Ketika AI Menulis tanpa Memahami Makna
Eduaksi | 2026-07-05 12:20:23
"AI ringkaslah jurnal ini!"
Contoh kalimat seperti itu menjadi bagian dari kebiasaan mayoritas individu. Kecerdasan Buatan sering dimanfaatkan sebagai alat bantu menulis, menerjemahkan, dan menjawab berbagai pertanyaan yang seharusnya hanya dapat dijawab oleh manusia. Hasil yang diperoleh pun terkadang dapat mengagumkan dengan penggunaan bahasa runtut, pilihan diksi yang tepat, dan argumen yang tampak meyakinkan. Tetapi dibalik keunggulan dalam merangkai kata, timbul sebuah pertanyaan, apakah AI mampu memahami makna bahasa?
Jauh sebelum AI berkembang, Ferdinand de Saussure seorang ahli linguistik mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Baginya setiap tanda bahasa terdiri atas dua unsur utama, yaitu penanda (signifier) dan petanda (signified). Disebut sebagai penanda karena suatu bahasa merupakan bentuk yang dapat didengar, dibaca, dan diucapkan. Sedangkan petanda merupakan konsep yang muncul dalam pikiran seseorang ketika sebuah penanda digunakan.
Ketika seseorang mengatakan kata pohon. Kata yang terdengar hanya sebatas rangkaian bunyi pohon. Namun konsep yang lahir dalam setiap pemikiran seseorang belum tentu sama. Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai jenis pohon, ada yang membayangkan pohon mangga di halaman rumah, ada juga yang membayangkan pohon beringin rindang di alun-alun kota. Hal tersebut menunjukkan sebuah penanda yang sama, namun petandanya dapat berbeda karena disebabkan oleh pengalaman, lingkungan, dan ingatan setiap individu.
Hal serupa pun sering terjadi ketika mendengar kata rumah. Bagi beberapa orang, rumah dapat diartikan hanya sekedar bangunan tempat tinggal. Tetapi bagi individu lainnya, rumah memiliki arti yang lebih luas seperti kenangan masa kecil, kehangatan keluarga, bahkan kerinduan di kampung halaman. Makna tersebut tidak hanya dipahami secara kamus, melainkan juga dari pengalaman hidup setiap individu.
Bagian itulah yang menjadi perbedaan signifikan antara pemikiran manusia dengan AI. Ketika memahami manusia sebuah kata, mereka tidak hanya mengenal bentuk-bentuk katanya, tetapi juga menghubungkannya berdasarkan pengalaman, emosi, nilai budaya, dan konteks sosial yang pernah dialami. Namun sebaliknya, AI hanya bekerja melalui pengenalan pola hubungan antarkata berdasarkan data yang sangat besar. AI dapat menebak kata apa yang sering muncul dalam sebuah kalimat, tetapi tidak memiliki pengalaman hidup yang menjadi dasar terbentuknya sebuah makna.
Dapat dicontohkan ketika diminta menjelaskan arti kata ibu, AI hanya dapat menyusun sebuah definisi yang sangat baik berdasarkan pola data. AI tidak pernah mendapatkan pengalaman dipeluk seorang ibu, merasakan masakan ibu, dan kehilangan sosok ibu, sehingga tidak dapat memaknai kata ibu berdasarkan sebuah pengalaman.
Hal tersebut memaknai bahwa AI adalah sebuah alat yang membantu berbagai aktivitas manusia seperti mencari informasi, menyusun draf tulisan, hingga memperoleh data. Namun permasalahan yang hadir adalah ketika kemampuan menghasilkan bahasa yang dianggap alami, kerapkali membuat kita lupa bahwa bahasa tidak hanya sekedar urusan penyusunan kata. Bahasa adalah hasil interaksi manusia dengan dunia yang ia jalani. Fenomena tersebut menjadi teguran bahwa kemampuan berbahasa seseorang tidak dapat diukur hanya melalui kefasihan penyusunan kalimat. Ketika dua individu mampu mengucapkan kata yang sama, namun memaknainya secara berbeda. Begitu juga dengan AI yang hanya mampu menghasilkan sebuah jawaban masuk akal, namun belum tentu dapat dipahami nuansa makna yang terkandung di dalamnya. Makna akan selalu mengandalkan konteks, pengalaman, dan hubungan antarmanusia.
Seringnya kasus dipahami kesalahpahaman terhadap perbedaan pemahaman yang diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan singkat yang dapat dianggap sebagai lelucon oleh satu orang, namun terasa menyakitkan oleh orang lain. Suatu kata yang dianggap hal biasa di suatu daerah dapat berbeda maknanya jika di daerah lain. Fenomena tersebut menampilkan bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dia selalu hidup bersama pengalaman para penuturnya.
Kemajuan teknologi idealnya mampu memberi kita kesempatan untuk semakin memahami apa yang membuat manusia berbeda dengan AI. Mesin dianggap dapat menghasilkan jutaan kalimat dalam hitungan detik, tetapi manusialah yang memberi makna pada setiap kata melalui pengalaman, ingatan, dan kehidupan yang dijalani.
Bentuk inilah yang menjadi sebuah pelajaran yang bermakna dari pemikiran Saussure di tengah perkembangan teknologi. Di balik kata setiap yang dibaca atau didengar, akan selalu ada makna yang dibangun dari pengalaman manusia. AI mungkin mampu membantu dalam menemukan kata-kata, tetapi dalam memahami seorang makna tetap menjadi kemampuan yang menuntut kepekaan, konteks, dan kemanusiaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
