Mengharap Kabut Asap Cepat Berlalu
Sekolah | 2026-09-25 08:36:27Sudah hampir tiga bulan, langit Palembang tidak lagi biru. Asap kebakaran hutan bergayut di udara, menutup matahari, membuat pagi terasa muram. Anak-anak SDIT Bina Ilmi Lemabang, termasuk Nadhif dari kelas 2 Cordova, harus menerima kenyataan: sekolah dimulai lebih lambat, pukul 08.30, dan berakhir lebih cepat, pukul 11.30. Pemerintah kota memutuskan demikian agar anak-anak tidak terlalu lama menghirup udara yang buruk.
Nadhif sering merasa kecewa. Ia ingin belajar lebih lama, bermain di lapangan, berlari bersama Baldad, Afnan, Fatih, Emir, dan Waisit. Tetapi setiap kali bel pulang berbunyi, ia harus segera kembali ke rumah. “Kenapa sekolah jadi sebentar sekali?” tanya Nadhif suatu sore kepada Ayah Refa.
Ayah menatap langit yang kelabu. “Karena udara ini berbahaya, Nak. Kalau kamu terlalu lama di luar, bisa sakit. Banyak orang batuk, sesak napas, bahkan ada yang harus ke rumah sakit.”
Bunda Nisa menambahkan dengan lembut, “Itu sebabnya kita harus bersabar. Tapi jangan hanya sedih. Kita bisa belajar sesuatu dari keadaan ini.”
Di kelas, Bunda Aulia dan Bunda Nenny berusaha membuat waktu belajar yang singkat tetap bermakna. Suatu pagi, Bunda Aulia membawa gambar hutan hijau dan hutan yang terbakar. “Anak-anak, lihatlah. Hutan hijau memberi kita oksigen, udara segar, dan tempat bermain. Tapi hutan yang terbakar hanya menyisakan asap. Mana yang kalian pilih?”
Serentak anak-anak menjawab, “Hutan hijau!”
Fatih mengangkat tangan dengan wajah serius. “Kalau begitu, kenapa ada orang yang membakar hutan? Itu kan merugikan kita semua.”
Bunda Nenny menghela napas. “Ada orang yang ingin membuka lahan dengan cara cepat, tapi mereka tidak peduli pada akibatnya. Padahal, membakar hutan itu merusak alam dan membahayakan banyak orang.”
Afnan menunduk. “Aku sedih, Bunda. Aku ingin belajar lebih lama. Rasanya sekolah jadi cepat sekali.”
Emir menimpali, “Aku juga. Aku ingin main bola di lapangan, tapi asap membuat kita tidak bisa.”
Waisit menambahkan dengan nada kritis, “Kalau orang dewasa tidak menjaga hutan, anak-anak seperti kita yang menderita.”
Mendengar itu, Nadhif merasa hatinya bergetar. Ia menulis di buku catatannya malam itu: “Aku ingin jadi anak yang berani. Aku ingin bilang bahwa membakar hutan itu salah. Aku ingin menjaga alam.”
Ayah Refa membaca tulisan itu dan tersenyum bangga. “Kamu hebat, Nak. Suaramu bisa menginspirasi teman-temanmu. Jangan takut untuk berbicara.”
Keesokan harinya, Nadhif berdiri di depan kelas. Dengan suara lantang ia berkata, “Teman-teman, kita harus berjanji. Kalau kita besar nanti, kita tidak akan membakar hutan. Kita akan menjaga alam supaya anak-anak bisa belajar dengan tenang, bermain dengan gembira, dan bernapas dengan lega.”
Emir, Waisit, Baldad, Afnan, dan Fatih mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Kami berjanji!”
Bunda Aulia dan Bunda Nenny tersenyum, mata mereka berbinar. “Kalian adalah generasi yang peduli. Semoga suara kalian bisa mengubah dunia.”
Hari-hari berikutnya, anak-anak mulai terbiasa dengan jam belajar yang singkat. Namun, mereka tidak berhenti bertanya. Baldad pernah berkata kepada Nadhif, “Kalau kita tidak bisa belajar lama, mungkin kita bisa belajar hal lain di rumah. Aku ingin membaca buku tentang hutan.”
Afnan menimpali, “Aku ingin menulis cerita tentang pohon yang menangis karena dibakar.”
Fatih, yang selalu kritis, berkata, “Aku ingin suatu hari menjadi orang yang bisa menghukum mereka yang merusak hutan.”
Emir dan Waisit mengangguk setuju. Mereka mulai menyadari bahwa meski kecil, mereka bisa menanam benih kepedulian.
Di rumah, Bunda Nisa sering mengajak Nadhif berdiskusi. “Nak, apa yang kamu pelajari dari keadaan ini?”
Nadhif menjawab dengan mantap, “Aku belajar bahwa alam harus dijaga. Kalau kita merusaknya, kita sendiri yang rugi.”
Ayah Refa menambahkan, “Itulah pelajaran penting. Alam bukan hanya milik kita, tapi juga milik generasi yang akan datang. Kalau kita tidak peduli, anak cucu kita akan menderita.”
Hari-hari di Palembang terasa panjang. Asap membuat matahari di siang hari dan bintang di malam hari jarang terlihat. Tetapi di dalam rumah, anak-anak tetap belajar. Mereka membaca, menulis, bermain bersama saudara, dan juga berdiskusi dengan orang tua. Mereka belajar bahwa pendidikan tidak hanya ada di sekolah, tetapi juga di kehidupan sehari-hari.
Suatu malam, Nadhif berkata kepada ibunya, “Bunda, aku ingin menulis surat untuk hutan. Aku ingin bilang bahwa aku minta maaf karena ada orang yang membakarnya.”
Bunda Nisa tersenyum haru. “Itu ide yang indah, Nak. Menulis surat untuk hutan berarti kamu peduli. Dan kepedulian itu bisa mengubah dunia.”
Hari demi hari, meski hujan belum turun, semangat anak-anak tidak padam. Mereka mulai membuat janji kecil: tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon di halaman rumah, dan selalu mengingat bahwa hutan adalah paru-paru dunia.
Bunda Aulia dan Bunda Nenny bangga melihat murid-muridnya. “Kalian memang kecil, tapi hati kalian besar. Kalian bisa menjadi cahaya di tengah langit abu-abu.”
Pesan Inspiratif:
Cerita ini mengajarkan bahwa meski keadaan sulit, anak-anak bisa berpikir kritis dan peduli pada lingkungan. Mereka belajar bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, dan suara kecil mereka bisa menjadi cahaya yang mencerahkan masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
