Algoritma, Rezeki, dan Sang Pemberi: Menemukan Tuhan di Tengah Ekonomi Digital
Agama | 2026-10-09 12:09:01Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Sultra)
Dahulu, manusia mengukur keberhasilan dari luasnya tanah, banyaknya ternak, besarnya rumah, jumlah anak, dan tingginya kedudukan. Hari ini, ukuran itu berubah wajah. Kekayaan dihitung dari nilai aset, pendapatan, jumlah transaksi, hingga jumlah followers, engagement, likes, views, serta seberapa sering nama seseorang muncul dalam algoritma pencarian.
Kendati visualisasinya bergeser, logika dasarnya tidak berubah: kita masih mengira bahwa yang banyak berarti lebih baik, yang tinggi berarti lebih mulia, dan yang berlimpah adalah tanda keberhasilan utama.
Al-Qur’an hadir untuk membongkar cara pandang tersebut. Allah Swt. berfirman dalam QS. Saba’ [34]: 36:
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan(-nya). Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.’”
Ayat ini tidak sekadar bicara tentang ekonomi, melainkan tentang tolok ukur manusia dalam memahami esensi kehidupan.
Ketika Kekayaan Dianggap Bukti Cinta Tuhan
Ayat di atas tidak terlepas dari ayat sebelumnya. Dalam QS. Saba’ [34]: 35, orang-orang yang membangkang berkata:
وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ
“Kami memiliki lebih banyak harta dan anak, dan kami tidak akan diazab.”
Logika mereka sederhana: "Karena kami kaya dan berkuasa, berarti Allah meridai kami dan kami lebih mulia."
Imam at-Thabari menjelaskan kekeliruan logika ini: kelapangan rezeki tidak otomatis menunjukkan kecintaan Allah, sebagaimana kesempitan rezeki bukan tanda kemurkaan-Nya. Keduanya adalah ujian. Di sinilah Al-Qur’an membongkar ilusi kuno yang menganggap kelimpahan sebagai bukti kebenaran.
Logika serupa nyatanya masih hidup hingga kini. Orang kaya dianggap lebih berhasil, pemilik jabatan dianggap lebih penting, yang terkenal dianggap lebih bernilai, dan yang memiliki banyak pengikut dianggap paling berpengaruh. Padahal:
- Banyak belum tentu berkah.
- Tinggi belum tentu mulia.
- Terkenal belum tentu benar.
- Kaya belum tentu dekat dengan Allah.
Rezeki Bukan Sertifikat Kemuliaan
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan harta baik kepada orang yang dicintai-Nya maupun yang tidak dicintai-Nya. Harta bukanlah ukuran otomatis kedudukan seseorang di hadapan-Nya. Al-Qur’an memberikan penegasan pada ayat berikutnya (QS. Saba’ [34]: 37):
وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami, melainkan orang yang beriman dan beramal saleh.”
Al-Qur’an tidak membenci harta. Yang dikoreksi adalah cara manusia menempatkan harta dalam hierarki nilai kehidupan. Harta boleh banyak, jabatan boleh tinggi, dan teknologi boleh kian canggih—namun semuanya harus tetap menjadi sarana, bukan tujuan akhir.
Pertanyaan hakiki Al-Qur’an bukanlah "Berapa banyak yang kamu miliki?", melainkan "Apa yang kamu lakukan dengan apa yang kamu miliki?"
Dari Pasar Fisik ke Algoritma Digital
Di sinilah relevansi QS. Saba’ [34]: 36 dengan era modern. Jika dahulu manusia berhadapan dengan pasar fisik, kini kita hidup dalam ekonomi digital yang digerakkan oleh platform, data, kecerdasan buatan (AI), dan algoritma.
Algoritma membaca perilaku, minat, dan interaksi pengguna, lalu menentukan siapa yang mendapat panggung dan siapa yang tenggelam. Lahirlah bentuk baru dari "kelapangan rezeki": konten yang mendadak viral, kreator dengan penghasilan fantastis, atau bisnis lokal yang melejit pesat. Di sisi lain, ada yang bekerja keras namun tetap berada dalam sepi.
Di sinilah kita wajib membedakan dua hal: algoritma mendistribusikan perhatian, tetapi Allah tetap menjadi sumber rezeki.
- Algoritma adalah perantara/sebab, bukan Tuhan.
- Teknologi adalah alat, bukan penentu akhir nilai manusia.
- Pasar adalah ruang transaksi, bukan ukuran akhir kemuliaan.
Viral Tidak Sama dengan Berkah
Masalah terbesar ekonomi digital bukanlah cara mendapatkan uang, melainkan cara manusia mendefinisikan keberhasilan. Sebuah konten bisa panen jutaan views karena kontroversi, akun bisa melejit karena sensasi, atau seseorang terkenal karena menanggalkan privasi.
Apakah semua itu bernilai di mata Tuhan? Belum tentu.
- Viral bukan berarti berkah.
- Banyak penonton bukan berarti banyak manfaat.
- Banyak penghasilan bukan berarti tinggi nilainya di hadapan Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأعمالكم
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim No. 2564).
Terdapat kontras mendasar antara algoritma dan wahyu:
- Algoritma menghitung engagement, Allah menilai amal.
- Algoritma menghitung followers, Allah mengetahui keikhlasan.
- Algoritma membaca klik, Allah mengetahui niat.
- Algoritma mengenali pola perilaku, Allah mengetahui kedalaman hati.
Jangan sampai kita sibuk mengoptimalkan diri di hadapan algoritma hingga lupa mempertanggungjawabkan diri di hadapan Allah.
Media Sosial Bukan Cermin Diri
Setiap hari di media sosial, kita disuguhi potongan kehidupan orang lain: liburan, barang mewah, pencapaian karier, dan gaya hidup glamor. Layar gawai berubah menjadi panggung pamer "kelapangan" hidup.
Namun, layar jarang menampilkan kegelisahan di balik foto. Kita melihat hasil tanpa melihat proses, melihat senyum tanpa tahu pergulatan batin, dan melihat kekayaan tanpa tahu beratnya amanah. Membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan gambar orang lain adalah bentuk ketidakadilan terhadap diri sendiri.
QS. Saba’ [34]: 36 mengajarkan disiplin spiritual: jangan mengukur nilai kehidupan hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Kaya dan Miskin Adalah Ujian
Kelapangan rezeki bukan tiket otomatis menuju keselamatan, dan kesempitan rezeki bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan seseorang.
- Orang kaya diuji: Apakah ia bersyukur, berbagi, membuka lapangan kerja, dan tetap rendah hati?
- Orang dalam keterbatasan diuji: Apakah ia tetap berikhtiar, menjaga kehormatan, memelihara harapan, dan tidak berprasangka buruk pada Tuhannya?
Kedua kondisi ini memiliki dimensi spiritual yang setara: yang satu menuntut syukur, yang lain menuntut sabar.
Rezeki Tidak Berhenti pada Uang
Memaknai rezeki sebatas uang adalah penyempitan makna. Kesehatan, ilmu, keluarga yang harmonis, waktu lapang, sahabat yang baik, hingga kesempatan berbuat taat—semuanya adalah rezeki.
Seseorang bisa memiliki kelimpahan finansial tetapi miskin ketenteraman. Sebaliknya, seseorang bisa hidup sederhana namun kaya akan ilmu, kesehatan, dan kedamaian jiwa. Kelapangan harta tidak selalu berbanding lurus dengan kelapangan hati.
AI dan Etika Mencari Rezeki
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) membuka babak baru produktivitas. Namun, secanggih apa pun teknologi, ia tidak melenyapkan pertanyaan moral.
Apakah AI digunakan secara jujur? Apakah privasi dihormati? Apakah teknologi dipakai untuk memberi manfaat atau menipu?
Teknologi boleh mengubah cara kerja manusia, tetapi prinsip moral tidak pernah berubah:
- Jujur tetap jujur, dusta tetap dusta.
- Amanah tetap amanah, zalim tetap zalim.
- Halal tetap halal, haram tetap haram.
Dari Kepemilikan Menuju Amanah
Dalam QS. Saba’ [34]: 39, Allah kembali menegaskan konsep keluasan rezeki dan mengarahkannya pada anjuran berinfak. Tafsir at-Thabari menjelaskan bahwa rezeki harus dialirkan menjadi ketaatan dan kemaslahatan.
Paradigma Al-Qur’an sangat tegas: Rezeki dari Allah → Diterima dengan syukur → Dikelola dengan amanah → Disedekahkan → Melahirkan kemaslahatan.
Manusia modern berkata, "Ini milikku."
Al-Qur’an mengajarkan, "Ini titipan yang akan dipertanggungjawabkan."
Harta, ilmu, jabatan, pengaruh, hingga waktu—seluruhnya adalah amanah.
Menjaga Hati dari "Tuhan Kecil"
Pesan sufi dari QS. Saba’ [34]: 36 mengingatkan: bahaya terbesar bukanlah ketika manusia memiliki harta, melainkan ketika harta menguasai manusia.
- Uang boleh di tangan, jangan bertahta di hati.
- Jabatan boleh dipegang, jangan menentukan harga diri.
- Popularitas boleh datang, jangan dijadikan identitas.
- Algoritma boleh membantu, jangan menjadi "tuhan baru".
Seorang mukmin tidak harus miskin untuk menjadi zuhud. Zuhud bukanlah membenci dunia, melainkan kemampuan menggenggam dunia di tangan tanpa membiarkannya menjajah hati.
Redefinisi Kesuksesan
Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang makna sukses:
- Kesuksesan material bertanya: Berapa banyak yang saya miliki?
- Kesuksesan sosial bertanya: Berapa banyak orang mengenal saya?
- Kesuksesan digital bertanya: Berapa banyak orang mengikuti saya?
- Kesuksesan spiritual bertanya: Seberapa dekat saya kepada Allah, dan seberapa besar manfaat keberadaan saya bagi sesama?
Penutup: Mengarah kepada Sang Pemberi
Teknologi akan kian canggih dan algoritma akan kian pintar. Namun, kunci kebahagiaan tetap berada pada jawaban atas pertanyaan: siapa yang menjadi pusat kehidupan kita?
Jika pusatnya adalah materi dan popularitas, manusia akan terus merasa kurang dan cemas. Namun jika pusatnya adalah Allah, maka harta menjadi sarana, jabatan menjadi amanah, dan teknologi menjadi alat pengabdian.
Mengenal Ar-Razzaq (Sang Maha Pemberi Rezeki) membuat seorang hamba bekerja dengan tenang. Ia berikhtiar optimal tanpa menyembah pekerjaannya, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah seberapa banyak rezeki kita, melainkan apakah rezeki itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan-Nya.
Algoritma bisa menghitung followers dan transaksi, tetapi ia tidak akan pernah bisa mengukur keberkahan dan keikhlasan. Jangan hanya bertanya "Berapa luas rezeki saya?", tetapi tanyakanlah "Seberapa luas manfaat yang lahir dari rezeki saya?"
Mari terus melangkah: dari rezeki menuju syukur, dari kelapangan menuju amanah, dari kepemilikan menuju pengabdian, serta dari riuk dunia digital menuju kesadaran penuh akan Sang Maha Pemberi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
