Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abu Shaffa

Refleksi Agustusan: Potret Buram yang Belum Usai

Agama | 2026-08-03 11:12:13

Oleh: Abu Shaffa

Ada tiga bait lama yang kutulis di Bogor, dua puluh tiga tahun silam. "Potret Buram Siapa Ini", "Berkibarlah Benderaku", dan "Aku Merasa Rindu"—tiga sajak yang lahir dari keresahan seorang lelaki yang setiap hari menggunakan angkutan umum -- menyaksikan pemandangan rutin, anak-anak di jalanan, menjadi peminta-minta, mengamen di lampu merah, dan tentu kelakuanku sendiri ketika pulang menyeberang jalan tanpa zebra cross karena bis sudah menanti di pintu terminal.

Hari ini kubaca ulang bait-bait itu, dan yang kurasakan bukanlah romantisme atau nostalgia. Yang kurasakan adalah kengerian, sebab potret buram yang kutulis tahun 2003 itu ternyata belumlah juga usai.

Ironi yang Kita Warisi

Dalam "Potret Buram Siapa Ini", kutulis tentang anak-anak yang seharusnya bersekolah justru sibuk mengamen mencari nafkah atau tentang anak sekolah yang malah tawuran di jalanan, dan tentang aparat, calo yang berbagi hasil pungutan liar di terminal, dan yang pasti tentang diriku sendiri yang setiap kali melihat itu semua hanya sanggup berkata, "kok gitu". Bukan protes, bukan aksi, hanya gumaman pengecut yang lewat begitu saja.

Dua dekade lebih berlalu. Kita punya program wajib belajar, bantuan sosial, dan aplikasi pengaduan digital. Tapi coba tengok kembali: anak-anak yang putus sekolah demi membantu ekonomi keluarga masih ada di sekitar kita, bahkan datanya secara nasional tetap menjadi persoalan serius setiap tahun. Pungutan liar berganti wajah menjadi pungutan digital, calo berganti nama menjadi "orang dalam". Yang berubah hanya kemasan. Substansinya, aku khawatir, masih sama.

Yang paling menampar dari apa yang kutulis bukanlah potret sosialnya, tapi satu bait pengakuan di penghujung sajak: "potret buramku yang lalai dan pengecut, yang cuma berani bilang kok gitu ya". Karena sesungguhnya kritik paling tajam bukan untuk sistem di luar sana, melainkan untuk diri sendiri yang memilih diam sambil terus melintas.

Allah berfirman dalam Surat Al-'Ashr, bahwa manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Menasihati—bukan sekadar mengeluh dalam hati. Di situlah letak jarak antara iman yang hidup dan iman yang hanya menjadi gumaman "kok gitu ya".

Ke Mana Perginya Para Pahlawan

"Berkibarlah Benderaku" lahir dari kegelisahan lain: rasa kehilangan sosok-sosok besar. Kutulis dulu, tak kujumpai lagi semangat Sukarno, kearifan Hatta, keikhlasan Natsir, kepandaian Roem, kekuatan Sudirman. Nama-nama itu sengaja kupilih karena mewakili karakter, bukan sekadar jabatan.

Natsir misalnya, dikenang bukan karena kekuasaannya, melainkan karena keikhlasannya menyerahkan jabatan demi persatuan umat—sebuah teladan yang makin langka di zaman ketika jabatan justru diperebutkan mati-matian. Dan sampai akhir hayatnya tetap berjuang di jalan dakwah.

Pertanyaan yang kuajukan di puisi itu masih relevan hari ini: siapa yang layak disebut pahlawan oleh generasi mendatang? Para pejabat yang pandai berpidato tentang keadilan, keberpihakan pada rakyat kecil di layar kaca, atau justru orang-orang sederhana yang setia menghibur dan mengingatkan—muadzin yang tak pernah absen mengumandangkan azan, guru ngaji yang mengajar tanpa pamrih, pedagang kecil yang tetap jujur di tengah godaan.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Standar kepahlawanan dalam Islam sederhana sekali: manfaat, bukan popularitas. Dengan standar itu, barangkali pahlawan sesungguhnya memang bukan yang wajahnya sering muncul di media, melainkan yang namanya hanya disebut dalam doa orang-orang yang pernah ia tolong diam-diam.

Rindu di Tengah Kebisingan Ideologi

Puisi ketiga, "Aku Merasa Rindu", kutulis beberapa bulan setelahnya, saat dunia sedang riuh oleh perang dan kekerasan bernuansa agama serta ideologi. Aku menulis kebingungan pada liberalisme, kapitalisme, marxisme, sosialisme, demokrasi—apakah semua isme itu sanggup menjawab persoalan lintas kultur, ras, suku, dan agama.

Jawaban yang kutemukan waktu itu, dan masih kupegang sampai sekarang, sederhana: bukankah kitab-kitab suci yang dibawa para nabi sudah mengajarkan universalisme, humanisme, dan perdamaian jauh sebelum isme-isme itu lahir? Al-Qur'an menyebut bahwa Rasulullah ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan bagi satu golongan saja. Konsep rahmatan lil 'alamin itu sudah menjawab kegelisahan tentang bagaimana hidup berdampingan lintas identitas, jauh sebelum dunia sibuk mencari ideologi tandingan.

Pekik Merdeka yang Kehilangan Makna

Kini, menjelang bulan kemerdekaan, ada satu bait tambahan yang terus terngiang: pekik merdeka, kini hanyalah semboyan, berjuta wajah lugu merindukan maknanya.

Setiap Agustus kita masih meneriakkan "Merdeka!" dengan lantang, memasang bendera di depan rumah, mengikuti lomba-lomba 17-an di kampung, kantor, maupun komunitas. Tapi coba tanya pada anak-anak yang masih harus mengamen di jalan alih-alih duduk di bangku sekolah, pada pedagang kecil yang tergerus oleh sistem yang tak berpihak, pada mereka yang masih menunggu keadilan bertahun-tahun—apakah kemerdekaan sudah sampai kepada mereka?

Merdeka semestinya bukan sekadar lepas dari penjajahan asing, tapi juga merdeka dari kemiskinan struktural, merdeka dari ketidakadilan yang dibiarkan berlarut, dan yang tak kalah penting, merdeka dari kelalaian kita sendiri yang hanya sanggup berkata "kok gitu ya" setiap kali melihat ketimpangan di depan mata.

Kembali kepada yang Paling Dekat

Dua puluh tiga tahun sejak bait-bait itu kutulis, aku belajar satu hal: potret buram negeri tidak akan pernah selesai dibicarakan kalau kita hanya menunggu perubahan datang dari atas. Meminjam istilah Ust. Adian Husaini: selama setan masih ada, lowongan pekerjaan masih terbuka lebar. Mungkin dengan rintisan kecil untuk pemberdayaan ummat sekitar lingkungan, program pendidikan yang membantu anak-anak dhuafa untuk tetap bisa mengaji dan sekolah— memang itu semua bukan solusi besar untuk negeri. Tapi setidaknya itu jawaban kecil atas gumaman lama yang dulu hanya berhenti di "kok gitu ya".

Barangkali begitulah cara kita menebus potret buram itu: bukan dengan menunggu pahlawan datang, bukan dengan mencari-cari ideologi atau isme-isme lain, melainkan dengan menjadi rahmat sekecil apa pun bagi orang-orang di sekitar kita. Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang paling nyata adalah ketika kita berhenti menjadi penonton, dan mulai bergerak—sekecil apa pun langkah itu.

Bogor, Agustus 2026

just an ordinary man

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image