Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image 25.Natalina Pakpahan

Ekonomi Indonesia Tumbuh, Tapi Kenapa Uang Gen Z Selalu Habis?

Eduaksi | 2026-08-26 19:48:31
Ilustrasi: Pengeluaran kecil sehari-hari yang jika terus dilakukan dapat menguras keuangan tanpa disadari.

Pernah merasa baru beberapa hari menerima uang, tetapi tiba-tiba saldo rekening sudah menipis?

Awalnya hanya membeli kopi. Lalu makan siang. Ada ongkir karena malas keluar rumah. Malamnya ikut nongkrong karena teman mengajak. Besoknya ada promo marketplace yang sayang kalau dilewatkan. Belum lagi biaya transportasi, pulsa, langganan aplikasi, hingga kebutuhan kuliah.

Tidak terasa, uang yang sebelumnya terlihat cukup tiba-tiba tinggal sedikit.

Fenomena seperti ini mungkin terasa sangat dekat dengan kehidupan anak muda Indonesia. Menariknya, persoalan tersebut muncul ketika perekonomian Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan.

Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih bergerak dan cukup resilien.

Lalu muncul pertanyaan sederhana:

Kalau ekonomi Indonesia tumbuh, kenapa banyak orang masih merasa uangnya cepat habis?

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Selalu Terasa Sama di Dompet

Pertumbuhan ekonomi biasanya kita dengar melalui berita. Angkanya bisa mencapai 5 persen, investasi meningkat, konsumsi tumbuh, dan berbagai indikator ekonomi menunjukkan perkembangan.

Namun, masyarakat tidak membayar kebutuhan sehari-hari menggunakan angka pertumbuhan ekonomi.

Masyarakat membayar menggunakan uang yang ada di dompet dan rekening.

Di sinilah perbedaan antara kondisi ekonomi secara makro dan pengalaman seseorang secara pribadi menjadi penting.

Ekonomi sebuah negara dapat tumbuh, tetapi seseorang tetap bisa merasa kesulitan mengatur keuangannya. Begitu pula sebaliknya, kondisi ekonomi yang relatif stabil tidak otomatis membuat setiap orang memiliki tabungan yang besar.

Data yang dikutip Universitas Muhammadiyah Surakarta dari Perbanas menunjukkan rata-rata saldo tabungan masyarakat pada segmen kecil bahkan berada di sekitar Rp1,7 juta pada Mei 2026. Angka ini turun dibandingkan sekitar Rp3,1 juta pada 2018. Fenomena tersebut kemudian disebut sebagai “mantab”, atau makan tabungan, ketika kebutuhan lebih besar daripada kemampuan untuk menambah simpanan.

Artinya, persoalan keuangan masyarakat tidak sesederhana “kurang rajin menabung”.

Uang Tidak Hilang, Kita Hanya Sering Tidak Tahu Ke Mana Perginya

Bagi Gen Z, pengeluaran tidak selalu datang dalam jumlah besar.

Justru sering kali datang dalam nominal kecil.

Rp15 ribu.

Rp20 ribu.

Rp30 ribu.

Kelihatannya tidak terlalu berarti.

Tetapi coba bayangkan jika pengeluaran kecil tersebut terjadi hampir setiap hari.

Misalnya seseorang menghabiskan rata-rata Rp35 ribu sehari untuk jajan dan kebutuhan kecil di luar rencana. Dalam 30 hari, jumlahnya bisa mencapai Rp1,05 juta.

Masalahnya, pengeluaran tersebut sering kali tidak terasa sebagai “pengeluaran besar”.

Kita lebih mudah menyadari ketika membeli sesuatu seharga Rp1 juta dibandingkan ketika mengeluarkan Rp30 ribu berkali-kali.

Padahal rekening bank tidak membedakan keduanya.

Uang tetap berkurang.

Di Sinilah Akuntansi Sebenarnya Dekat dengan Kehidupan Kita

Banyak orang menganggap akuntansi hanya berhubungan dengan perusahaan, laporan keuangan, debit, kredit, dan angka-angka yang rumit.

Padahal prinsip dasarnya bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perusahaan mencatat ke mana uang masuk dan ke mana uang keluar.

Kita juga seharusnya melakukan hal yang sama.

Perusahaan membuat anggaran agar pengeluaran tidak melebihi kemampuan.

Kita pun bisa membuat anggaran bulanan.

Perusahaan mengevaluasi biaya yang dianggap terlalu besar.

Kita juga bisa mengevaluasi pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Bahkan, mencatat pengeluaran sederhana di aplikasi catatan ponsel sudah merupakan bentuk penerapan akuntansi dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu menunggu menjadi akuntan untuk mulai belajar mengelola uang.

Masalahnya Bukan Selalu Karena Boros

Ketika seseorang sulit menabung, respons yang paling mudah adalah mengatakan:

“Kamu terlalu boros.”

Padahal kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.

Harga kebutuhan, biaya transportasi, tempat tinggal, pendidikan, makanan, hingga kebutuhan digital juga memengaruhi kondisi keuangan seseorang.

Karena itu, literasi keuangan memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kemampuan memperoleh pendapatan yang memadai dan kondisi ekonomi yang mendukung.

Dengan kata lain, kita perlu membedakan antara pengeluaran yang tidak terkendali dan kebutuhan hidup yang memang semakin besar.

Keduanya membutuhkan solusi yang berbeda.

Gen Z Perlu Mulai Mengenal “Laporan Keuangan Pribadi”

Tidak harus rumit.

Cukup mulai dengan tiga hal.

Pertama, catat seluruh pemasukan.

Misalnya uang saku, gaji dari pekerjaan, freelance, atau sumber pendapatan lainnya.

Kedua, catat seluruh pengeluaran.

Termasuk pengeluaran kecil yang sering dianggap tidak penting.

Ketiga, lakukan evaluasi.

Setelah satu bulan, lihat kembali:

Ke mana uang paling banyak pergi?

Apakah makanan?

Transportasi?

Belanja online?

Hiburan?

Atau justru pengeluaran spontan?

Dari sana kita bisa mulai membuat keputusan yang lebih rasional.

Bukan berarti semua kesenangan harus dihentikan.

Bukan pula berarti anak muda harus hidup terlalu pelit.

Yang penting adalah mengetahui kemampuan finansial sendiri.

Karena menikmati hasil kerja tentu boleh.

Tetapi jangan sampai kita menikmati hari ini dengan mengorbankan kebutuhan kita di masa depan.

Jadi, Apakah Ekonomi Indonesia Sedang Baik-Baik Saja?

Jawabannya tidak bisa hanya “iya” atau “tidak”.

Ada indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Pada saat yang sama, tekanan terhadap kemampuan sebagian masyarakat untuk menambah tabungan juga terlihat. Bahkan, kondisi saldo tabungan segmen kecil yang menurun menunjukkan bahwa sebagian masyarakat menghadapi kebutuhan yang lebih besar dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi simpanan.

Karena itu, angka pertumbuhan ekonomi perlu dilihat bersama dengan kondisi masyarakat sehari-hari.

Sebab pada akhirnya, ekonomi bukan hanya tentang grafik, persentase, dan laporan pemerintah.

Ekonomi juga tentang apakah seseorang masih mampu memenuhi kebutuhan bulanannya.

Apakah pekerja bisa menyisihkan sebagian penghasilan.

Apakah mahasiswa bisa membiayai pendidikannya.

Dan apakah anak muda bisa memiliki harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Jangan Tunggu Punya Banyak Uang untuk Belajar Mengelola Uang

Mungkin kita sering berpikir:

“Nanti kalau sudah punya gaji besar, baru mulai menabung.”

Padahal kebiasaan mengelola uang seharusnya dimulai ketika jumlah uang kita masih kecil.

Sebab masalah finansial tidak selalu selesai hanya karena pendapatan meningkat.

Kalau kebiasaan mengeluarkan uang tidak berubah, penghasilan sebesar apa pun tetap bisa terasa kurang.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Kenapa uang saya sedikit?”

Tetapi:

“Saya sebenarnya menggunakan uang saya untuk apa?”

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal dari perubahan besar.

Karena mengelola uang bukan berarti tidak boleh menikmati hidup.

Mengelola uang berarti memastikan bahwa kita masih bisa menikmati hidup hari ini tanpa membuat diri sendiri kesulitan di kemudian hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image