Ilmu Komunikasi di Indonesia Kini Tantangan Masa Depan
Sejarah | 2026-09-01 14:09:54
Sumber: Arifin, Anwar. (2005). Ilmu Komunikasi: Kini dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Prenada Media Group.Ilmu komunikasi di Indonesia bermula dari Kongres ISKI tahun 1985. Saat itu, para sarjana banyak mengadopsi teori-teori dari Barat — terutama teori modernisasi Daniel Lerner dan teori difusi inovasi Everett Rogers yang diperkenalkan oleh Alwi Dahlan. Selama puluhan tahun, kedua teori ini menjadi acuan utama dalam dunia pendidikan dan penelitian komunikasi di Indonesia, seolah menjadi "kitab suci" yang tidak diganggu gugat. Padahal, lebih dari 40 tahun berlalu, paradigma yang digunakan belum banyak berubah, sementara realitas masyarakat Indonesia terus berkembang pesat.
1. Keterbatasan Teori Modernisasi BaratTeori modernisasi yang diadopsi dari Barat (Schramm, Lerner, Rogers, Huntington) berasumsi hanya ada satu jalan menuju kemajuan, yaitu meniru pola Barat. Padahal asumsi ini tidak universal — banyak negara maju dengan jalur sendiri (Jepang, Cina, Iran). Di Indonesia, teori ini dipa lebih dari 40 tahun namun mengabaikan budaya, kearifan lokal, dan keragaman sosial-budaya, sehingga ilmu komunikasi Indonesia lebih banyak mengimpor teori daripada menghasilkan pemikiran orisinal.2. Tantangan di Era Globalisasi & Masyarakat Informasi- Batas negara semakin kabur; teknologi & internet menghapus batas ruang-waktu, komunikasi lintas negara tanpa batas. - Media massa kini bukan sekadar sarana informasi, tapi industri informasi yang dikuasai modal & kepentingan politik global — muncul ketegangan antara kedaulatan nasional vs kapitalisme global. - Di Indonesia, demokratisasi & kebebasan informasi menuntut peraturan baru (UU Pers, UU ITE) serta ilmu komunikasi yang lebih kritis, etis, dan berpihak publik. - Tantangan terbesar: ketergantungan pada teori Barat yang sudah usang.3. Membangun Ilmu Komunikasi Khas Indonesia- Ilmuwan Indonesia sering disebut "kepalanya Barat, kakinya Timur" — menguasai teori Barat tapi belum mampu menghasilkan pemikiran orisinal yang sesuai konteks sendiri. - Penelitian masih didominasi pendekatan deduktif (menguji teori dari luar), jarang membangun teori baru dari realitas lokal. - Diperlukan pendekatan indonesiasentris: memahami fenomena komunikasi dari sudut pandang budaya, sejarah, dan nilai masyarakat Indonesia sendiri. Harus berani kritis terhadap teori impor sekaligus kreatif membangun teori baru yang berakar pada kenyataan bangsa.kesimpulanIlmu komunikasi Indonesia harus tumbuh bersama modernisasi dan kemajuan bangsa. Tantangan utama bukan soal teknologi, melainkan kemampuan membangun ilmu komunikasi yang mandiri, relevan, dan bermanfaat bagi Indonesia — bukan sekadar peniru, tapi menjadi fondasi kemajuan bangsa di tengah arus globalisasi.
penulis: sandi aulia, asyarah putri islamidina, zaskiya alzahra
tugas: sejarah x
guru pengampu: elma rahmawati S.Pd
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
