Belajar Lima Adab dalam Surah Al-Hujurat
Agama | 2026-07-16 12:29:19
Lima fondasi membangun Kehidupan
M. Saifudin, Lc
Salah satu surah Al-Qur'an yang sangat sistematis dalam mengajarkan adab dan tata krama kehidupan adalah Surah Al-Hujurat. Sejak ayat pertama hingga akhir, tidak ada pembahasan tentang hukum waris, jihad, ataupun muamalah maliyah, tetapi berfokus pada adab, yaitu fondasi bagi seluruh kehidupan.
Ayat-ayat tersebut seolah menegaskan bahwa kerusakan masyarakat bukan semata-mata karena kurangnya ilmu, melainkan karena hilangnya adab dalam berbagai lini kehidupan. Ilmu mungkin dapat melahirkan kecerdasan, tetapi hanya adab yang bisa melahirkan kemuliaan. Dan adab seseorang selalu berkaitan erat dengan tingkat beragamanya. Sebagaimana perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, "Agama seluruhnya adalah adab. Barang siapa bertambah adabnya, berarti bertambah pula agamanya." (Madarij as-Salikin).
Beberapa pelajaran adab yang bisa dipetik dari Surah Al-Hujurat sebagai berikut:
1. Mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dari Kepentingan Sendiri
Surah Al-Hujurat dibuka dengan mengajarkan sikap dalam berbicara di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Hujurat: 1).
Ayat ini menggunakan gaya bahasa nahyi (larangan). Dalam kaidah tafsir dikenal kaidah an-nahyu lit tahrim, yaitu bahwa pada asalnya lafaz larangan menunjukkan hukum haram. Larangan ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh mendahulukan pendapat, hawa nafsu, tradisi, ataupun kepentingan pribadi di atas petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Terlebih lagi, larangan ini disampaikan kepada para sahabat ketika berhadapan dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena beliau adalah utusan Allah yang menyampaikan dan menjelaskan wahyu kepada umat manusia.
Meski ayat ini turun pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, pesan umumnya berlaku hingga akhir zaman. Sebagaimana kaidah tafsir:
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
"Al-'ibratu bi 'umumi al-lafzhi la bi khushushis sabab" (yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz ayat, bukan kekhususan sebab turunnya).
Artinya, setiap orang beriman harus taat dan tunduk di hadapan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.
2. Membudayakan Tabayun terhadap Setiap Informasi dan Permasalahan Sebelum Bereaksi
Tabayun adalah melakukan konfirmasi terhadap berita yang didapat sebelum memberikan reaksi. Sikap ini merupakan tindakan preventif agar terhindar dari fitnah dan dampak buruk akibat informasi yang belum jelas. Karena itulah Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا...
"Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).
Meskipun ayat ini turun lebih dari empat belas abad yang lalu, kandungannya tetap sangat relevan hingga hari ini. Di era media sosial, penyebaran berita dan konten yang belum jelas sumber maupun kebenarannya terjadi begitu cepat. Ada yang berlomba menjadi orang pertama yang membagikan informasi, ada pula yang mengejar keuntungan berupa like, share, comment, subscribe, atau motif lainnya.
Ayat ini mengajarkan budaya tabayun agar informasi yang diterima dan disebarkan tidak menimbulkan fitnah maupun keburukan bagi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman,
"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya." (QS. Al-Isra': 36).
Menyebarkan informasi yang belum jelas tidak hanya menyalahi etika jurnalistik, tetapi juga bertentangan dengan moral dan ajaran agama. Maka, jika kebenaran suatu informasi belum dapat dipastikan, sikap terbaik adalah mendiamkannya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Melakukan Ishlah (Penyelesaian Konflik)
Setelah mengajarkan tabayun, Allah Ta'ala mengajarkan penyelesaian konflik.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10).
Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar slogan tanpa makna, tetapi amanah yang harus dijaga. Karena itu, ketika terjadi konflik di keluarga atau di tengah masyarakat, Allah Ta'ala memerintahkan kita menjadi pihak yang mendamaikan, bukan menjadi provokator atau "kompor" yang memperbesar perselisihan.
Sikap ini hanya dapat dilakukan jika seseorang mampu mengelola emosi dan kepentingan pribadinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"...orang-orang yang menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. Ali Imran: 134).
Dengan menahan diri ketika emosi memuncak, berbesar hati untuk memaafkan, serta memahami bahwa setiap orang memiliki harga diri yang ingin dijaga, insya Allah seorang mukmin akan mampu menjadi pendamai.
4. Larangan Saling Mencaci dan Merendahkan
Allah Ta'ala berfirman,
لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِن قَوْمٍ... وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ... وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
"Janganlah suatu kaum mengolok kaum yang lain... jangan saling mencela... janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 11–12).
Dalam ayat ini, sikap "ejekan", "prasangka", "mencari-cari kesalahan", hingga "ghibah" dihimpun dalam satu rangkaian ayat. Hal ini menunjukkan bahwa kehancuran masyarakat sering kali diawali oleh kerusakan lisan.
Begitu pentingnya menjaga lisan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Lisan menjadi barometer keberhasilan seorang muslim dalam bermasyarakat. Sebab, rasa aman dalam masyarakat sering kali hancur akibat lisan yang tidak terjaga dan ucapan yang tidak terkendali. Bahkan, ucapan yang baik pun apabila disampaikan tidak pada tempatnya dapat menimbulkan dampak yang kurang baik.
Dalam mahfuzat disebutkan,
Likulli maqālin maqām, wa likulli maqāmin maqāl.
(Setiap perkataan ada tempatnya, dan setiap tempat ada perkataannya).
Sebagian ulama mengingatkan bahwa menjaga lisan merupakan salah satu tanda kesempurnaan agama, sedangkan lisan yang tidak terkendali dapat menjadi sebab kebinasaan seorang hamba meskipun ia memiliki banyak amal.
5. Fondasi Kemuliaan adalah Takwa
Banyak pengamat menyebut zaman ini sebagai era post-truth, yaitu ketika emosi, opini, dan identitas kelompok lebih memengaruhi masyarakat daripada fakta objektif. Orang lebih mudah mempercayai berita yang sesuai dengan keyakinannya daripada berita yang benar. Orang lebih membela pihak yang dekat secara emosional dengannya meskipun berada di pihak yang salah.
Standar kemuliaan pun sering diukur dari kemewahan, kekayaan, dan jabatan. Padahal Islam telah mengingatkan sejak lama bahwa kemuliaan bukan terletak pada harta ataupun kedudukan, sebab semuanya akan sirna. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan fondasi kemuliaan yang hakiki.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى... إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).
Takwa adalah satu-satunya ukuran kemuliaan. Dengan takwa seseorang tidak akan melakukan kejahatan meski tidak terlihat manusia. Dengan takwa pula seseorang akan tetap bersungguh-sungguh beramal meski tidak mendapat pujian maupun penghargaan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim).
Kemuliaan tidak dibangun dengan mengejar popularitas, kemewahan dunia, dan kedudukan, melainkan dengan memperbaiki hati serta menghiasi amal dalam bingkai takwa kepada Allah Ta'ala. Sebab, kemuliaan yang dibangun tanpa ketakwaan hanyalah fatamorgana.
Ibnu Athaillah as-Sakandari rahimahullah mengingatkan,
"Kuburkanlah dirimu dalam tanah ketidaktenaran. Sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam, buahnya tidak akan sempurna." (Al-Hikam Al-'Atha'iyyah).
Penutup
Sebagai penutup, Surah Al-Hujurat mengajarkan bahwa adab bukan sekadar hiasan karakter seseorang, tetapi barometer bagi setiap mukmin dalam menjalankan agamanya. Di tengah era disrupsi yang kita saksikan hari ini, fitnah, ujaran kebencian, polarisasi, saling merendahkan, hingga pudarnya ukhuwah sesungguhnya telah diantisipasi oleh Al-Qur'an sejak lebih dari empat belas abad yang lalu.
Maka, jika kita ingin membangun keluarga yang kokoh, masyarakat yang bermartabat, komunitas yang harmonis, dan bangsa yang maju, langkah pertama bukan sekadar memperbanyak ilmu, melainkan kembali kepada Al-Qur'an dengan mempelajari dan mengamalkan adab yang diajarkan Surah Al-Hujurat. Sebab, peradaban menjadi besar karena dibangun oleh orang-orang yang tinggi adabnya dan bertakwa.
Nashrun minallahi wa fathun qaib, wa basysyiril mu'minin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
