Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riza Abditya Wijaya

Mampukah Indonesia Menjadi Maju seperti China?

Bisnis | 2026-09-30 14:45:29

Ada satu pertanyaan yang semakin relevan ketika melihat perjalanan ekonomi Indonesia hari ini: mampukah Indonesia menjadi negara maju seperti China?

Istana Negara (Sumber: Wikipedia)

Pertanyaan ini bukan sekadar membandingkan dua negara dengan populasi besar. Ia menyentuh pilihan pembangunan: apakah Indonesia mampu mengubah kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, pasar domestik, dan posisi strategis di Asia menjadi kekuatan ekonomi yang menghasilkan produktivitas dan kesejahteraan yang lebih tinggi?

Jawabannya tidak sederhana. Indonesia tidak harus menjadi “China kedua”, tetapi perjalanan China memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sebuah negara mengubah struktur ekonominya secara besar-besaran.

China membuktikan bahwa transformasi ekonomi membutuhkan waktu panjang dan konsistensi. Sejak reformasi ekonomi, China mengalami pertumbuhan sangat tinggi selama beberapa dekade. Urbanisasi, pembangunan infrastruktur, investasi manufaktur dan integrasi dengan pasar global menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. World Bank mencatat bahwa selama tiga dekade, ekonomi China tumbuh rata-rata hampir 10 persen per tahun, sementara perpindahan tenaga kerja dari sektor berproduktivitas rendah menuju manufaktur dan jasa turut menjadi sumber pertumbuhan.

Yang menarik, China tidak berhenti pada menjual tenaga kerja murah. Negara tersebut secara bertahap bergerak dari manufaktur sederhana menuju industri dengan teknologi dan nilai tambah yang semakin tinggi. Inilah bagian yang paling penting untuk dipelajari Indonesia.

Indonesia sebenarnya memiliki modal awal yang tidak kecil. Pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, posisi geografis strategis, serta populasi produktif menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua negara. Pemerintah juga telah menempatkan industrialisasi sebagai bagian penting dalam agenda menuju Indonesia Emas 2045. Dalam RPJPN 2025–2045, pemerintah menargetkan peningkatan pendapatan per kapita hingga setara negara maju dan mendorong kontribusi manufaktur terhadap PDB mencapai sekitar 30 persen.

Namun, di sinilah tantangannya.

Memiliki sumber daya alam tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi negara maju. Yang menentukan adalah seberapa besar nilai tambah yang berhasil diciptakan dari sumber daya tersebut.

Nikel, bauksit, batu bara, sawit, perikanan dan berbagai komoditas Indonesia tidak cukup hanya diekspor sebagai bahan mentah atau setengah jadi. Hilirisasi harus menghasilkan ekosistem industri: teknologi, riset, tenaga kerja terampil, pemasok lokal, pembiayaan, hingga produk akhir yang mampu bersaing di pasar internasional.

Indonesia juga perlu menjawab persoalan produktivitas. World Bank dalam Indonesia Economic Prospects menyoroti pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta menciptakan pekerjaan dengan kualitas dan upah yang lebih baik.

Artinya, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup.

Indonesia bisa tumbuh 5 persen setiap tahun, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah produktivitas tenaga kerja meningkat? Apakah industri nasional naik kelas? Apakah semakin banyak pekerjaan bernilai tambah tinggi tercipta? Apakah pendapatan masyarakat tumbuh sejalan dengan produktivitas?

Di sisi lain, China sendiri menunjukkan bahwa menjadi besar bukan berarti terbebas dari masalah. Model pertumbuhan yang bertumpu pada investasi dan ekspor kini menghadapi tantangan baru, mulai dari penuaan penduduk, perlambatan produktivitas, lemahnya permintaan domestik hingga penyesuaian sektor properti. World Bank memproyeksikan pertumbuhan China melambat menjadi sekitar 4,4 persen pada 2026.

Karena itu, Indonesia tidak perlu meniru China secara utuh. Yang perlu ditiru adalah disiplin transformasinya, bukan seluruh model ekonominya.

Indonesia memiliki karakter yang berbeda. Negara kepulauan membutuhkan konektivitas yang berbeda. Struktur ekonomi lebih beragam. Demokrasi dan desentralisasi menciptakan dinamika kebijakan yang berbeda. Karena itu, jalan menuju negara maju harus dibangun sesuai karakter Indonesia sendiri.

Kuncinya setidaknya ada pada tiga hal: stabilitas, produktivitas dan konsistensi.

Stabilitas memberikan kepastian bagi rumah tangga dan dunia usaha. Produktivitas memastikan pertumbuhan tidak hanya berasal dari penambahan tenaga kerja dan modal. Sementara konsistensi memastikan pembangunan tidak berubah arah setiap kali terjadi pergantian kebijakan.

Pada akhirnya, pertanyaan “mampukah Indonesia menjadi maju seperti China?” mungkin perlu sedikit diubah menjadi: mampukah Indonesia melakukan transformasi ekonominya sendiri secara konsisten?

Sebab menjadi negara maju bukan perlombaan untuk menyerupai China. Ukurannya adalah kemampuan Indonesia mengubah sumber daya menjadi nilai tambah, populasi menjadi talenta, pasar menjadi kekuatan industri, dan pertumbuhan menjadi kesejahteraan.

Jika itu mampu dilakukan secara konsisten hingga 2045, maka Indonesia tidak perlu menjadi China kedua.

Indonesia bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri sebuah negara maju yang dibangun dengan kekuatan dan karakter Indonesia

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image