Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M Ibnu Hanafi

Mengatur Uang Belanja Tanpa Boncos Lewat Sudut Pandang Syariah

Agama | 2026-09-28 11:34:08
Sering kali keuangan terasa "boncos" bukan karena kurang gajian, melainkan karena absennya kalkulasi dan pengawasan atas setiap pengeluaran harian

Coba jujur, siapa yang sering merasa baru seminggu gajian, tapi saldo rekening tahu-tahu sudah kritis? Pas di cek mutasi transaksinya, ternyata eh ternyata penuh dengan jajan kopi americano, belanja barang diskonan yang sebenarnya tidak terlalu butuh, atau mungkin tagihan paylater yang menumpuk gara-gara bahasa self-reward yang kebablasan.

Kondisi ini akrab disebut “boncos”, sebuah keadaan yang di mana keuangan kita bocor akibat pengeluaran yang gagal kita kontrol.

Di tengah gempuran e-commerce yang pintar merayu lewat diskon seperti 5.5 pay day dan dengan adanya kemudahan transaksi digital yang tinggal sekali klik checkout, mungkin menjaga dompet tetap sehat memang menantang. Menariknya nih ya, solusi untuk melewati fenomena boncos ini sebenarnya tidak selalu harus lewat rumus-rumus perencanaan keuangan. Kita juga bisa menengok kembali ke prinsip dasar yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yakni Ekonomi Syariah.

Selama ini, kalau kita mendengar kata “Ekonomi Syariah”, pasti yang terlintas di kepala adlaah bank tanpa bunga, atau akad-akad yang mungkin terdengar kompleks dan rumit. Padahal, kalau ditelusuri ulang esensi paling mendasar dari ekonomi syariah justru mengatur perilaku kita sehari-hari sebagai konsumen. Ini adalah soal bagaimana kita mengelola dan membelanjakan uang secara bijaksana.

Di ekonomi syariah terdapat tiga prinsip yang bisa kita jadikan lifehack agar keuangan tidak gampang boncos :

1. Tegas Memisahkan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Dalam ekonomi syariah, konsumsi itu ada skalanya sendiri. Prioritas utama wajib diberikan pada kebutuhan dasar, seperti makan, tempat tinggal, dan kesehatan. Setelah itu barulah ke kebutuhan sekunder, dan yang terakhir adalah pemenuhan keinginan atau kemewahan atau biasa sering disebut kalangan gen Z sebagai Self-reward.

Yang sering bikin kita boncos adalah ketika batas antara kebutuhan dan keinginan ini mulai hancur. Kita sering menganggap nongkrong di kafe setiap akhir pekan sebagai sebuah “kebutuhan” hidup, padahal itu hanyalah keinginan yang dibalut dengan gengsi. Sebelum menekan tombol ‘Check Out’, coba ditanyakan lagi ke diri sendiri “ini beneran butuh dan akan digunakan, atau Cuma lapar mata?”

2. Rem Belanja, dengan Menghindari Israf dan Tabzir

Pasti pernah beli baju karena sedang diskon besar, tapi akhirnya Cuma tersimpan di lemari dengan label harga yang masih menggantung atau mesan makanan online yang berlebihan karena lapar mata, lalu berakhir di buang ke tempat sampah?

Hal hal itu dilarang keras di ekonomi syariah, karena itu merupakan perilaku israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (mubazir/menyia-nyiakan harta). Prinsip ini bukan berarti kita harus hidup pelit atau tidak boleh menikmati hasil kerja keras sendiri. Kita tentu sangat boleh menikmati hidup. Namun, syariah mengajarkan konsep keseimbangan. Belanja secukupnya, konsumsi seperlunya. Ketika kita berhenti membuang uang untuk hal yang sia-sia, otomatis aliran keuangan kita menjadi lebih stabil.

3. Berpikir Dua kali sebelum Berutang untuk Hal Konsumtif

Salah satu pilar utama ekonomi syariah adalah kehati-hatian terhadap utang. Di era sekarang ini, dengan adanya kemudahan paylater sering kali menjebak kita untuk membeli barang yang sebenarnya belum mampu kita beli secara tunai.

Prinsip syariah sangat menganjurkan kita untuk hidup sesuai kemampuan/bersyukur dengan yang ada. Hidup tanpa bayang-bayang tagihan bulanan nyatanya jauh lebih menenangkan pikiran daripada pamer barang mewah tetapi tidur tidak nyenyak.

Pada akhirnya, ekonomi syariah bukan sekedar label formalitas pada produk perbankan. Ini adalah tentang mindset hidup yang bersih, adil, dan bertanggung jawab atas setiap rupiah yang kita miliki.

Mengatur uang belanja agar tidak boncos itu tidak butuh formula yang memusingkan. Cukup kembalikan fungsi uang sebagai alat pemenuh kebutuhan, bukan sebagai alat pemuas ego. Dengan menerapkan prinsip syariah dalam belanja sehari-hari, kita tidak hanya menyelamatkan dompet dari bocos halus, tetapi juga melatih diri untuk hidup lebih tenang dan bermakna.

Tentang Penulis :

Muhammad Ibnu Hanafi, Mahasiswa Ekonomi Syariah. Tertarik pada isu sosial, keagamaan, investasi, dan Perekonomian di Indonesia

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image