Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Adz-Dzikir Al-Madzakur

Agama | 2026-07-07 04:54:19

Abdul Hadi tamba.

Adz-Dzikir & Al-Madzakur.

Dalam pandangan kami Adz-Dzikr (aktivitas mengingat Allah) dan Al-Madzkur (Zat yang diingat, yakni Allah SWT) adalah inti dari perjalanan spiritual untuk mencapai makrifat (mengenal Allah) dan kesucian hati.

Kami memandang dzikir sebagai alat untuk membersihkan jiwa dari sifat tercela dan mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan secara langsung.

Berikut adalah rincian konsep, dalil, dan pandangan kami serta ulama mengenai dzikir dalam perspektif tasawuf:

Hakikat Adz-Dzikr dan Al-Madzkur Dzikir (Penyebut):

Praktik mengingat Allah yang dilakukan secara terus menerus.

Dzikir bertahap mulai dari lisan (dzikir lisan), naik ke kesadaran hati (dzikir qalbi), hingga puncaknya saat hati hanya dipenuhi oleh Allah.

Madzkur (Yang Disebut/Diingat):

Yaitu Allah SWT.

Tujuan akhir tasawuf adalah kondisi di mana kesadaran terhadap Dzat yang diingat (Allah) begitu kuat, hingga si hamba melebur dalam keagungan-Nya.

Kondisi ini sering disebut fana (lebur dari ego manusiawi).

Sumber Dalil dalam Al-Qur'an.

Praktik berdzikir dan menyucikan hati banyak termuat dalam ayat-ayat Al-Qur'an:

Surat Al-Baqarah ayat 152:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Surat Ali 'Imran ayat 191:

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring..."

Surat Al-Ahzab ayat 41-42:

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Hadis Shahih Pendukung.

Hadis Nabi SAW yang menganjurkan dzikir tanpa batas hitungan atau waktu:

Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim:

Rasulullah SAW bersabda,"Allah SWT berfirman:

Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, niscaya Aku mengingat-Ku dalam diri-Ku.

Jika ia mengingat-Ku di suatu majelis, niscaya Aku mengingatnya dalam majelis yang lebih baik daripada itu...'"

Hadis Riwayat Tirmidzi:

Dari Abdullah bin Busr RA, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam itu sudah banyak bagi kami.

Maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh ?"

Beliau menjawab, "Hendaklah lisanmu senantiasa basah untuk berdzikir kepada Allah.

Pandangan Ulama Muktabar (Sufi).

Para ulama tasawuf melihat dzikir sebagai terapi dan kebutuhan spiritual:

Imam Al-Ghazali:

Dalam kitab utamanya, beliau menjelaskan bahwa dzikir adalah obat penyembuh hati (qalb) yang paling utama dari penyakit cinta dunia (hubbud dunya) dan kelalaian.

Imam Abu Qasim Al-Qusyairi:

Menulis dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, bahwa dzikir adalah pilar utama dalam perjalanan spiritual.

Seseorang tidak akan sampai kepada Allah tanpa ketekunan dalam berdzikir.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah:

Menegaskan bahwa kebutuhan hati terhadap dzikir laksana kebutuhan ikan akan air.

Hati yang berkarat karena dosa dan kelalaian hanya dapat dibersihkan dengan dzikir kepada Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image