Inspirasi untuk Teman-Teman Guru
Guru Menulis | 2026-07-13 22:07:52
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Terima kasih atas waktu dan kesempatan yg diberikan kepada Bunda untuk berdiri di hadapan Bapak Ibu guru hebat ini. Dari sisi kepantasan, sangatlah tidak pantas Bunda berdiri di sini, di hadapan umat hebat dan luar biasa ini, karena Bunda hanyalah seorang tua yg fakir ilmu, fakir kemampuan, fakir pengetahuan, fakir pengalaman yg bermanfaat untuk umat. Beberapa hal yg pastinya Bunda tidak fakir adalah usia, keterbatasan, dan kelemahan.
Jadi saat ini Bunda memberanikan diri berdiri di hadapan umat mulia dan hebat ini hanya untuk berbagi cerita sebagai orangtua yg bercerita kepada anak-anaknya, dan berharap semoga dengan segala kefakiran Bunda, di sisa usia Bunda ini masih bisa memberi manfaat untuk umat meski hanya seukuran sebutir biji zarrah.
Bismillah, Bunda akan mulai cerita Bunda ini dan mohon maaf apabila kurang runut, kurang isi, dan jaaaauuuh dari sempurna.
Bunda akan memulai dengan mengungkapkan apa yg ada dalam hati, aliran darah, dan detak jantung Bunda, bahwa..
Mengajar Adalah Hidup dan Hari-Hari Bunda
Bagi sebagian orang, mengajar adalah sebuah profesi. Namun bagi Bunda, guru dan mengajar bukanlah hanya sekedar profesi. Guru adalah hal yang melekat 24 jam sehari, 28, 29, 30, atau 31 hari sebulan, dan tidak bisa dilepas meski sekejap. Mengajar adalah cara menjalani hidup.
Setiap pagi, langkah kaki menuju sekolah bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan membawa harapan.
Di setiap saat bertatap mata dengan anak-anak di ruang kelas dan hadapan anak-anak, guru tidak hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga menanamkan nilai, membangunkan mimpi, dan menumbuhkan keyakinan pada setiap anak bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik dengan cara yg terbaik.
Ada hari-hari yang dipenuhi tawa, ada pula saat-saat yang melelahkan, namun dengan mendengar suara mereka berseru "Bundaaa..." hilanglah segala penat, lelah, dan rasa negatif.
Tak jarang terkadang himpitan dan ada hal yg sesekali mampir di benak dan raga tua Bunda, merasakan ada suatu rasa keraguan dalam beberapa hal menghadapi kondisi yg ada. Namun rasa cinta dan keyakinan berniat dan berjalan di jalan Allah menguatkan dan meyakinkan Bunda untuk terus mengabdikan diri dan memberikan cinta kepada anak-anak melalui dunia pendidikan. Kebahagiaan terbesar bukanlah tepuk tangan atau pujian, melainkan ketika melihat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, berilmu, dan bermanfaat bagi sesama.
Bagi Bunda, mengajar bukan sekadar pekerjaan yang dimulai saat bel masuk berbunyi dan berakhir ketika bel pulang terdengar. Mengajar adalah bagian dari napas kehidupan, hadir dalam doa, dalam perhatian, dan dalam setiap harapan yang dipanjatkan untuk anak-anak didik.
Mungkin nama seorang guru tidak selalu dikenang oleh semua muridnya. Namun setiap ketulusan, kesabaran, dan kasih sayang yang pernah diberikan akan hidup dalam karakter dan langkah mereka. Itulah jejak yang tak pernah hilang oleh waktu. Bunda ingin selalu mematrikan dalam diri dan hati bunda bahwa mengajar bukan hanya profesi. Mengajar adalah panggilan jiwa, adalah hidup, dan adalah kisah indah yang terus ditulis setiap hari dengan cinta dan keikhlasan.
Itulah mengapa sejak pertama kali Bunda mengajar pada tahun 1995 Bunda lebih memilih dipanggil Bunda dan memosisikan diri sebagai seorang ibu karena bagi Bunda dan kita tahu bahwa Ibu/Bunda/Mama adalah orangtua dan madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan orangtua harus menjadi guru yang terbaik bagi anak-anaknya ; memberi contoh teladan, uluran tangan dan hati, pelukan dan ciuman dengan lautan cinta dan kasih sayang tanpa mengharap balas jasa.
Depok, 13 Juli 2026
Eri Susandari
Guru SMA Al-Fikri Depok
dan SMP/SMA Salman Al-Farisyi Cibinong
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
