

Dengan demikian, kelas dapat menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, bukan tempat yang membuat seseorang takut melakukan kesalahan.

5. Hubungan Keberanian Berpendapat dengan Public Speaking

Public speaking sering kali dianggap sebagai kemampuan berbicara di atas panggung atau melakukan presentasi di hadapan banyak orang. Padahal, keterampilan ini juga dapat diterapkan dalam aktivitas sederhana, seperti bertanya kepada dosen, memberikan pendapat saat diskusi, atau menjelaskan suatu gagasan kepada teman sekelas.

Kemampuan public speaking bukan hanya tentang berbicara dengan lancar, melainkan juga bagaimana seseorang dapat menyampaikan pesan secara jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Melalui keberanian menyampaikan pendapat di kelas, mahasiswa secara tidak langsung sedang melatih keterampilan public speaking.

Mahasiswa belajar menyusun kalimat, mengatur intonasi suara, membangun kontak mata, serta merespons tanggapan orang lain.

Oleh karena itu, ruang kelas dapat menjadi salah satu tempat terbaik untuk memulai latihan berbicara di depan umum.

Tidak harus langsung menjadi pembicara yang hebat. Terkadang, keberanian untuk mengangkat tangan dan mengucapkan, "Menurut pendapat saya..." sudah menjadi langkah awal yang berarti.

Kesimpulan

Diam bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan, pengetahuan, atau pendapat. Dalam beberapa situasi, sikap diam justru muncul karena adanya rasa takut, kurang percaya diri, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.

Namun, apabila rasa takut tersebut terus dibiarkan, mahasiswa dapat kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran.

Keberanian menyampaikan pendapat dapat dibangun melalui latihan sederhana, persiapan materi, pola pikir yang terbuka terhadap kesalahan, serta dukungan lingkungan kelas yang positif.

Pada akhirnya, mahasiswa perlu memahami bahwa tujuan berpendapat bukanlah untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, melainkan untuk saling bertukar pikiran dan memperoleh pengetahuan baru.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.https://books.google.com/books?id=_8O9swEACAAJ

Bodie, G. D. (2010). A racing heart, rattling knees, and ruminative thoughts: Defining, explaining, and treating public speaking anxiety. Communication Education, 59(1), 70–105.https://doi.org/10.1080/03634520903443849

McCroskey, J. C. (1977). Oral communication apprehension: A summary of recent theory and research. Human Communication Research, 4(1), 78–96.https://doi.org/10.1111/j.1468-2958.1977.tb00599.x

Rocca, K. A. (2010). Student participation in the collegeclassroom: An extended multidisciplinary literaturereview. Communication Education, 59(2), 185–213.https://doi.org/10.1080/03634520903505936

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image