Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Munajat Kami, Ya Allah...

Agama | 2026-07-26 00:15:29

Abdul Hadi Tamba.

Munajat kami ya ALLAH.

Ya Allah...

Jika Engkau tanya apa bekalku untuk pulang,

Aku tidak punya apa-apa.

Shalatku masih bolong,

Puasaku masih lalai,

Ilmuku masih kotor,

Amalku masih tipis seperti kulit bawang.

Tapi Ya Allah...

Di tanganku yang kotor ini,

Ada satu yang masih kugenggam erat-erat,

Yang tidak akan pernah kulepas sampai mati :

*Shalawatku kepada kekasih-Mu, Muhammad Rasulullah.*

Para Sufi mengajarkan:

> _Jika amalmu membuatmu malu untuk menghadap Allah, maka hadapkanlah shalawatmu. Karena Allah tidak akan pernah menolak shalawat._

Karena semua amal adalah tentang dirimu kepada Allah,

Tapi shalawat adalah tentang Allah kepada kekasih-Nya.

Saat kau bershalawat, bukan kau yang memuji Muhammad,

Tapi Allah yang memerintahkan seluruh malaikat ikut memuji bersamamu.

*"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi..." (QS. Al-Ahzab: 56)*

*1. Saat Aku Tidak Bisa Berdoa Lagi, Aku Bershalawat.*

Ada hari di mana lidah ini terlalu berat untuk meminta.

Terlalu malu untuk berkata "Ya Allah beri aku ini, beri aku itu."

Karena sadar, terlalu banyak dosa yang belum selesai.

Maka para wali Allah diam-diam mengajarkan :

Jika kau terlalu malu meminta kepada Raja, maka pujilah Putra Mahkota yang paling dicintai Raja.

Sebut namanya : _Allahumma shalli 'ala Muhammad._

Saat kau menyebut namanya, pintu Raja yang tadinya tertutup rapat karena dosamu, akan terbuka lebar-lebar karena cinta-Nya pada kekasih-Nya.

*2. Kugenggam Shalawatku Seperti Orang Tenggelam Menggenggam Kayu.*

Dunia ini lautan.

Kita semua sedang tenggelam.

Ada yang tenggelam oleh masalah keluarga,

Ada yang tenggelam oleh rindu,

Ada yang tenggelam oleh luka masa lalu yang tidak kunjung sembuh.

Aku tidak pandai berenang, Ya Allah.

Tapi aku dengar dari guru-guruku :

> _Shalawat adalah bahtera Nuh di akhir zaman. Siapa yang menaikinya, ia selamat. Siapa yang meninggalkannya, ia tenggelam._

Maka hari ini, biarlah orang lain menggenggam jabatan, menggenggam harta, menggenggam manusia.

Aku cukup...

*Kugenggam shalawatku.*

Satu kali shalawat, Allah balas sepuluh rahmat.

Sepuluh rahmat, cukup untuk menghapus sepuluh luka.

Jika aku bershalawat seratus kali sehari, berapa luka yang akan Kau sembuhkan, Ya Allah ?

*3. Ya Rasulullah, Kenalkah Engkau Padaku Nanti ?*

Wahai Baginda...

Di Padang Mahsyar nanti, semua orang sibuk mencari penyelamat.

Aku tidak terkenal.

Namaku tidak ada di langit.

Amalku tidak ada yang istimewa.

Tapi adakah Engkau mengenaliku, Ya Rasulullah,

Sebagai salah satu dari orang-orang yang di dunia, meski bibirnya kotor, tapi tetap berusaha menyebut namamu setiap malam ?

Adakah Engkau akan berkata kepada Allah :

_

"Ya Allah, ini umatku.

Dia memang banyak dosa, tapi dia mencintaiku.

Biar aku beri syafaat padanya."

Cukup itu, Ya Rasulullah. Cukup itu yang aku tunggu.

Maka malam ini, sebelum kita tidur...

Letakkan tanganmu di dada.

Pejamkan matamu.

Dan genggam tasbihmu erat-erat.

Ucapkan pelan, dengan semua rindu yang kau punya :

*Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.*

Ulangi terus, sampai air matamu jatuh sendiri.

Karena setiap shalawat yang kau ucapkan,

Sedang naik ke langit,

Dan Rasulullah di Madinah, dengan izin Allah, sedang menjawab namamu satu per satu.

Dia tahu kau bershalawat.

Dia sedang merindukanmu juga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image