Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ismail Suardi Wekke

Nusantara Jaya dan Perhelatan Asian Games: Sebuah Refleksi

Curhat | 2026-10-12 10:41:55
Kolokium Bersama IBK Nitro (IS Wekke)

Emas tak pernah jatuh dari langit. Di balik pekik kemenangan, sujud syukur, dan derai air mata di podium Asian Games, selalu ada jalan sunyi yang panjang dan berdarah-darah. Ketika Indonesia Raya berkumandang—entah lewat sabetan raket bulu tangkis, tarikan busur panahan, angkatan besi beratus kilogram, hingga panjatan kilat manusia laba-laba di dinding tebing—kita sejatinya sedang menyaksikan puncak dari sebuah gunung es bernama ekosistem.

Sebelum lanjut, kita bisa menyimak kata Steve Jobs.

"Anda tidak bisa menghubungkan titik-titik (pengalaman) ke depan; Anda hanya bisa menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik tersebut akan terhubung di masa depan. Anda harus percaya pada sesuatu—intuisi Anda, takdir, kehidupan, karma, apa pun itu."

Konsep connecting the dots ini disampaikan oleh Steve Jobs dalam pidato kelulusan (Commencement Address) di Universitas Stanford pada tahun 2005.

.Jauh di luar hiruk-pikuk arena olahraga, ada sebuah gagasan yang relevan untuk direfleksi kembali: Nusantara Jaya. Cendekiawan dan politikus Marwah Daud Ibrahim pernah merapalkan visi ini pada masa lampau. Di atas kertas, Nusantara Jaya acap dimaknai sebagai kebangkitan Indonesia menjadi kekuatan dunia, berpijak pada kekayaan alam dan sumber daya manusianya.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, gagasan Marwah bukanlah mantra simsalabim. Nusantara Jaya adalah sebuah manifesto tentang orkestrasi. Ia adalah wujud dari kerja bersama, manajemen potensi, dan penanaman benih yang hasilnya mungkin baru dituai satu dekade kemudian.Visi Nusantara Jaya ala Marwah itu menemukan padanannya yang paling nyata di arena olahraga. Olahraga tak mengenal jalan pintas.

Tradisi emas Asian Games tidak lahir dari pidato pejabat atau semboyan patriotik menjelang keberangkatan atlet. Ia lahir dari sistem.Tengoklah bagaimana bulu tangkis merawat kejayaannya. Ada tradisi estafet yang tak pernah putus dari generasi ke generasi, ekosistem klub yang hidup, dan persaingan yang dirawat sejak usia dini.

Di arena panjat tebing, atlet-atlet kita tak tiba-tiba merayap ke puncak dunia dalam semalam. Ada pemusatan latihan yang panjang, ilmu ukur presisi, dan dukungan pelatih yang ajek. Begitu pula di cabang angkat berat dan panahan. Ketepatan bidikan busur dan ledakan tenaga memanggul beban adalah akumulasi dari disiplin gizi, ilmu keolahragaan (sports science), dan dukungan psikologis yang tiada henti.

Semua itu menuntut satu hal yang acap kali absen dalam nalar birokrasi kita: napas panjang.Jika gagasan Nusantara Jaya ingin dibumikan, ekosistem olahraga ini adalah purwarupanya. Kejayaan tidak bisa dibangun dengan mentalitas proyek "candi semalam" yang sibuk kasak-kusuk hanya ketika tenggat waktu kejuaraan sudah di depan mata. Emas Asian Games mengajarkan bahwa prestasi adalah produk dari desain, bukan kebetulan belaka.

Ia menuntut infrastruktur yang layak, pendanaan yang tak disunat sana-sini, jaminan masa depan bagi para atlet, dan tentu saja, kerja bersama lintas sektor—mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat. Nusantara Jaya, seperti halnya target merebut emas Asian Games, tak akan pernah terwujud jika kita masih terjebak pada penyakit rabun dekat: ingin hasil cepat tanpa mau berdarah-darah membangun fondasi.

Para pahlawan olahraga kita telah membuktikan bahwa dengan ekosistem yang tepat, orang Indonesia bisa melesat menjadi yang terbaik di Asia, bahkan dunia.Kini, pertanyaannya berbalik ke arah kita. Maukah bangsa ini merawat ekosistem itu? Sebab, tanpa dukungan jangka panjang dan semangat gotong royong merawat bakat, Nusantara Jaya hanya akan berakhir sebagai slogan yang pada akhirnya menjadi kenangan, dan kepingan medali hanya akan menjadi nostalgia manis yang makin lama makin sulit diulangi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image