Gen Z Terhimpit: Ketika Tekanan Ekonomi Bertemu Krisis Makna
Gaya Hidup | 2026-08-30 08:37:56
Oleh: Heni Nuraeni
Generasi Z tumbuh di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Mereka akrab dengan teknologi digital, media sosial, dan berbagai kemudahan informasi. Namun, di balik kemampuan beradaptasi tersebut, muncul persoalan serius yang tidak boleh diabaikan: tekanan ekonomi, kecemasan finansial, budaya konsumtif, hingga kegamangan menentukan arah kehidupan.
Sejumlah survei menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu sumber kekhawatiran generasi muda. Lebih dari 48 persen Gen Z mengaku belum merasa aman secara finansial. Di sisi lain, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan berbagai bentuk gaya hidup terus mendapatkan tempat dalam kehidupan mereka.
Fenomena tersebut menarik untuk dicermati. Bagaimana mungkin generasi yang merasa tidak aman secara finansial justru semakin terdorong mengalokasikan penghasilan untuk konsumsi yang bersifat rekreatif?
Jawabannya tidak sesederhana persoalan boros atau tidak mampu mengatur keuangan. Di baliknya terdapat persoalan ekonomi sekaligus persoalan cara pandang terhadap kebahagiaan.
Terhimpit di Tengah Biaya Hidup
Generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Mereka berhadapan dengan biaya hidup yang terus meningkat, kebutuhan tempat tinggal yang mahal, tuntutan pendidikan dan keterampilan, serta ketidakpastian pekerjaan.
Dalam situasi seperti ini, nasihat agar anak muda sekadar “lebih hemat” tentu tidak cukup.
Masalah ekonomi tidak selalu lahir dari perilaku konsumtif individu. Ada persoalan struktural yang harus dibicarakan: bagaimana negara membangun sistem ekonomi yang memberikan kesempatan kerja layak, menjamin kebutuhan dasar, dan menciptakan distribusi kesejahteraan yang lebih adil.
Jika kebutuhan dasar semakin mahal sementara pendapatan sebagian masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding, generasi muda akan tetap berada dalam tekanan meskipun telah berusaha mengatur keuangan sebaik mungkin.
Karena itu, persoalan Gen Z seharusnya tidak hanya dibebankan kepada individu. Negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang memungkinkan generasi muda tumbuh, bekerja, berkeluarga, dan membangun masa depan secara layak.
Ketika Konsumsi Menjadi Jalan Keluar
Di tengah tekanan tersebut, muncul fenomena self-reward dan healing. Pada satu sisi, memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras bukanlah sesuatu yang salah. Demikian pula menjaga kesehatan mental dan mengambil waktu untuk beristirahat merupakan kebutuhan manusiawi.
Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan sebagai ukuran utama kebahagiaan.
Media sosial memperkuat fenomena ini. Setiap hari generasi muda disuguhi berbagai gambaran kehidupan yang tampak sempurna: liburan, restoran, fesyen, kendaraan, gawai, perawatan tubuh, dan berbagai pengalaman yang dikemas sebagai simbol kebahagiaan.
Akibatnya, muncul tekanan sosial yang tidak selalu disadari. Seseorang merasa tertinggal ketika tidak mampu mengikuti tren. Inilah yang kemudian dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).
Konsumsi akhirnya tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan. Ia berubah menjadi sarana memperoleh pengakuan, menghilangkan kejenuhan, bahkan melarikan diri dari tekanan kehidupan.
Terbentuklah lingkaran yang ironis: tekanan ekonomi mendorong seseorang mencari hiburan melalui konsumsi, konsumsi mengurangi kemampuan finansial, kemudian kondisi finansial yang semakin berat melahirkan tekanan baru.
Krisis yang Lebih Dalam: Untuk Apa Kita Hidup?
Namun, di balik persoalan ekonomi dan budaya konsumtif terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: apa tujuan hidup manusia?
Ketika kebahagiaan hanya diukur berdasarkan materi, manusia akan mudah terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Selalu ada barang yang lebih mahal, tempat yang lebih indah, pengalaman yang lebih menarik, dan gaya hidup yang lebih tinggi.
Kebahagiaan menjadi sesuatu yang harus terus dibeli.
Padahal Islam memberikan pandangan yang berbeda tentang kehidupan. Allah SWT berfirman:
«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»
«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»
Ayat ini memberikan fondasi penting bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada pencapaian duniawi. Manusia memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu beribadah kepada Allah.
Dengan perspektif tersebut, kesuksesan tidak semata-mata diukur dari jumlah uang, popularitas, jabatan, atau kemampuan mengikuti tren. Kesuksesan juga diukur dari sejauh mana manusia menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.
Islam dan Tanggung Jawab Negara
Islam tidak mengajarkan manusia untuk pasrah terhadap persoalan ekonomi. Islam justru mendorong umatnya bekerja, berusaha, berdagang, mengembangkan ilmu, dan mengelola sumber daya yang Allah anugerahkan.
Pada saat yang sama, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.
Dalam perspektif politik Islam, negara tidak semestinya hanya menjadi regulator yang menyerahkan hampir seluruh mekanisme pemenuhan kebutuhan masyarakat kepada pasar. Negara harus hadir dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat, menciptakan lapangan pekerjaan, menjaga distribusi kekayaan, serta mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan masyarakat.
Konsep Khilafah dalam khazanah politik Islam menawarkan paradigma tersebut: negara diposisikan sebagai raa'in, yakni pengurus dan pelindung rakyat. Rasulullah SAW bersabda:
«الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
«“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Prinsip ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan amanah untuk mengurus kehidupan masyarakat.
Membentuk Generasi, Bukan Sekadar Konsumen
Persoalan Gen Z juga membutuhkan pendekatan pendidikan.
Generasi muda tidak cukup dibekali keterampilan agar mampu menjadi tenaga kerja produktif. Mereka juga membutuhkan fondasi akidah dan pemahaman tentang tujuan kehidupan.
Jika pendidikan hanya diarahkan agar seseorang sukses memasuki pasar kerja, manusia berisiko direduksi menjadi sekadar sumber daya ekonomi.
Islam memiliki visi yang lebih luas. Generasi muda harus dibentuk menjadi manusia berilmu sekaligus beriman, memiliki kemampuan profesional sekaligus akhlak, mampu memperoleh penghasilan sekaligus memahami untuk apa penghasilan itu digunakan.
Mereka bukan sekadar konsumen produk kapitalisme, tetapi manusia yang memiliki misi kehidupan.
Media pun memiliki peranan besar. Ruang digital seharusnya tidak hanya menjadi mesin promosi konsumsi. Media dapat menjadi sarana pendidikan, penyebaran ilmu, penguatan keluarga, pembentukan karakter, dan peningkatan ketakwaan.
Gen Z Membutuhkan Arah
Kita tidak boleh menyederhanakan persoalan Gen Z sebagai generasi yang “boros”, “suka healing”, atau “tidak mampu menabung”.
Di balik perilaku tersebut terdapat tekanan ekonomi dan pergulatan mencari makna.
Karena itu, solusi harus menyentuh dua sisi sekaligus: perbaikan sistem ekonomi dan penguatan pandangan hidup.
Negara harus menciptakan kondisi yang memungkinkan generasi muda memperoleh kehidupan yang layak. Sementara pendidikan dan keluarga harus membantu mereka memahami bahwa kebahagiaan tidak identik dengan konsumsi.
Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar pekerjaan. Mereka membutuhkan visi.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar healing. Mereka membutuhkan ketenangan.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar self-reward. Mereka membutuhkan kesadaran bahwa kehidupan memiliki tujuan yang jauh lebih tinggi daripada mengejar kenikmatan sesaat.
Sebab generasi yang memiliki tujuan hidup tidak akan mudah kehilangan arah ketika menghadapi tekanan dunia.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Gen Z bukan hanya bagaimana bertahan secara ekonomi, tetapi untuk apa kehidupan ini dijalani.
Ketika pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam iman, bekerja bukan lagi sekadar mengejar gaji, harta bukan lagi sekadar simbol status, dan kesuksesan bukan lagi sekadar pencapaian duniawi.
Generasi muda pun dapat tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya mampu menghadapi zaman, tetapi juga mampu memberikan arah bagi zamannya.
Sebab generasi yang kehilangan tujuan akan mudah menjadi pasar. Sebaliknya, generasi yang memiliki iman, ilmu, dan visi akan mampu menjadi pembangun peradaban.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
