Rebo Pungkasan: Mahakarya Harmoni Islam dan Tradisi
Agama | 2026-08-11 20:08:29Bantul-
Mengapa ribuan orang rela berdesakan demi sepotong lemper di sudut Yogyakarta setiap akhir bulan Safar? Jawabannya ada di Wonokromo. Sebuah desa yang berada di Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. Di balik riuk-pikuk parade costume, barisan prajurit rakyat, dan kemeriahan gunungan, terdapat ritual kuno Bernama: “Rebo Pungkasan”.
Tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan kirab budaya dan Lemper Raksasa, tetapi juga menyimpan kedalaman ajaran Islam yang dibungkus kearifan lokal. Sebuah tradisi unik yang mengubah persepsi tentang 'bulan bencana' menjadi momentum penuh berkah, sedekah, dan puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa.
Istilah Rebo Pungkasan berarti "Rabu Terakhir", merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar (Sapar dalam penanggalan Jawa). Menurut sejarah lisan masyarakat setempat, tradisi ini berawal dari kebiasaan warga berkumpul dan bersilaturahmi dengan ulama besar Wonokromo, Mbah Kyai Faqih Usman (Kyai Welit), serta kenangan atas pertemuan beliau dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Puncak acara ini ditandai dengan Kirab Lemper Raksasa. Lemper raksasa dengan panjang mencapai 2,5 meter dan diameter 50 centi meter diarak bersama gunungan hasil bumi oleh barisan bregodo (prajurit rakyat) dan iringan musik hadroh. Setelah diarak dari masjid menuju pendopo balai desa, lemper dipotong dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Meski berakar dari budaya lokal, tradisi Rebo Pungkasan di Wonokromo sarat dengan nilai-nilai akulturasi Islam, yaitu: pertama, sebagai tolak bala melalui doa dan zikir (Daf'ul Bala'). Dalam pandangan masyarakat tradisional, bulan Safar kerap dipersepsikan sebagai bulan yang penuh ujian atau potensi bencana. Namun, ketimbang mempercayai mitos mistis, tradisi di Wonokromo mengubahnya menjadi ikhtiar spiritual. Warga berkumpul untuk membaca doa keselamatan, Istighosah, dan shalawat Nabi, selain itu dalam prinsip islam bahwa memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT. (tawadhu' dan tawakal) serta menjauhi perbuatan syirik.
Kedua, Sedekah Kolosal (As-Shadaqah). Bahwa pembuatan dan pembagian Lemper Raksasa serta gunungan makanan merupakan wujud nyata ibadah sedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. : "Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan menolak kematian yang buruk." (HR. Tirmidzi).
Masyarakat bergotong-royong menyumbang bahan dan tenaga. Makanan yang dibagi-bagikan secara cuma-cuma membawa kegembiraan bagi sesama, mewujudkan pesan berbagi keberkahan.
Selanjutnya, nilai filosofi lemper. Lemper sebagai simbol perekat silaturahmi. Bahwa pilihan kuliner berupa “lemper” (beras ketan dengan isian daging) memiliki makna simbolis yang mendalam. Ketan yang lengket, melambangkan eratnya tali persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dan persatuan masyarakat agar tidak mudah terpecah belah. Sedangkan isian gurih di dalam: mengibaratkan kebaikan dan ketulusan hati yang tersimpan di dalam diri manusia.
Terakhir, Nilai Dakwah Kultural (Bil Hikmah). Para ulama pendahulu di Wonokromo menggunakan pendekatan dakwah kultural (dakwah bil hal). Kebudayaan dijadikan sebagai sarana mengumpulkan masyarakat, yang kemudian diisi dengan pengajian, bacaan shalawat, dan do'a bersama.
Rebo Pungkasan Wonokromo menjadi bukti betapa bahagianya pertemuan antara nilai agama dan tradisi lokal. Agama memberikan nyawa spiritual (doa dan sedekah), sementara budaya memberikan wadah ekspresi (kirab dan kesenian). Tradisi ini mengajarkan bahwa merawat warisan leluhur bisa berjalan selaras dengan memperkuat tauhid dan nilai-nilai keislaman. Sebagai wujud harmoni budaya dan agama. (qalammuthi’)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
