Menepatkan Arah, Menjaga Keberkahan
Kabar | 2026-07-21 09:51:50
DTPEDULI.ORG | BANDUNG – Sejak pagi, suasana di Kantor Pusat DT Peduli tampak berbeda pada Jumat (17/7/2026). Biasanya, para samil sibuk melayani kebutuhan donatur dan penerima manfaat. Namun, hari itu, aktivitas pelayanan dihentikan sejenak. Seluruh kantor layanan DT Peduli di berbagai daerah serentak menutup operasional selama satu hari untuk mengikuti Ujian Nasional Standar Operasional Prosedur (SOP).
Ujian tersebut merupakan ikhtiar besar untuk membangun budaya kerja yang bertumpu pada standar, kualitas, dan niat yang lurus. Para samil duduk berjajar dengan wajah serius, sesekali menunduk membaca pertanyaan yang menguji pemahaman mereka terhadap aturan dan prosedur yang selama ini menjadi pijakan lembaga.
Ujian berlangsung hingga menjelang shalat Jumat. Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan pengarahan dari jajaran manajemen, mulai dari direktur utama hingga para direktur di setiap direktorat. Evaluasi dan arahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Direktur DT Peduli, Jajang Nurjaman, menjelaskan bahwa ujian tersebut diselenggarakan untuk mengukur sejauh mana para samil memahami kebijakan dan SOP yang telah ditetapkan lembaga.
“Seberapa paham ada sebuah kebijakan, semua aturan, SOP yang sudah ditetapkan. Dari SOP itu, seberapa paham, seberapa menguasai, seberapa bisa menjalankan itu. Seberapa bisa melengkapi persyaratan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menjalankan SOP itu. Itu yang kita ukur sebetulnya kemarin,” ujarnya.
Jajang menjelaskan, hasil ujian akan dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Peserta dengan nilai di bawah 50 akan mengikuti remedial, nilai 50 hingga 80 masuk kategori cukup, sementara nilai di atas 80 dianggap telah memiliki pemahaman yang baik terhadap standar kerja yang berlaku.
Target yang ingin dicapai bukan sekadar angka tinggi di atas kertas. Lebih dari itu, seluruh samil diharapkan memiliki pemahaman yang utuh mengenai standar layanan sehingga mampu menghadirkan pelayanan yang seragam di seluruh kantor DT Peduli.
“Kalau tidak standar, berarti mereka pakai standar siapa? Mungkin karena kebiasaan turun-temurun saja. Hasilnya bisa jadi banyak donatur yang tidak puas karena layanan yang berbeda-beda. Akhirnya muncul komplain,” kata Jajang.
Di tengah upaya memperkuat sistem kerja, DT Peduli juga menyadari bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh prosedur dan teknologi. Ada dimensi lain yang tak kalah penting, yakni ketulusan niat dan kualitas ruhiyah para samil.
Jajang mengibaratkan lembaga sebagai sebuah taman yang indah. Namun, taman itu tidak akan didatangi kupu-kupu apabila bunga-bunga yang tumbuh di dalamnya hanyalah bunga plastik.
“Kita sudah punya taman yang indah. Ini kenapa kupu-kupu tidak datang? Bisa jadi ada bunga-bunga yang palsu. Bisa jadi angka Yaumiyah bagus, hasil penilaian SDM bagus, tetapi niatnya bukan sungguh-sungguh karena Allah, melainkan hanya ingin mendapatkan penilaian dari manusia,” tuturnya.
Ia menilai bahwa orientasi yang semata-mata mengejar capaian angka dapat menghambat datangnya pertolongan Allah. Sebab, kualitas kerja sejatinya tidak hanya diukur dari laporan dan statistik, melainkan juga dari keikhlasan serta tujuan yang mendasarinya.
“Kalau kita ingin ke akhirat, ingin ke surga, itu tidak bisa seperti itu. Harus berubah. Mudah-mudahan teman-teman sudah kembali ke jalan yang benar, meluruskan lagi niat dan tujuan bergabung di lembaga ini,” ujarnya.
Ke depan, hasil evaluasi internal tersebut akan menjadi pijakan bagi DT Peduli untuk melangkah ke tahap berikutnya, yakni audit eksternal dalam rangka memperoleh sertifikasi ISO 9001. Namun, bagi Jajang, pencapaian itu bukanlah tujuan akhir.
“Yang penting, kita membudayakan kerja dengan standar. Jangan hanya standar pribadi, tetapi harus sama, yaitu standar SOP,” katanya.
Jajang menegaskan, SOP bukan sekadar kumpulan aturan yang tersimpan di dalam dokumen. SOP adalah pagar yang menjaga kualitas, mengurangi risiko, dan memastikan setiap amanah ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
“Ketika distandarkan, mudah-mudahan mengurangi komplain, meningkatkan kualitas, mendapatkan kepuasan, bertambahlah produktivitas,” pungkasnya mantap. (Agus ID)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
