Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ari Ridho Susanto

Menakar Jangkar Kearifan Lokal

Kultura | 2026-08-20 15:21:16

A. Makna Kata “Maestro” dan Kesenjangan Realitas Sosial

Istilah “Maestro” berakar dari kata Latin magister yang berarti “lebih”, sebuah sebutan yang mengindikasikan posisi, keahlian, atau otoritas seseorang yang berada “di atas” sebagai pemimpin, guru, maupun ahli. Dalam perkembangannya pada konteks seni klasik Italia abad ke-18, istilah ini memperluas makna menjadi gelar kehormatan bagi para pakar dan konduktor musik. Secara global, kata ini kumudian diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai bentuk pengakuan tertinggi atas kepakaran, keandalan, dan dedikasi luar biasa seseorang dalam bidang seni pertunjukan, seni rupa, maupun kebudayaan.

Tingginya level interpretasi makna “Maestro” nenperlihatkan kesenjangan fenomena (gap phenomenon) yang tajam antara pendefinisan di level nasional/internasional dengan relitas di level lokal. Hal ini terekam jelas pada khususnya status Mak Dara, seniman pesisir Kepulauan Riau yang menjadi satu-satunya satu-satunya pewaris seni tradisional Joget Dangkung yang sampai saat ini masih eksis di Pulau Dompak Seberang, Kota Tanjungpinang. Satatus “maestro” yang disandangnya sehauh ini baru terimplemntasi sebatas penghirmatan simbolis di atas panggung dan pengakuan seremonial dari instansi pemerintah maupun masyarakat setempat.

Idealnya Bentuk penghargaan dan penghormatan tertinggi bagi seorang maestro tidak sekadar diwujudkan melalui selembar piagam atau pujian seremonial di panggung pertunjukan. Penghargaan yang bermanfaat harus hadir dalam bentuk sistem perlindungan sosial dan kepastian ekonomi yang berkelanjutan. Penataan ekosistem yang berkeadilan ini mencakup pemberian tunjangan hidup berkala, jaminan kesehatan dan hari tua, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya tradisi, serta penyediaan ruang fungsional bagi sang maestro untuk mentransfer ilmunya kepada generasi penerus dengan kompensasi profesional.

Berbeda dengan kondisi ideal tersebut, kenyataan pahit yang dihadapi Mak Dara sebagai menunjukkan kontras yang tajam, Predikat “maestro” kerap berhenti sebagai julukan simbolis tanpa diimbangi kepastian ekonomi dan jaminan sosial. Di tengah dedikasinya merawat seni tradisi, Mak Dara masih harus berjuang secara mandiri memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, berhadapan dengan minimnya insentif berkala dari pemerintah, serta ketiadaan ekosistem fungsional yang menjamin karya dan pengetahuan lokalnya dihargai secara finansial maupun profesional.

B. “Meraut Lidi” Sebagai Sebuah Filosofi Ketahanan Diri

Kondisinya yang kian senja, Mak Dara bertarung melawan keterbatasan fisisk demi menyambung hidup. Dulu, ia masih sanggup melaut dan merawai untuk mencari nafkah. Namun aktivitas itu telah dilarang oleh anak-anaknya demi keselamatan fisiknya. Alhasil, ia kini terpaksa mengandalkan pekerjaan fisik di darat dengan meraut lidi, sebuah usaha tekun yang hanya dihargai Rp 6.000 per kilogram. Sementara itu, panggung pertunjukan joget dangkung tak lagi bisa diandalkan sebagai tumpuan utama. Honor sekali tampil sebesar Rp2.000.000 harus dipotong biaya tranportasi Rp200.000 dan dibagi rata untuk 11 orang kelompok, sehingga ia hanya membawa pulang tak lebih dari Rp163.000 per pertunjukan yang jadwal panggungnya pun sangat tidak menentu.

Meski demikian, dari ketabahan melaut saat merawai hingga ketelitian saat meraut lidi, setiap proses fisik yang menguras tenaga tersebut telah menempa kesabaran mendalam yang membentuk filosofi hidup serta konsistensi diri Mak Dara. Daya tahan menghadapi kerasnya realitas ekonomi pesisir ia integrasikan secara utuh ke dalam komitmennya menjaga kesenian Joget Dangkung agar tetap eksis melintasi zaman. Meski kesejahteraan hidupnya jauh dari kata terjamin dan penghargaan finansial yang diterima sangat minim, semangat berkaryanya tidak pernah padam. Bagi Mak Dara, seni bukanlah komoditas untuk mengejar materi, melainkan sebuah ruang penajaman makna dan benteng identitas budaya yang harus terus dirawat dengan penuh martabat.

C. Menakar Jangkar Dengan Gaya Baru

Anomali struktural yang tajam dalam ekosistem kebudayaan lokal, memperlihatkan Bahwa Mak Dara berada dalam kondisi kerentanan yang ekstrem serta memperlihatkan ketiadaan jaminan rasa aman (safety needs), baik dalam bentuk kepastian finansial, jaminan kesehatan, maupun perlindungan hari tua dari negara. Selain itu, larangan dari anak-anaknya untuk melaut demi alasan keselamatan fisik menegaskan bahwa ruang gerak ekonominya kian menyempit tanpa adanya jaring pengaman sosial (social safety net) yang memadai. Tingkat penghargaan Mak Dara menunjukkan bentuk hollow recognition (penghargaan semu). Secara simbolis, kebutuhan pengakuannya dipenuhi secara berlebihan melalui penyematan gelar kehormatan "Maestro" serta selembar piagam atau tepuk tangan seremonial di atas panggung. Namun, penghargaan ini mengalami keretakan fungsi karena tidak ditransformasikan menjadi penghargaan profesional yang bermartabat.

Anomali terbesar terjadi pada puncak piramida. Menurut Maslow, aktualisasi diri dipicu ketika kebutuhan dasar telah aman. Namun, Mak Dara menembus batas hukum teoretis tersebut. Meskipun kebutuhan fisiologis dan rasa amannya terus terancam, komitmennya untuk merawat Joget Dangkung tidak pernah padam. Bagi Mak Dara, seni bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang penajaman makna hidup dan benteng identitas budaya. Filosofi “meraut lidi” dan ketabahan melaut ia transformasikan menjadi benteng moral untuk terus berkarya di tengah keterbatasan. Secara teoretis, tulisan ini merevisi asumsi linier kaku piramida Maslow dengan membuktikan bahwa pada masyarakat komunal-tradisional pesisir, aktualisasi diri dan dedikasi budaya mampu berfungsi sebagai mekanisme bertahan hidup (survival mechanism) mendasar yang melampaui defisit kebutuhan fisiologis maupun rasa aman. Pada ranah kebijakan publik, fakta lapangan ini mendesak redefinisi paradigma dari sekadar apresiasi seremonial-simbolik berbasis event management menuju pembangunan ekosistem perlindungan sosial yang konkret. Tulisan ini juga merumuskan solusi keberlanjutan ekosistem seni melalui integrasi pedagogis-ekonomis berupa model Maestro in Residence atau kurikulum lokal Tanjungpinang, yang mentransformasikan posisi Mak Dara dari objek pertunjukan pasif berupah murah menjadi pakar budaya (cultural expert) profesional yang dihargai secara bermartabat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image